Rabu 18 Mar 2026 06:00 WIB

Muhammadiyah Teguhkan Ikhtiar Peradaban Umat Islam melalui Kalender Hijriah Global Tunggal

Upaya tersebut merupakan bagian dari ijtihad penting dalam sejarah umat Islam.

Rep: Wulan Intandari/ Red: Karta Raharja Ucu
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir menyampaikan Ikhtiar Peradaban melalui Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) di Kantor PP Muhammadiyah, Yogyakarta, Senin (16/3/2026).
Foto: Republika/ Wulan Intandari.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir menyampaikan Ikhtiar Peradaban melalui Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) di Kantor PP Muhammadiyah, Yogyakarta, Senin (16/3/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA - Di tengah kondisi dunia yang tidak menentu dan penuh ketidakpastian, Pimpinan Pusat Muhammadiyah menegaskan komitmennya untuk terus berkontribusi dalam membangun peradaban umat. Salah satu ikhtiar besar yang terus didorong adalah penerapan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) sebagai upaya mewujudkan kesatuan umat Islam dalam penentuan waktu ibadah.

Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Sayuti, menekankan pentingnya sinergi antara Muhammadiyah dan media massa dalam menyebarkan gagasan serta kegiatan organisasi kepada masyarakat luas. Menurutnya, kerja dakwah dan penyebaran pemikiran Persyarikatan tidak akan berjalan maksimal tanpa dukungan media, terutama dalam menyosialisasikan gagasan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Bagi Muhammadiyah, gagasan tersebut tidak hanya berkaitan dengan persoalan teknis penanggalan, melainkan merupakan bagian dari upaya besar membangun kesatuan umat Islam di seluruh dunia.

Baca Juga

"Dukungan media sangat penting agar gagasan ini dapat dipahami secara luas oleh masyarakat," ujarnya, dalam acara konferensi pers yang diselenggarakan di Kantor PP Muhammadiyah, Senin (16/3/2026).

KHGT sebagai Ijtihad Peradaban

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, turut menegaskan Muhammadiyah terus melakukan berbagai ikhtiar agar konsep Kalender Hijriah Global Tunggal dapat diterapkan secara luas, baik di Indonesia maupun di dunia Islam. Haedar mengakui, upaya tersebut merupakan bagian dari ijtihad penting dalam sejarah umat Islam.

Dia menilai, keberadaan kalender hijriah yang seragam merupakan kebutuhan mendesak bagi umat Islam yang saat ini tersebar di berbagai belahan dunia. "Sudah waktunya umat Islam memiliki satu kalender bersama di tingkat global. Dengan kalender itu kita bisa memulai satu Ramadan, satu Syawal, dan satu Zulhijah secara bersama-sama tanpa perbedaan yang berlapis-lapis seperti selama ini," ujarnya.

Haedar mengatakan melalui KHGT tersebut, umat Islam di seluruh dunia akan memiliki satu sistem penanggalan yang sama. Artinya, satu hari dan satu tanggal hijriah berlaku secara serentak di seluruh dunia, meskipun waktu pelaksanaan ibadah di masing-masing wilayah dapat berbeda karena perbedaan zona waktu.

Sebagai contoh, Haedar menyinggung praktik salat Jumat yang selama ini dijalankan umat Islam di berbagai negara. Meski dilaksanakan pada waktu yang berbeda sesuai wilayah masing-masing, umat Islam tetap melaksanakannya pada hari yang sama, yaitu hari Jumat.

"Di seluruh dunia umat Islam melaksanakan salat Jumat pada hari yang sama, hanya waktunya saja yang berbeda. Prinsip yang sama juga bisa diterapkan dalam kalender hijriah global," ucap Haedar.

Lebih jauh, Haedar menyebut, terwujudnya kalender hijriah global merupakan 'utang peradaban' umat Islam yang perlu diselesaikan bersama. Menurutnya, sistem kalender yang terintegrasi secara global merupakan bagian dari kemajuan peradaban modern yang juga perlu dimiliki oleh umat Islam.

Haedar menegaskan, gagasan tersebut tidak semata-mata untuk kepentingan Muhammadiyah, melainkan untuk seluruh umat Islam di dunia. "Kalender global itu bukan milik Muhammadiyah. Bahkan kalau perlu nama Muhammadiyah tidak perlu disebut. Yang penting umat Islam memiliki satu kalender bersama," katanya.

Selain berbasis pada syariat dan wahyu ilahi, menurut Haedar, pembangunan peradaban umat juga perlu didukung oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam konteks itulah, penentuan kalender hijriah berbasis perhitungan ilmiah menjadi sangat penting.

Berita Lainnya

Rekomendasi