Kamis 24 Sep 2026 19:51 WIB

Dinkes Batang Bantah Ada Korban Meninggal dalam Kasus Dugaan Keracunan MBG di Bawang

Korban yang harus menerima penanganan medis sudah berangsur membaik.

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Karta Raharja Ucu
Penanganan siswa terduga korban keracunan MBG di Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Rabu (23/9/2026) malam. (Dok Pemkab Batang)
Foto: Dok Republika
Penanganan siswa terduga korban keracunan MBG di Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Rabu (23/9/2026) malam. (Dok Pemkab Batang)

REPUBLIKA.CO.ID, BATANG -- Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Batang, Ida Susilaksmi, membantah kabar tentang adanya korban meninggal dalam kasus dugaan keracunan MBG di Kecamatan Bawang, Rabu (23/9/2026). Dia mengklaim, korban yang harus menerima penanganan medis sudah berangsur membaik.

“Kalau ada yang meninggal pasti kita langsung ditelepon,” ujar Ida ketika dikonfirmasi soal kabar adanya korban meninggal dalam kasus dugaan keracunan MBG di Kecamatan Bawang, Kamis (24/9/2026). 

Baca Juga

Dia menduga, kabar mengenai adanya warga yang meninggal dunia bercampur dengan isu dugaan keracunan MBG di Kecamatan Bawang. Padahal keduanya tidak berkaitan. “Mungkin ada orang meninggal, tapi meninggalnya bukan kasus yang ini,” ujarnya.

“Dinkes saat ini masih memprioritaskan penanganan dan pemantauan kondisi pasien. Sementara itu, data terkait jumlah pasien dan perkembangan kasus masih terus dirapikan karena pencatatan pada malam sebelumnya cukup dinamis,” tambah Ida.

Ida mengungkapkan, dia terus memantau kondisi para terduga korban keracunan MBG, terutama yang dirawat di RSUD Batang. “Sejauh saya memantau pagi ini kondisi aman. Tadi pagi saya memantau di RSUD Batang, tadi malam saya sampai pukul 23.45 WIB, tadi pagi pukul 05.30 WIB saya ke situ lagi hingga 06.30 WIB. Aman, Alhamdulillah, kondisinya sudah membaik semuanya,” ucapnya.

Menurut Ida, perbaikan kondisi pasien terlihat dari berkurangnya sejumlah gejala yang sebelumnya dialami, seperti diare, mual, muntah, dan pusing. “Misalnya tadinya menceret berkali-kali, terus jadi berkurang. Tadinya ada mual muntah, sekarang enggak, tadinya pusing-pusing, sekarang enggak,” katanya.

Dia memastikan, pihaknya akan terus memantau kondisi para korban. Setidaknya 276 orang di Kecamatan Bawang diduga keracunan MBG pada Rabu kemarin. Korban terdiri dari siswa dan orang tua siswa dari 11 sekolah. Menu yang ditengarai menjadi pemicu adalah olahan telur.

Para siswa yang diduga mengalami keracunan berasal dari SDN 1 Bawang, SDN 3 Bawang, TK Pertiwi, MA Sunan Kalijaga, MTs Sunan Kalijaga, TK Kuncup Mekar, TP Ananda, Pos PAUD Anggrek Mas, TK Qurota 'Ayun, RA Al Hidayah, dan MI Salafiyah Pasusukan. Wakil Bupati Batang Suyono meninjau langsung kondisi para korban yang mendapatkan perawatan di RSUD Batang pada Rabu malam.

“Pukul 20.38 WIB, total 275 yang terdaftar di Bawang. Jadi perkembangan tetap kita tunggu, yang penting kita prihatin bersama. Semoga kejadian ini kejadian yang terakhir. Para korban terdiri dari siswa dan orang tua siswa. Sebagian orang tua diduga ikut mengonsumsi makanan yang dibawa pulang oleh anak mereka,” ucap Suyono. 

photo
Tenaga medis merawat warga yang diduga mengalami keracunan makanan di RSUD Kalisari, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Selasa (22/9/2026). Dinas Kesehatan Kabupaten Batang menyatakan sebanyak 35 orang warga yang terdiri dari dewasa dan anak Dukuh Rowosoko, Desa Rowobelang diduga mengalami keracunan usai mengkonsumsi pemberian makanan tambahan (PMT) pada acara Posyandu setempat Senin (21/9), sementara hasil laboratorium masih dalam proses penelitian. - (ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra)

Suyono mengatakan telah menginstruksikan RSUD Batang untuk memberikan penanganan maksimal kepada para korban keracunan. Dia mengungkapkan, SPPG yang memasok MBG ke 11 sekolah di Kecamatan Bawang melayani 2.700 penerima manfaat.

Suyono memastikan pihaknya akan terus mendata dan memantau perkembangan jumlah korban keracunan. Menurut dia, kapasitas rumah sakit di wilayah Batang juga menjadi perhatian karena jumlah pasien masih berpotensi bertambah.

“Kalau di Batang semua penuh, tinggal nanti lari ke puskesmas yang rawat inap. Masih ada di Bandar, itu kan bisa untuk menampung sebagian,” ujar Suyono.

Guna memastikan penyebab dugaan keracunan, Suyono telah menginstruksikan Dinas Kesehatan Kabupaten Batang untuk memeriksa sampel makanan yang dikonsumsi para siswa dan orang tua mereka. “Sampel makanan telah diambil untuk kemudian dilakukan pemeriksaan laboratorium. Dari keterangan korban, salah satu menu yang dicurigai menjadi penyebab adalah olahan telur. Namun, pemerintah daerah masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk memastikan penyebab kejadian tersebut,” ucap Suyono.

Dia meminta seluruh pihak tidak menyimpulkan penyebab dugaan keracunan sebelum adanya hasil pemeriksaan laboratorium. Menurut Suyono, SPPG yang memasok MBG ke 11 sekolah terkait sudah disetop operasionalnya. 

Pemkab Batang akan melakukan evaluasi terhadap pengelolaan dapur, termasuk penerapan SOP dalam proses pengolahan dan distribusi makanan. Korwil dan pengelola SPPG terkait juga bakal dipanggil untuk dimintai keterangan.

“Keselamatan penerima manfaat menjadi prioritas pemerintah daerah. Sementara itu, kegiatan belajar mengajar di sekolah tetap berjalan seperti biasa bagi siswa yang dalam kondisi sehat. Adapun siswa yang masih menjalani perawatan atau dalam kondisi sakit diminta untuk beristirahat hingga dinyatakan pulih,” ucap Suyono. 

Berita Lainnya

Rekomendasi