Sabtu 08 Aug 2026 23:12 WIB

Efek El Nino Diprediksi Hingga 2027, 49 Juta Orang Berisiko Hadapi Rawan Pangan

Warga terdampak menyebar di benua Afrika, Amerika, hingga Asia.

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Karta Raharja Ucu
Petani mengambil air dari sumur untuk menyiram tanaman tembakau di Lengkong, Nganjuk, Jawa Timur, Senin (3/8/2026). Sejumlah petani tembakau di kawasan tersebut saling berbagi air sumur untuk menjaga pasokan air irigasi dan mempertahankan produktivitas lahan di tengah terbatasnya ketersediaan air selama musim kemarau yang dipicu El Nino.
Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Mada
Petani mengambil air dari sumur untuk menyiram tanaman tembakau di Lengkong, Nganjuk, Jawa Timur, Senin (3/8/2026). Sejumlah petani tembakau di kawasan tersebut saling berbagi air sumur untuk menjaga pasokan air irigasi dan mempertahankan produktivitas lahan di tengah terbatasnya ketersediaan air selama musim kemarau yang dipicu El Nino.

REPUBLIKA.CO.ID, ROMA — Program Pangan Dunia (WFP) memperingatkan bahwa pola cuaca El Nino yang menguat dapat mendorong setidaknya 49 juta orang ke kerawanan pangan akut pada akhir 2027. Warga terdampak menyebar di benua Afrika, Amerika, hingga Asia.

Menurut WFP, El Nino diperkirakan akan mencapai puncaknya antara bulan September-Desember 2026. Namun dampaknya kemungkinan bakal berlanjut sepanjang 2027 dan berimbas pada terganggunya panen pertanian. 

Baca Juga

Berdasarkan analisis terbarunya, WFP mengungkapkan, El Nino diprediksi akan memperburuk kerawanan pangan secara signifikan di 45 negara yang sudah berjuang melawan kelaparan. Hal itu dapat meningkatkan jumlah orang dengan rawan pangan dari sekitar 225 juta menjadi 274 juta.

"El Nino adalah ancaman besar bagi keamanan pangan jutaan orang yang sudah rentan," kata Penjabat Direktur Eksekutif WFP, Carl Skau, dalam pernyataannya, Rabu (5/8/2026), dikutip laman Anadolu Agency.

 

Berita Lainnya

Rekomendasi