Senin 30 Mar 2026 22:33 WIB

Percakapan Terakhir Praka Farizal Rhomadhon dengan Sang Ayah Sebelum Gugur di Lebanon

Sang ayah mengaku tidak memiliki firasat apa pun.

Rep: Wulan Intandari/ Red: Karta Raharja Ucu
Senam (60 tahun) berbaju batik oranye, ayahanda Praka Farizal Rhomadhon, menerima pelayat yang datang ke rumahnya di Kulonprogo, DIY, Senin (30/3/2026).
Foto: Wulan Intandari/ Republika
Senam (60 tahun) berbaju batik oranye, ayahanda Praka Farizal Rhomadhon, menerima pelayat yang datang ke rumahnya di Kulonprogo, DIY, Senin (30/3/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, KULON PROGO -- Duka mendalam menyelimuti keluarga almarhum Praka Farizal Rhomadhon, prajurit TNI yang gugur saat menjalankan misi perdamaian di Lebanon. Dijumpai di rumah duka di Ledok, Lendah, Kulon Progo, sang ayah, Senam (60 tahun) mengenang komunikasi terakhirnya dengan sang anak yang terjadi sehari sebelum Farizal berpulang. Dengan suara pelan, Senam menceritakan percakapan singkat tersebut. 

Komunikasi terakhir keduanya berlangsung selepas waktu Maghrib. Saat itu, tidak ada pembicaraan panjang karena terkendala sinyal.

Baca Juga

Wingi sonten bar Maghrib. Sak derenge kejadian niku. Bar niku mboten kenging komunikasi malih (kemarin setelah Maghrib. Sebelum kejadian itu. Setelah itu tidak ada komunikasi -- bahasa Jawa),” ujar Senam di rumah duka, Senin (30/3/2026), malam.

Dalam percakapan singkat itu, Farizal hanya menyampaikan kondisi sinyal orang tuanya yang buruk saat sedang telpon. “Sinyalmu elek yo, Pak. Mung ngenten niku sampun,” kata Senam.

Senam mengaku tidak memiliki firasat apa pun terkait kejadian yang menimpa putranya. “Mboten oten firasat (Tidak ada firasat apa-apa -Red),” katanya.

 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Republika Online (@republikaonline)

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement