REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Kuliah di UNU Yogyakarta membuka kesempatan bagi Kirmanto, anak dari keluarga petani di Pemalang, untuk menjadi profesional di perusahaan multinasional. Satu-satunya sarjana dari delapan bersaudara, ia menjadi harapan untuk mengangkat taraf hidup keluarga.
Kirmanto masih ingat betul kegembiraan yang dirasakan saat diwisuda dengan IPK
cumlaude 3,83 sebagai lulusan Prodi Teknologi Hasil Pertanian (THP) UNU Yogyakarta
pada Desember 2024. Kebahagiaan semakin membuncah tatkala hanya berselang dua
bulan kemudian, tepatnya Februari 2025, ia diterima bekerja di perusahaan ternama.
Tak tanggung-tanggung, Kirmanto lolos seleksi di sebuah industri pangan berskala global, PT Nestlé Indonesia. Ia ditempatkan di Bandaraya Factory di Batang, Jawa Tengah, sebagai fresh milk analyst yang memeriksa kualitas dan kadar nutrisi pada produk susu.
“Saya senang karena ini hasil perjuangan saya selama ini. Tapi yang lebih senang lagi
adalah orang tua yang sudah sepuh (tua). Saya satu-satunya sarjana dari delapan bersaudara dan sekarang bekerja di Nestlé yang lokasinya dekat dengan rumah orang tua. Jadi kalau libur saya bisa pulang,” tutur Kirmanto, Jumat (8/5/2026).
Anak ke-7 dari 8 bersaudara kelahiran Pemalang, 20 Juni 2000 ini menghabiskan masa
kecilnya di Desa Belik, Kecamatan Belik, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Kedua
orang tuanya adalah petani tamatan SD. Seluruh saudaranya tak ada yang masuk perguruan tinggi. Namun ia punya mimpi besar untuk menjadi seorang Menteri Pertanian atau minimal pengusaha pertanian sukses.
Demi mengejar mimpi itu, selepas lulus dari SMAN 1 Belik, Kirmanto mengikuti Seleksi
Bersama Masuk Perguruan Tinggi Nasional (SBMPTN) yang tesnya dipusatkan di
Purwokerto. Menurutnya, kuliah di PTN lebih terjangkau dan tak membebani perekonomian keluarga. Namun jauh-jauh berkendara dari Pemalang ke Purwokerto, ia harus menelan pil pahit: hasil SBMPTN kemudian menunjukkan ia gagal masuk PTN.
Tak patah arang, Kirmanto harus menunggu satu tahun untuk mengikut seleksi PTN
lagi. Kali ini ia menyiapkan diri lebih baik. Namun pada awal 2020, pandemi Covid-19
menyerang. Mobilitas ke luar wilayah dibatasi. Lagi-lagi rencananya kuliah di kampus
negeri buyar.
“Waktu itu Bapak melarang saya pergi-pergi karena masih Covid-19. Jadi saya tidak
bisa ikut seleksi PTN,” kenangnya.
Kirmanto menemukan titik terang saat mendengar kabar dari seorang teman: UNU
Yogyakarta membuka Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) dengan beasiswa 100
persen. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, Kirmanto percaya beasiswa itu menjadi
peluang untuk berkuliah tanpa terkendala biaya. Apalagi seluruh pendaftaran dapat
dilakukan secara daring.
“Saya mendaftar, melengkapi semua persyaratan, dan mendapat beasiswa full 100
persen selama kuliah dari UNU Yogyakarta dengan skema Kartu Indonesia Pintar (KIP)
Kuliah, termasuk uang saku Rp 700 ribu per bulan,” paparnya.
Meski memperoleh beasiswa, Kirmanto berupaya tetap hidup mandiri. Ia bergabung
sebagai relawan di Palang Merah Indonesia (PMI) Yogyakarta. Tugasnya, menerima
berbagai laporan kejadian kecelakaan hingga bencana di posko PMI. "Kadang kalau
kondisinya benar-benar genting, saya juga harus ke lapangan,” kata dia yang menerima
honor dari kegiatan part time ini.
Di UNU Yogyakarta, Kirmanto mantap memilih Prodi THP Fakultas Industri Halal. Karena masih di tengah situasi pandemi, kuliah berlangsung daring. Ia baru hadir langsung di kampus pada semester 3 dan 4 untuk melaksanakan praktikum. Kuliah dapat dilalui dengan mulus dalam delapan semester.
Menurutnya, UNU Yogyakarta memberi bekal penting untuk masuk ke dunia profesional. Bukan hanya secara keilmuan, melainkan juga berupa keterampilan guna berkompetisi di dunia kerja. Hal ini terbukti setelah ia lulus dan melamar ke sejumlah perusahaan.
“Sebelum wisuda, kami didampingi oleh Direktorat Employability untuk coaching seperti
membuat CV, menghadapi wawancara kerja, dan menyiapkan portofolio di media sosial. Sewaktu wawancara dengan user, saya mampu menjelaskan analisis susu seperti yang pernah saya lakukan di kuliah mikrobiologi di UNU Yogyakarta. Semua ini membantu saya menembus seleksi di PT Nestlé Indonesia," paparnya.
Dari menyebar lamaran di sejumlah perusahaan ternama, Kirmanto diterima di tiga
korporat ternama. PT Nestlé Indonesia menjadi pilihan karena perusahaan dengan fasilitas pengolahan pangan serba modern ini telah menjalin kemitraan dengan UNU
Yogyakarta. Kirmanto menyatakan, selama bekerja di PT Nestlé Indonesia, ia semaksimal mungkin menerapkan ilmu dan skill yang diperoleh di bangku kuliah, serta terus beradaptasi dengan dunia industri yang terus berkembang. Selain itu, saat ini ia ingin selalu dekat orang tuanya. Saban hari libur, dari tempat kerjanya di Batang Kirmanto selalu menyempatkan pulang ke rumah orang tuanya di Pemalang.
"Sebab sekarang bapak ibu sudah berusia 70-an tahun dan tidak bekerja. Jadi hasil dari
bekerja ini saya tabung dan saya transfer untuk keluarga. Harapannya ke depan bisa
memberangkatkan orang tua umroh," kata Kirmanto dengan suara bergetar.
Kapasitas profesional Kirmanto diakui oleh Norman Tri Handono, Factory Manager
Nestlé Bandaraya Factory. Menurutnya, mahasiswa UNU Yogyakarta memiliki
pemahaman dasar yang baik terkait keamanan pangan, teknologi pemrosesan, dan
standar kualitas industri pangan.
“Mereka juga mampu bekerja dalam tim, memahami efisiensi dan kualitas produksi,
memiliki karakter disiplin, penuh inisiatif, serta mampu untuk terus belajar dan punya
kemauan menyerap nilai-nilai kerja di PT Nestlé Indonesia. Dengan karakter santun dan
mencerminkan nilai keislaman, kami percaya lulusan UNU Yogyakarta akan dicari oleh
banyak industri,” ujar Norman dalam wawancaranya kepada tim media UNU
Yogyakarta.
Dalam kesempatan terpisah, Wakil Rektor Bidang Kerjasama dan Pendanaan Kreatif, Ian Agisti Dewi Rani mengatakan mahasiswa UNU Yogyakarta memang disiapkan untuk siap terjun ke dunia profesional sejak masuk di semester awal.
“Fakultas dan prodi di UNU Yogyakarta mungkin sama namanya dengan fakultas dan
prodi di kampus lain, tetapi pendekatan kami berbeda. Diferensiasi kami jelas. Sejak
semester satu, mahasiswa UNU Yogyakarta sudah dipersiapkan menjadi professional,
bahkan sejak awal sudah diarahkan punya pengalaman kerja," tuturnya.
Selain berkuliah, mahasiswa juga dibekali berbagai pelatihan untuk meningkatkan soft
skill. UNU Yogyakarta mengembangkan Direktorat Employability dan program Student
Journey untuk mendampingi mahasiswa memetakan minat, bakat, dan potensi karirnya
di masa depan serta menghubungkannya dengan dunia industri untuk memperoleh
kesempatan magang.
“Jadi ketika mereka lulus mahasiswa UNU Yogyakarta bukan sekadar lulus dan mampu
menyelesaikan tugas-tugas akademik, tetapi juga mampu melaksanakan tugas-tugas
profesionalnya," kata Ian.