REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Enam siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) Cahaya Rancamaya, Bogor, Jawa Barat, berhasil meraih medali perak (Silver Medal) dalam ajang World Invention Competition and Exhibition (WICE) 2026 di SEGi University, Kota Damansara, Malaysia, pada 20–24 September 2026.
Prestasi internasional tersebut diraih melalui inovasi biosunscreen ramah lingkungan berbahan dasar ekstrak biji alpukat yang diberi nama AvoGuard.
Tim AvoGuard berkompetisi pada kategori Applied Life Science dengan judul proyek 'AvoGuard: Development of Sunscreen Based on Avocado Seed Extract as an Environmentally Safe UV Protection Product'.
Solusi Biosunscreen dari Limbah Biji Alpukat
Pengembangan AvoGuard dilatarbelakangi oleh tingginya limbah biji alpukat (Persea americana Mill.) yang belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal, biji alpukat memiliki kandungan polifenol dan antioksidan yang kaya.
"Gagasan tersebut berangkat dari dua persoalan: kebutuhan manusia akan perlindungan kulit dari paparan sinar ultraviolet, serta kebutuhan mengembangkan produk yang lebih aman bagi lingkungan," kata Kepala Sekolah SMA Cahaya Rancamaya, Sandra Susanto, Ahad (27/9/2026).
Kandungan antioksidan dalam ekstrak biji alpukat difungsikan sebagai agen fotoprotektif alami untuk membantu meredam paparan radiasi ultraviolet (UV) sekaligus menangkal radikal bebas.
Inovasi ini ditawarkan sebagai alternatif produk tabir surya yang lebih aman bagi ekosistem lingkungan dibandingkan sunscreen berbasis bahan kimia sintetis pada umumnya.
Dia menuturkan, proses penelitian dan formulasi AvoGuard memakan waktu kurang lebih tiga bulan. Di bawah pendampingan guru pembimbing Aris Setiawan, enam siswa yang terlibat terdiri dari Azmi Bahruddin Prasetya, Darrel Zavier El Fatih, Giandra Hanif Nareswara, Muhammad Radhisshadiqi, Xavier Zia Muhammad, dan Zaid Nabhan Khairullah.
Dalam perjalanannya, para siswa melalui serangkaian pengujian laboratorium, mulai dari tahapan ekstraksi bahan, formulasi bentuk krim, pengujian stabilitas fisik, hingga uji aktivitas fotoprotektif nilai SPF secara in vitro.
Selain itu, tim juga melakoni pengujian tingkat ekotoksisitas menggunakan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT).
Proses riset tersebut sempat diwarnai beberapa kegagalan eksperimen, terutama saat penentuan komposisi bahan serta hasil ekstraksi. Namun, tim memilih melakukan evaluasi dengan mendalami kembali literatur dan jurnal ilmiah hingga memperoleh hasil optimal.
Kerja tim pun dibagi menjadi dua kelompok fokus: kelompok pertama berfokus pada eksperimen laboratorium dan penyusunan karya ilmiah (academic writing), sedangkan kelompok kedua mematangkan strategi komunikasi, penyampaian presentasi, dan logistik.
Kepala Sekolah SMA Cahaya Rancamaya, Sandra Susanto, mengapresiasi capaian yang diraih oleh para siswa beserta guru pembimbing. Menurutnya, pengalaman melalui proses riset ilmiah menjadi poin paling mendasar bagi perkembangan siswa.
"Bagi kami, hal yang paling penting bukan hanya medalinya, melainkan proses belajar yang dilalui para siswa. Mereka belajar menemukan persoalan, membaca penelitian, melakukan eksperimen, menghadapi kegagalan, hingga mempertanggungjawabkan gagasannya di hadapan juri internasional," ujar Sandra.
Bersaing dengan 517 Tim dari 12 Negara
Kompetisi WICE 2026 diikuti oleh sebanyak 517 tim peserta yang berasal dari 12 negara. Sebanyak 243 tim berlaga secara langsung (offline) di Malaysia dan 274 tim bertanding secara daring (online).
Selain Indonesia dan tuan rumah Malaysia, para peserta bersaing dari berbagai negara seperti Hong Kong, Thailand, Meksiko, Korea Selatan, Belarus, Tiongkok, Kanada, Uzbekistan, Vietnam, hingga Bangladesh.
Sesi penjurian dilakukan secara langsung di booth pameran. Tim siswa diuji untuk mempresentasikan karyanya serta mempertahankan keabsahan aspek ilmiah proyek di hadapan dewan juri internasional.
Sandra menambahkan, kegiatan riset ini selaras dengan arah pengembangan SMA Cahaya Rancamaya sebagai salah satu SMA Unggul Garuda Transformasi untuk memperkuat budaya akademik dan inovasi berbasis pemecahan masalah nyata.