Kamis 05 Feb 2026 13:44 WIB

Psikiater Jelaskan Alasan Mengapa Ada Anak SD Punya Pemikiran Bunuh Diri

Anak usia 9–10 tahun sudah mulai memahami kematian sebagai sesuatu yang permanen.

Ilustrasi bunuh diri
Foto: Republika/Mardiah
Ilustrasi bunuh diri

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Psikiater Bidang Pengabdian Masyarakat Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia, dr. Lahargo Kembaren menyampaikan anak di usia 9-10 tahun dengan beban yang terlalu berat rentan memiliki kesimpulan ekstrem untuk mengakhiri hidupnya. Dia berkata, anak usia sekitar 9–10 tahun sudah mulai memahami kematian sebagai sesuatu yang permanen, meski pemahamannya belum matang secara emosional dan kognitif. 

"Dari sudut pandang kesehatan jiwa, anak belum mampu menimbang konsekuensi jangka panjang dengan cara berpikir yang masih hitam-putih, maka, saat tertekan, anak mudah sampai pada kesimpulan ekstrem 'Kalau aku tidak ada, masalah akan selesai'," kata Lahargo, Rabu (4/2/2026).

Baca Juga

Untuk itu, menurutnya, pencegahan harus dilakukan berlapis, tidak bisa melalui satu pihak saja. Di keluarga, perlu membangun komunikasi emosional, bukan hanya disiplin, kemudian perlu mem-validasi perasaan anak sebelum memberi nasehat, dan orang tua perlu berani mencari bantuan, bukan menahan sendiri.

"Di sekolah, guru perlu dilatih mengenali tanda-tanda stres psikologis dan melakukan pertolongan pertama pada luka psikologis (P3LP/Psychological First Aid), sistem konseling aktif, bukan reaktif, serta budaya anti-perundungan yang nyata, bukan slogan," ujar dia.

Sementara di masyarakat dan negara, lanjut dia, akses layanan kesehatan jiwa perlu diperluas dan meningkatkan literasi kesehatan mental sejak dini. "Serta membuat kebijakan yang sensitif terhadap dampak ekonomi pada keluarga," ucap Lahargo.

Kasus siswa kelas IV SD yang bunuh diri karena tidak bisa membeli alat tulis akibat himpitan ekonomi keluarga menjadi sorotan publik. Surat perpisahan yang ditulisnya kemudian menyebar yang menyebabkan masyarakat menyayangkan kejadian tersebut.

Kapolda NTT Irjen Pol Rudi Darmoko telah mengirim konselor psikologi untuk memberikan pendampingan terhadap keluarga, khususnya orang tua dari siswa kelas IV SD yang bunuh diri karena tak dibelikan buku dan pensil. "Tim sudah ke Kabupaten Ngada hari ini dan memberikan pendampingan serta penguatan bagi keluarga korban," kata Kapolda NTT di Kupang, Rabu.

Dia menjelaskan, konseling dan pendampingan akan dilakukan tim mulai Rabu (4/2/2026) sampai Ahad (8/2/2026) di Karadhara, Desa Nenowea, Kecamatan Jerubuu, Kabupaten Ngada. 

Kehidupan adalah anugerah berharga dari Allah SWT. Segera ajak bicara kerabat, teman-teman, ustaz/ustazah, pendeta, atau pemuka agama lainnya untuk menenangkan diri jika Anda memiliki gagasan bunuh diri. Konsultasi kesehatan jiwa bisa diakses di hotline 119 extension 8 yang disediakan Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Hotline Kesehatan Jiwa Kemenkes juga bisa dihubungi pada 021-500-454. BPJS Kesehatan juga membiayai penuh konsultasi dan perawatan kejiwaan di faskes penyedia layanan
sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement