REPUBLIKA.CO.ID, GUNUNGKIDUL - Kekeringan kembali melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Gunungkidul saat musim kemarau berlangsung. Salah satunya dirasakan warga di Padukuhan Kemesu, Kalurahan Semugih, Kapanewon Rongkop, yang setiap tahun harus berjuang mendapatkan pasokan air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Keterbatasan sumber air membuat masyarakat harus membeli air secara swadaya maupun mengandalkan bantuan dropping air dari pemerintah. Salah satu warga, Wakino, mengatakan keluarganya bersama sejumlah warga lain harus membeli air bersih secara patungan. Dalam satu pembelian, satu tangki air dibanderol sekitar Rp120 ribu dan digunakan oleh empat hingga lima keluarga.
"Sudah beli dua kali. Satu tangki harganya sekitar Rp120 ribu," katanya belum lama ini.
"Ya kita patungan. Biar ndak banyak pengeluaran. Airnya dipakai bersama beberapa keluarga untuk kebutuhan mandi, minum, mencuci, sampai memberi minum sapi dan kambing," ucapnya.
Ia mengatakan, warga Padukuhan Kemesu selama ini sangat bergantung pada air hujan karena tidak memiliki sumber air yang memadai. Selain membeli secara mandiri, warga juga disebutnya rutin menerima bantuan dropping air dari pemerintah. Air tersebut ditampung di bak penampungan sebelum dimanfaatkan oleh masyarakat untuk memasak, mandi, mencuci, hingga memberi minum ternak.
"Sudah rutin ada bantuan dan ini sangat membantu warga untuk mendapatkan air bersih," katanya.