REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Wakil Menteri Koordinator (Wamenko) Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq, mengatakan, Indonesia masih dijajah negara lain dalam bidang pangan. Karena itu dia mendorong masyarakat memanfaatkan sumber pangan lokal, khususnya sektor perikanan, untuk menekan ketergantungan impor pangan.
Hanif menjelaskan, untuk memenuhi kebutuhan protein, masyarakat masih condong mengonsumsi daging dan susu sapi. Padahal sekitar 50 persen pasokan atau ketersediaan daging sapi nasional masih mengandalkan impor.
Hal yang sama berlaku pada susu sapi. Hanif mengatakan, kebutuhan susu sapi nasional mencapai 5 juta ton per tahun. Sementara kapasitas produksi dalam negeri hanya 800 ribu ton.
“Tanpa kita sadari, kita lebih banyak membelanjakan untuk membeli protein impor daripada mendayagunakan protein dalam negeri kita,” ujar Hanif saat menghadiri acara sosialisasi Peraturan Presiden Nomor 74 Tahun 2026 tentang Gerakanan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan) di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Kota Semarang, Jawa Tengah, Rabu (30/9/2026).
Menurut Hanif, kebutuhan protein warga dapat dipenuhi dari produk perikanan dalam negeri yang tingkat penyerapannya masih sangat rendah. “Kita masih terjebak dengan protein-protein yang kita impor dari negara lain. Kebutuhan daging lembu, yakni daging sapi dan kerbau, ini hampir mencapai 800 ribu ton per tahun dan separuhnya diimpor. Sementara kita memiliki produksi ikan hampir mencapai 56 juta ton per tahun, konsumsi kita hanya 7,5 juta ton,” ucapnya.
Dia menambahkan, dengan harga lebih terjangkau, asupan protein yang diperoleh masyarakat dari ikan tidak kalah dengan daging sapi. Hanif menyebut, rentang harga ikan antara Rp15-Rp24 ribu per kilogram. Sementara daging sapi dapat mencapai Rp150-Rp240 ribu per kilogram.
“Bayangkan, hanya untuk pemenuhan protein kita, atas nama selera kita, kita melalaikan betapa lama kita dikolonisasi oleh negara lain dari bidang pangan,” ujar Hanif.
Hanif mengatakan, ikan juga dapat dimanfaatkan dan diolah menjadi susu yang kandungan proteinnya tidak kalah dengan susu sapi. Tingkat omeganya pun diklaim lebih besar. “Kita memperkaya produksi luar negeri, sementara kita punya ikan-ikan yang kemudian bisa kita tepungkan menjadi susu yang kemudian tidak kalah proteinnya,” ucapnya.
Dia menambahkan, Gemarikan bukan hanya dorongan atau gerakan di bidang ketahanan pangan. Lebih dari itu, Gemarikan dipandang mempunyai dimensi ketahanan sosial dan ekonomi.
“Di tengah-tengah kekayaan yang luar biasa, kita terjebak pada kolonialisme yang tidak kita sadari. Penjajahan yang kemudian merebut kita dalam kehidupan sehari-hari kita,” kata Hanif.
Hanif mendorong pemerintah daerah agar dapat mengimplementasikan Gemarikan. “Bapak Presiden mengingatkan kepada kita dengan cukup sangat serius ketergantungan kita kepada makan-makan impor. Marilah kita sudahi,” ujarnya.
“Sepulang dari sini, mari kita ketuk pintu-pintu kita, kita ingatkah istri kita, ‘Mah, besok atau sore ini kita makan ikan’. Tidak perlu kita membeli lagi daging-daging yang sebagian besarnya justru berasal dari impor,” tambah Hanif.