REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) mendorong Car Free Day (CFD) tidak sekadar menjadi ruang berkumpul atau aktivitas rekreasi masyarakat, tetapi benar-benar dimanfaatkan sebagai arena untuk membangun kebiasaan berolahraga.
Dorongan tersebut disampaikan Asisten Deputi Olahraga Masyarakat Kemenpora RI Yayat Suyatna dalam rangkaian ASEAN Sports Day (ASD) 2026 yang digelar di Yogyakarta, Ahad (6/9/2026). Menurutnya, CFD menjadi salah satu ruang yang mudah diakses masyarakat untuk membiasakan diri aktif bergerak karena olahraga yang dilakukan tidak harus mahal.
"Olahraga itu tidak harus yang mahal. Kita ingin menghadirkan olahraga yang mudah, murah, meriah, menyenangkan, membahagiakan, salah satunya melalui arena car free day," kata Yayat.
Yayat mengatakan, kampanye gemar berolahraga perlu diperkuat karena tingkat masyarakat Indonesia yang aktif berolahraga tercatat masih sekitar 30 persen. Padahal, pemerintah menargetkan pada tahun 2029 sebanyak 50 persen masyarakat Indonesia aktif berolahraga.
Patokan aktivitas fisik yang digunakan adalah 150 menit dalam sepekan, sesuai rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Jika dibagi dalam lima hari, masyarakat cukup melakukan aktivitas fisik sekitar 30 menit setiap hari.
Akan tetapi, tantangan terbesar justru terjadi ketika anak muda memasuki usia mahasiswa. Aktivitas fisik yang sebelumnya relatif terjaga ketika masih duduk di bangku sekolah cenderung menurun setelah lulus SMA. Karena itu, kebiasaan berolahraga harus dibangun kembali dan dijadikan bagian dari gaya hidup.
"Kita menghadapi kendala ketika generasi muda ini mager, malas gerak. Ini yang harus kita rutinkan. Jangan sampai kita mau olahraga itu setelah sakit," ujarnya.
Dorong Tata Kelola CFD
Kemenpora, lanjut Yayat, akan mendorong daerah untuk memperbaiki tata kelola CFD agar lebih berbasis olahraga. Pemerintah daerah nantinya dapat menggunakan panduan yang memuat pembagian zona, fasilitas, pelayanan hingga penataan pelaku UMKM.
"Tata kelolanya itu harus dirapikan. Jadi jangan sampai nanti masyarakat berolahraga karena ruangnya penuh dengan warung begitu. Jadi ruang olahraganya jadi terganggu begitu. Jadi ingin dipastikan ada jalur olahraganya ya, untuk jalan, untuk sepeda, untuk lari, misalkan seperti itu dan disabilitas," ucapnya.
"Nah, harapan kami juga Pemda memperluas atau menambah jalurnya begitu," kata Yayat.
Penataan tersebut tidak berarti menghilangkan aktivitas ekonomi di CFD. Sebaliknya, UMKM tetap dapat hadir tetapi ditempatkan pada zona yang sesuai sehingga tidak mengganggu ruang masyarakat berolahraga.
Selain penataan fisik, Kemenpora juga mendorong adanya pendataan pengunjung CFD secara lebih presisi. Data tersebut mencakup jumlah pengunjung, jenis kelamin, kelompok usia hingga jenis olahraga yang dilakukan.
Pendataan itu dinilai penting untuk melihat dampak CFD dalam jangka panjang. Sebab, ukuran keberhasilan CFD bukan hanya dari ramainya kegiatan pada hari pelaksanaan, tetapi apakah setelahnya semakin banyak masyarakat yang rutin berolahraga dan terbentuk komunitas-komunitas olahraga baru.
"Indikasi keberhasilan Car Free Day itu bukan semata-mata pelaksanaannya saja, tetapi pasca itu, apakah semakin banyak masyarakat yang berolahraga, apakah semakin terbangun komunitas olahraga di daerah tersebut," ujarnya.
