Senin 14 Mar 2022 18:18 WIB

Cara Cegah Penyebaran Covid-19 dengan Libatkan Siswa Sebagai Satgas

PTM 100 persen dilakukan secara merata untuk 758 siswa.

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Muhammad Fakhruddin
Pemerintah Kota (Pemkot) Malang meninjau pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di salah satu sekolah negeri Kota Malang, Senin (14/3/2022). PTM resmi baru dilakukan kembali per 14 Maret 2022 setelah sempat dialihkan secara daring selama sebulan akibat Covid-19 omikron. Wilda Fizriyani
Foto: Republika/Wilda Fizriyani
Pemerintah Kota (Pemkot) Malang meninjau pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di salah satu sekolah negeri Kota Malang, Senin (14/3/2022). PTM resmi baru dilakukan kembali per 14 Maret 2022 setelah sempat dialihkan secara daring selama sebulan akibat Covid-19 omikron. Wilda Fizriyani

REPUBLIKA.CO.ID,MALANG -- Sejumlah sekolah yang berada di bawah naungan Pemerintah Kota (Pemkot) Malang telah mulai melaksanakan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) 100 persen kembali, Senin (14/3/2022). Hal ini tak terkecuali turut dilaksanakan di SMP Negeri (SMPN) 8 Kota Malang.

Kepala SMPN 8 Kota Malang, Anny Yulistyowati mengatakan, PTM 100 persen dilakukan secara merata untuk 758 siswa. Sistem pembelajaran ini dipastikan akan terus dilanjutkan karena guru dan siswa menghendakinya. "Lebih mudah bagi guru, anak-anak juga. Karena kalau ada permasalahan apapun, bisa langsung ditanyakan ke gurunya," kata Anny saat ditemui wartawan di SMPN 8 Kota Malang, Senin (14/3/2022).

Baca Juga

Ada berbagai upaya yang telah disiapkan sekolah agar kasus Covid-19 bisa dicegah. Salah satunya dengan melibatkan banyak siswa untuk menjadi Satgas Covid-19 di sekolah. Hal ini berarti pemantauan protokol kesehatan (prokes) Covid-19 tidak hanya tugas guru tapi juga siswa.

Menurut Anny, para siswa yang bertugas menjadi Satgas secara bergiliran akan menjalankan piket setiap harinya. Mereka bertugas untuk mengawasi dan membantu agar pelaksanaan prokes berjalan baik di sekolah. Pelibatan ini berhasil dilaksanakan karena siswa merasa bangga bisa dilibatkan dalam kegiatan tersebut.

 

"Jadi ada perasaan bangga mungkin dilibatkan seperti itu dan memang seperti itu, mereka merasa terlibat betul dalam kegiatan ini sehingga menyemangati. Harapan juga mereka bisa berbuat sama ketika berada di lingkungan rumahnya seperti itu," ucap Anny.

Di samping pembentukan satgas, Anny juga memastikan, sarana dan prasarana di sekolah sudah terpenuhi. Sekolah secara rutin melakukan penyemprotan cairan desinfektan setiap pulang sekolah. Kemudian untuk penyemprotan skala besarnya akan rutin diadakan setiap Jumat sore.

Sekolah juga sudah menyediakan hand sanitizer di setiap pintu kelas. Lalu juga disediakan masker cadangan di masing-masing kelas. Hal ini dilakukan sebagai antisipasi terhadap siswa yang membutuhkan masker pengganti. 

Jam masuk sekolah di SMPN 8 Kota Malang mulai berlangsung pukul 07.15 WIB dan berakhir pukul 11.30 WIB. Untuk jam istirahat diletakkan setelah jam keempat mata pelajaran dengan waktu 10 menit. Pada jam tersebut, siswa diizinkan untuk makan tapi masih harus dalam pengawasan guru.

Untuk mencegah kerumunan, Anny menerapkan sistem unik saat jam pulang sekolah. Siswa yang pulangnya dengan jalan kaki diprioritaskan untuk pulang terlebih dahulu. Mereka diberikan waktu 10 menit untuk kemudian dilanjutkan dengan siswa yang dijemput oleh orang tuanya. 

"Jadi misalnya sekarang kita mulai dari kelas 7, jalan kaki 7A 7B. Sepuluh menit selesai, lalu dilanjutkan siswa kelas 7C 7D sampai habis semua. Kemudian sampai kelas 8. Setelah selesai semua kelas 9 dengan asumsi 10 menit selesai anak-anak," ungkap dia.

Setelah itu, siswa yang dijemput oleh orang tuanya diperkenankan pulang. Namun siswa harus memastikan orang tuanya sudah berada di depan sekolah. Jika belum, siswa tidak diperkenankan keluar dari area sekolah dan akan diawasi oleh guru. 

Jika masih tersisa satu atau dua siswa yang belum pulang, maka mereka akan diminta untuk keluar dari kelas. Lalu diminta menunggu di depan masjid sekolah sehingga tetap berada dalam pengawasan guru.

Untuk hari berikutnya, sekolah akan mengganti kelas yang diprioritaskan pulang terlebih dahulu. "Kalau tadi dimulainya kelas 7 dulu sekarang kelas 8, besoknya dari kelas apa, ganti-ganti mereka yang pulang dulu. Ini dilakukan supaya tidak ada komplain," jelasnya.

Di samping itu, Anny juga menegaskan, semua orang tua siswa setuju untuk mengikuti PTM kembali. Hal ini bisa terjadi lantaran orang tua kemungkinan merasa kewalahan di rumah.

Selain itu, Anny juga tidak lagi menyediakan kelas secara daring. Jika siswa tidak diperkenankan PTM, maka orang tua wajib mengambil materi dari guru di sekolah.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement