REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Wakil Gubernur Jawa Tengah (Jateng) yang juga tokoh Nahdliyin, Taj Yasin Maimoen, mengakui perihal masih adanya kekurangan dalam dunia pendidikan Islam di Tanah Air. Menurut putra ulama besar KH Maimun Zubair atau Mbah Moen (1928-2019) itu, lembaga pendidikan pesantren kini tak bersih dari praktik kekerasan seksual.
Pernyataan ini dilontarkan untuk menanggapi munculnya beberapa kasus di Jateng. Wakil Gubernur (Wagub) mengatakan, dirinya sempat mendiskusikan masalah kekerasan seksual di pondok pesantren (ponpes) dengan beberapa pihak pemerintah provinsi, termasuk Jawa Timur.
"Saya mengajak bicara ke pondok pesantren, kita tata nih. Satgasnya bagaimana ke depannya antisipasinya. Jadi sudah ada satgasnya sebenarnya, akan tetapi pencegahannya yang harus kita kuatkan," ucap sosok yang akrab disapa Gus Yasin itu kepada awak media di Kota Semarang, Jateng, pada Kamis (21/5/2026).
Ia mengakui, memang ada oknum-oknum di lingkungan ponpes yang menjadi pelaku kekerasan seksual. Keberadaan segelintir itulah yang menjadi pemicu masalah.
"Kita enggak mungkin bicara semua itu bersih. Kemungkinan itu ada di lembaga-lembaga itu. Jadi sebenarnya, oknum-oknum inilah yang perlu kita tangani," ujar Gus Yasin.
Selain itu, ia pun menyoroti penanganan laporan kasus dugaan kekerasan seksual di lingkungan ponpes. Dalam hal ini, Gus Yasin berharap bahwa aparat penegak hukum dapat lebih responsif dalam menangani laporan.
"Jadi urusan oknumnya ini biar nanti dari penegak hukum berjalan. Laporan-laporannya saya berharap ini juga benar harus tuntas. Tetapi, tugas kita tidak kalah penting adalah mendampingi korban-korban itu untuk terus menatap ke depan," jelasnya.
Ia memastikan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng akan menguatkan upaya pencegahan kekerasan seksual di lingkungan ponpes.
"Insya Allah Pemprov Jawa Tengah saat ini mengagendakan akan mengundang pondok-pondok pesantren atau lembaga-lembaga yang lain untuk penguatan pencegahannya supaya tidak terjadi lagi," kata dia.
Dalam sebulan terakhir, setidaknya terdapat dua kasus kekerasan seksual terhadap santriwati yang terjadi di lingkungan ponpes di Jateng. Kasus di Ponpes Ndholo Kusumo, Pati, menjadi yang cukup menyita perhatian.