Yayat juga mendorong agar budaya olahraga tidak hanya tumbuh di pusat kota. Pemerintah daerah didorong dapat menghadirkan ruang-ruang olahraga hingga tingkat desa dan kelurahan dengan memanfaatkan potensi yang dimiliki masing-masing daerah.
Konsep tersebut dapat dikembangkan melalui kegiatan seperti Jumat bugar, Minggu bugar, hingga aktivitas olahraga di desa wisata. Dengan demikian, masyarakat tidak harus selalu datang ke pusat kota untuk mendapatkan ruang berolahraga.
"Bagaimana dengan di desa dan kelurahan? Ini menjadi tantangan. Tugas kita menyiapkan ruangnya, tempatnya, programnya yang lebih menarik, sehingga masyarakat tanpa sadar terbiasa hadir di situ," katanya.
Menanggapi hal ini, Asisten Setda DIY Bidang Administrasi Umum, Imam Pratanadi, yang mewakili Pemda DIY, menyambut baik dorongan tersebut. Menurutnya, CFD di Yogyakarta selama ini telah banyak dimanfaatkan masyarakat, khususnya pada Ahad pagi di kawasan Malioboro.
"Kita lihat animo masyarakat untuk memanfaatkan car free day sebagai tempat untuk berolahraga, paling sederhana jalan kaki itu sudah mulai meningkat dari waktu ke waktu," ucapnya.
Imam pun sepakat bahwa CFD tidak harus terpusat di satu lokasi. Pemerintah kabupaten dan kota di DIY dapat mengembangkan konsep serupa dengan menyesuaikan kondisi serta potensi wilayah masing-masing.
"Car Free Day tidak hanya diselenggarakan di satu tempat saja. Mungkin di tempat-tempat lain, seperti sudah pernah diselenggarakan di Jalan Sudirman, mungkin di setiap kabupaten kota juga bisa menyelenggarakan hal tersebut," kata Imam.
Menurut Imam, keterbatasan lahan di DIY membuat konsep CFD perlu disesuaikan dengan karakter wilayah. Dia bahkan membayangkan ruang olahraga terbuka dapat dikembangkan di kawasan desa wisata di Kulonprogo, Sleman maupun Bantul yang memiliki potensi alam untuk aktivitas seperti trekking.
"Itu mungkin jadi alternatif yang bisa dilakukan di Daerah Istimewa Yogyakarta karena memang ketersediaan lahan untuk car free day ini tidak sebanyak apa yang dimiliki oleh daerah-daerah lain yang lebih besar dari Daerah Istimewa Yogyakarta," ujarnya.
Imam menegaskan, konsep CFD di DIY harus tetap mengutamakan fungsi olahraga. Jangan sampai ruang yang seharusnya digunakan untuk bergerak justru didominasi aktivitas perdagangan sehingga masyarakat kesulitan berolahraga.
"Jangan sampai kemudian jadinya malah bukan car free day tapi pasar senggol. Tidak olahraga, malah tabrak-tabrakan di situ," kata Imam.
Ke depan, Imam mengatakan akan menyampaikan dorongan tersebut agar Pemda DIY bisa mengkaji lokasi yang tepat untuk pengembangan CFD sekaligus memastikan keberadaannya tidak menimbulkan persoalan lalu lintas. Imam mengatakan karakter Yogyakarta berbeda dengan daerah yang memiliki ruas jalan lebih luas sehingga pemilihan lokasi perlu dilakukan secara matang.
"Kita harus melihat potensi daerah Daerah Istimewa Yogyakarta. Kita tidak bisa menyaingi daerah DKI karena memang mereka punya lokasi-lokasi yang besar dalam satu area yang memang terpadu," katanya.
"Mestinya kalau kita bersama-sama, (termasuk) dengan seluruh komunitas untuk menuju Yogyakarta yang lebih sehat dan bugar generasinya, ya kita mau tidak mau harus memberikan fasilitas yang seperti itu. Salah satunya car free day. Kita bisa upayakan itu," ungkapnya.