Rabu 30 Sep 2026 19:59 WIB

Menu MBG akan Sajikan Ikan Dua Kali Sepekan, Ini Alasan Pemerintah

Penyajian lauk ikan pada menu MBG tidak mesti selalu ikan laut.

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Karta Raharja Ucu
Dua petugas menata ompreng Makan Bergizi Gratis (MBG) di salah satu dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kota Bekasi, Jawa Barat, Selasa (8/9/2026). Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan sementara distribusi program MBG di sejumlah wilayah terdampak erupsi Gunung Anak Krakatau seiring pembelajaran jarak jauh (PJJ) dengan durasi yang menyesuaikan kebijakan pemerintah daerah setempat.
Foto: ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan
Dua petugas menata ompreng Makan Bergizi Gratis (MBG) di salah satu dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kota Bekasi, Jawa Barat, Selasa (8/9/2026). Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan sementara distribusi program MBG di sejumlah wilayah terdampak erupsi Gunung Anak Krakatau seiring pembelajaran jarak jauh (PJJ) dengan durasi yang menyesuaikan kebijakan pemerintah daerah setempat.

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan Didit Herdiawan Ashaf mengatakan, ikan sebagai menu protein dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) akan disajikan dua kali dalam sepekan. Dia menyebut, hal itu menyusul terbitnya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 74 Tahun 2026 tentang Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan).

Didit menerangkan, program MBG akan dimanfaatkan untuk mengimplementasikan Gemarikan. “Mungkin dari satu kali satu minggu atau satu kali dua minggu, menjadi dua kali satu minggu,” ucapnya seusai menghadiri acara sosialisasi Gemarikan di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Kota Semarang, Jawa Tengah, Rabu (30/9/2026).

Baca Juga

Menurut Didit, keharusan menyajikan menu ikan pada program MBG sudah mulai dijalankan. “Ini baru mulai kan, jadi dilaksanakan secara bertahap,” ujarnya.

Saat memberikan sambutan dalam acara sosialisasi Gemarikan, Didit mengatakan, penyajian lauk ikan pada menu MBG tidak mesti selalu ikan laut. Ikan yang dipilih bisa disesuaikan dengan kebutuhan dan selera masing-masing daerah. “Misalnya di Jawa Tengah itu lebih suka ikan lele, mujair, nila salin, atau ikan emas. Kira-kira seperti itu,” kata dia.

Didit menerangkan, tingkat konsumsi ikan di Indonesia masih terbilang rendah, yakni rata-rata antara 26-29 kilogram per kapita per tahun. Menurutnya, angka tersebut harus terus ditingkatkan. “Kita punya pakan ikan lestari itu mencapai lebih kurang 12 juta ton per tahun yang belum termanfaatkan dengan baik,” ucapnya.

Dia mengungkapkan, salah satu program prioritas Presiden adalah pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP). Tahun ini pemerintah menargetkan pembangunan 1.269 KNMP. Hingga akhir 2029, pemerintah akan berupaya membangun sekitar 5.000 KNMP.

Berita Lainnya

Rekomendasi