Ahad 13 Sep 2026 21:44 WIB

Murid Trauma Akibat Keracunan, BGN: MBG ke SMPN 2 Jepara Tetap Disalurkan

SMPN 2 Jepara masih menolak menerima MBG.

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Karta Raharja Ucu
Dua petugas menata ompreng Makan Bergizi Gratis (MBG) di salah satu dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kota Bekasi, Jawa Barat, Selasa (8/9/2026). Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan sementara distribusi program MBG di sejumlah wilayah terdampak erupsi Gunung Anak Krakatau seiring pembelajaran jarak jauh (PJJ) dengan durasi yang menyesuaikan kebijakan pemerintah daerah setempat.
Foto: ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan
Dua petugas menata ompreng Makan Bergizi Gratis (MBG) di salah satu dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kota Bekasi, Jawa Barat, Selasa (8/9/2026). Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan sementara distribusi program MBG di sejumlah wilayah terdampak erupsi Gunung Anak Krakatau seiring pembelajaran jarak jauh (PJJ) dengan durasi yang menyesuaikan kebijakan pemerintah daerah setempat.

REPUBLIKA.CO.ID, JEPARA — Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) Kabupaten Jepara, Muhammad Wildan Mustofa, mengatakan, saat ini terdapat satu sekolah di wilayahnya, yakni SMPN 2 Jepara, yang menolak untuk menerima Makan Bergizi Gratis (MBG). Hal itu karena kasus dugaan keracunan yang terjadi di sekolah tersebut pada awal Agustus 2026 lalu. Namun dia memastikan MBG akan tetap disalurkan ke SMPN 2 Jepara ketika SPPG pemasok, yang kini berstatus ditangguhkan, sudah beroperasi kembali.

Setidaknya 110 siswa dan 13 guru yang menjadi korban dugaan keracunan MBG di SMPN 2 Jepara pada 4 Agustus 2026 lalu. Mereka mengalami mulas, muntah, dan diare. Makanan penyebab keracunan diduga bersumber dari menu MBG yang disajikan sehari sebelumnya. 

Baca Juga

Setelah kejadian itu, SPPG Bandengan 5 selaku pemasok MBG ke SMPN 2 Jepara ditangguhkan. Ketika SPPG bermasalah sedang ditangguhkan, MBG ke sekolah terkait biasanya disalurkan SPPG lainnya. Namun Muhammad Wildan Mustofa mengatakan, sebulan berlalu setelah kasus dugaan keracunan itu, SMPN 2 Jepara masih menolak menerima MBG. 

“Sampai sekarang masih belum menerima. Alasannya karena beberapa murid istilahnya masih trauma. Ya kami tidak memaksa,” ungkap Wildan ketika diwawancara pada Kamis (10/9/2026). 

Dia menerangkan, saat ini SPPG Bandengan 5 selaku pemasok MBG ke SMPN 2 Jepara masih ditangguhkan operasionalnya. Wildan memastikan, saat SPPG tersebut beroperasi kembali, MBG bakal tetap dikirim ke SMPN 2 Jepara. 

“Nanti ketika operasional kembali akan didatangkan kembali, dengan evaluasi terutama, kemudianlebih memperhatikan menu kualitasnya supaya penerima manfaat itu percaya terkait MBG itu sendiri,” kata Wildan. 

Wildan pun sempat mengomentari kasus dugaan keracunan MBG yang terjadi di SMK dan Madrasah Aliah Nawa Kartika serta SDN 01 Srobyong di Kota Jepara pada Selasa (8/9/2026). Dia mengatakan SPPG Jepara Mlonggo Sekuro 01 selaku pihak yang memasok MBG ke tiga sekolah tersebut sudah ditangguhkan operasionalnya selama 30 hari.

“Per hari ini sudah keluar surat suspend pada SPPG tersebut. Sejak hari Rabu kemarin sudah berhenti operasional,” kata Wildan. 

Dia mengungkapkan, terdapat 118 siswa dan guru yang diduga menjadi korban dugaan keracunan MBG di SMK dan Madrasah Aliah Nawa Kartika serta SDN 01 Srobyong. Mereka diduga keracunan menu MBG yang disajikan sehari sebelumnya.

“Dugaan sementara (penyebab keracunan) adalah ayamnya. Kebetulan menu pada Senin kemarin adalah ayam bakar Taliwang. Kemungkinan ada beberapa daging ayam yang belum matang sempurna,” ucap Wildan.

Dia mengatakan, SPPG Jepara Mlonggo Sekuro 01 baru bisa beroperasi kembali setelah hasil lab sampel makanan sudah terbit dan SPPG telah memperbaiki sarana/prasaran, termasuk kegiatan operasional, yang sebelumnya dinilai tidak memenuhi standar. “Nanti setelah SPPG membuat surat permohonan pencabutan suspend kepada pimpinan BGN, lalu keluar surat pencabutan, baru bisa SPPG beroperasi kembali,” ujar Wildan.

Berita Lainnya