Selasa 27 Jan 2026 13:41 WIB

Banjir Landa 5 Kabupaten di Kaki Gunung Slamet, Wagub Jateng Curigai Alih Fungsi Lahan

Saat banjir banyak material pohon yang ikut terbawa arus.

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Karta Raharja Ucu
Sejumlah warga mengumpulkan kayu yang terdampar di Pantai Utara Desa Larangan, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Senin (26/1/2026). Sampah berbagai macam kayu gelondongan, diantaranya sengon dan mahoni itu menumpuk di sepanjang pantai Utara terbawa arus pascabanjir bandang dari Gunung Slamet.
Foto: ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah
Sejumlah warga mengumpulkan kayu yang terdampar di Pantai Utara Desa Larangan, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Senin (26/1/2026). Sampah berbagai macam kayu gelondongan, diantaranya sengon dan mahoni itu menumpuk di sepanjang pantai Utara terbawa arus pascabanjir bandang dari Gunung Slamet.

REPUBLIKA.CO.ID, PEMALANG -- Lima kabupaten di kaki Gunung Slamet kebanjiran. Penyebab banjir dicurigai karena alih fungsi lahan di kaki pegunungan tersebut, yakni Purbalingga, Pemalang, Tegal, Banyumas, dan Brebes. Karena itu Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin, menginginkan adanya kajian dan pemetaan soal apakah terjadi alih fungsi lahan di kawasan Gunung Slamet. 

Yasin mengatakan, berdasarkan pengamatannya meninjau beberapa lokasi terdampak banjir di wilayah kaki Gunung Slamet, memang terdapat material pepohonan yang ikut terbawa arus. Di antara material tersebut, terdapat batang-batang pohon yang memang tampak tercerabut akibat diterjang arus air. 

 

Namun Yasin turut melihat adanya batang-batang pohon yang tampaknya sudah cukup lama tumbang atau ditebang. Dia mengatakan, pada 2017, kawasan Gunung Slamet pernah dilanda kebakaran cukup besar. 

 

"Sehingga itu juga kemungkinan material-material hasil kebakaran tahun 2017 yang belum sempat dibersihkan itu terbawa (arus). Tapi tidak menutup kemungkinan juga ada peralihan alih fungsi (lahan)," kata Yasin saat meninjau Desa Penakir, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, salah satu lokasi terparah terdampak banjir, Ahad (26/1/2026). 

 

photo
Warga berada di samping bangunan yang rusak diterjang banjir bandang di Obyek Wisata Guci, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Ahad (25/1/2026). Intensitas hujan yang tinggi dan rusaknya hutan di kaki Gunung Slamet mengakibatkan tiga jembatan hanyut, lima objek wisata dan sungai rusak akibat diterjang banjir bandang pada Sabtu (24/1/2026). - (ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah)

 

Menurut dia, saat ini merupakan momen tepat untuk kembali memetakan kondisi di lereng Gunung Slamet. "Momen ini sebenarnya pas untuk bagaimana menyatukan dari lima kabupaten ini untuk berbicara bersama-sama, mengirim bersama-sama berkasnya, untuk hutan lindung benar-benar harus kita kuatkan," ucapnya.

 

"Kami juga sudah mengusulkan supaya hutan lindung ini benar-benar diperkuat lagi ke pemerintah pusat," tambah Yasin. 

 

Karena saat ini musim hujan masih berlangsung, Yasin mengimbau masyarakat Jateng, khususnya mereka yang tinggal di daerah kaki pegunungan, agar selalu waspada. "Saya berharap kepada tokoh masyarakat dan tokoh-tokoh agama, yuk kita mulai mendoakan keselamatan masyarakat Indonesia. Karena banjir ini kan berbarengan, ada di wilayah Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, hampir berbarengan di Bekasi, Banten," katanya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement