Sabtu 30 May 2026 16:01 WIB

Pameran 'Suluh Bangsa' Hidupkan Warisan Pemikiran Buya Syafii Maarif di Tengah Krisis Moral

Pemikiran Buya Syafii tetap relevan di tengah dunia yang dipenuhi kebisingan medsos.

Rep: Wulan Intandari/ Red: Karta Raharja Ucu
Pameran seni rupa bertajuk Suluh Bangsa yang menjadi bagian dari peringatan Bulan Buya Syafii Maarif dan menghadirkan karya-karya para maestro serta seniman tanah air dibuka Sabtu (23/5/2026).
Foto: Republika/ Wulan Intandari
Pameran seni rupa bertajuk Suluh Bangsa yang menjadi bagian dari peringatan Bulan Buya Syafii Maarif dan menghadirkan karya-karya para maestro serta seniman tanah air dibuka Sabtu (23/5/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, BANTUL -- Dalam rangka mengenang sekaligus merawat pemikiran guru bangsa Ahmad Syafii Maarif, Kiniko Art Room bersama Maarif Institute menghadirkan pameran seni rupa bertajuk Suluh Bangsa. Pameran yang digelar pada 23 Mei hingga 7 Juni 2026 itu menjadi bagian dari peringatan Bulan Buya Syafii Maarif dan menghadirkan karya-karya para maestro serta seniman tanah air.

Mengusung tema "Menjaga Suluh, Merawat Bangsa, Tak Ada Kayu, Jenjang Dikeping", pameran ini tidak sekadar menjadi ruang apresiasi seni, tetapi juga ruang refleksi atas krisis keteladanan yang dinilai semakin terasa di tengah kehidupan sosial dan politik saat ini. Kurator pameran, Heru Joni Putra, dalam pengantar pameran menyebut sosok Buya Syafii dijadikan titik tolak untuk membaca kembali pentingnya integritas moral, kejernihan intelektual, dan keberpihakan sosial di tengah kegaduhan informasi serta dominasi budaya pencitraan. 

Baca Juga

"Guru bangsa adalah simbol kebutuhan kolektif masyarakat terhadap sosok yang mampu menjembatani pengetahuan, tanggung jawab etik, dan keberanian moral dalam kehidupan bersama," ujarnya, Sabtu (24/5/2026), malam.

Sembilan belas perupa terlibat dalam pameran ini, di antaranya Arahmaiani, Tisna Sanjaya, Ugo Untoro, hingga Wimo Ambala Bayang. Ragam karya yang ditampilkan menghadirkan pembacaan reflektif tentang rapuhnya ruang etik, keterputusan sosial, hingga kerinduan masyarakat terhadap figur keteladanan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement