REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Musim kemarau di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) diprediksi mulai terjadi pada akhir April 2026. Data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan ada 44 kapanewon di DIY akan mulai memasuki awal musim kemarau pada periode tersebut.
Pemerintah daerah pun mulai menyiapkan langkah antisipasi, termasuk distribusi ribuan tangki air bersih. Kepala BPBD DIY, Agustinus Ruruh Haryata mengatakan, puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus dan berlangsung selama 16–21 dasarian atau sekitar 5–7 bulan.
"Awal musim kemarau diprediksi terjadi pada dasarian III April 2026, sebagian wilayah pada dasarian I Mei 2026," kata Ruruh dalam keterangan tertulisnya, Senin (20/4/2026).
Untuk mengantisipasi potensi kekeringan, BPBD DIY mulai menyiapkan distribusi air bersih, terutama di wilayah yang rawan terdampak. Wilayah Kabupaten Gunungkidul menjadi fokus utama distribusi karena selama ini, kawasan tersebut kerap mengalami kekeringan saat musim kemarau.
Sementara itu, untuk wilayah Kabupaten Sleman dan Kota Yogyakarta belum merencanakan pengadaan tangki air karena relatif tidak mengalami kekeringan ekstrem. "Ada 1.500 tangki air mulai bulan Juni 2026 untuk Gunungkidul. Bantul menyiapkan 400 tangki air. Kulon Progo untuk kesiapsiagaan awal disiapkan 20 tangki air," kata Ruruh.
"Kota Yogyakarta belum pernah mengalami kekeringan ekstrem namun potensi penurunan debit air tanah tetap perlu diantisipasi. Pembangunan sumur resapan telah dilakukan di sepanjang Jalan Parangtritis sebagai upaya konservasi air tanah," ungkapnya.