REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Tengah (Jateng), Andi Riena Sari, mengakui pelaku usaha, khususnya di Jateng, mengalami tekanan biaya produksi akibat pelemahan rupiah terhadap dolar AS. Hal tersebut terutama dirasakan mereka yang pasokan bahan bakunya bergantung pada impor.
"Memang intinya mereka (pelaku usaha) menghadapi tekanan terkait dengan biaya atau bahan baku yang mungkin semakin mahal karena memang sebagian masih impor. Jadi memang terkait dengan pelemahan nilai rupiah ini, dampaknya memang lebih pada kenaikan biaya produksi," kata Riena di Kota Semarang, Jumat (26/6/2026).
Namun, dia menyebut sejauh ini outlook BI untuk 2026 masih memperlihatkan tren yang membaik. "Karena memang pelaku usaha, termasuk juga konsumen, berdasarkan hasil survei kami, masih optimis. Dan sebenarnya tugas kami di sini adalah mengelola ekspektasi itu," ujarnya.
Menurut Riena, ekspektasi yang optimistis perlu memperoleh dukungan. "Karena kalau kita berangkat dari pesimis saja, berarti agak malas ngapa-ngapain juga," ucapnya.
"Tapi kalau kita masih optimis, mudah-mudahan kita bisa bersama-sama bergerak untuk mewujudkan optimisme itu supaya lebih riil lagi," tambah Riena.
Dia pun sempat mengomentari beberapa aksi unjuk rasa mahasiswa di depan Kantor BI Jateng baru-baru ini. "Intinya demo ini sebenarnya mereka lebih ingin memperoleh update sebenarnya terkait dengan kondisi sebenarnya seperti apa sih," katanya.
Menurut Riena, para mahasiswa yang berdemo mempertanyakan transparansi dari BI terkait kondisi ekonomi. "Kayaknya mungkin mereka belum pernah mengakses IG dan website-nya Bank Indonesia. Karena sebenarnya semua informasi pun sudah kita update melalui kanal-kanal komunikasi yang sudah disampaikan," ujarnya.