Sabtu 25 Apr 2026 21:43 WIB

Dibayangi Kelangkaan Stok, Pengecer Gas LPG 3Kg di Kota Yogya Mulai Resah

Penjual khawatir tak kebagian menjual gas melon dari pangkalan.

Rep: Wulan Intandari/ Red: Karta Raharja Ucu
Gas melon atau gas 3 kg.
Foto: EPA-EFE/HOTLI SIMANJUNTAK
Gas melon atau gas 3 kg.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Kekhawatiran akan potensi kelangkaan gas melon atau LPG 3 kilogram (kg) mulai dirasakan para pengecer di Kota Yogyakarta. Di tengah kenaikan harga LPG nonsubsidi, pergeseran konsumsi ke gas melon dikhawatirkan memicu lonjakan permintaan yang tidak diimbangi ketersediaan stok di tingkat bawah.

Harga yang perlahan naik dan stok yang dibatasi membuat pedagang eceran waswas, terlebih jika semakin banyak masyarakat beralih dari LPG nonsubsidi yang naik harganya ke LPG 3 kg bersubsidi. Salah satu yang mengungkapkan kekhawatiran ini adalah Yati, pengecer LPG 3 kg di Gowongan, Kota Yogyakarta.

Baca Juga

Dia khawatir tidak kebagian menjual gas melon dari pangkalan karena diambil warga yang nonsubsidi. Dengan jumlah yang terbatas, perempuan 67 tahun ini juga mengaku tidak bisa menyimpan stok banyak karena pembelian dari pangkalan dibatasi.

"Sekarang ambil di pangkalan sudah Rp19 ribu. Saya jual ke pembeli Rp21 ribu," ujar Yati di Yogyakarta, Jumat (24/4/2026).

Selisih harga tersebut membuat keuntungan yang didapatnya tidak seberapa. Sehari maksimal dia hanya mendapatkan keuntungan Rp6.000 hingga Rp10.000 dari berjualan gas melon. Padahal bagi Yati, menjual LPG 3 kg menjadi sumber tambahan penghasilan yang penting bagi keluarganya. 

"Untungnya sedikit, tapi lumayan buat tambahan. Cuma sekarang stok dibatasi, tidak boleh beli banyak, kalau nanti diborong yang nonsubsidi, gimana saya bisa jualan," katanya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement