Rabu 05 Apr 2023 06:26 WIB

Indonesia Diprediksi Peringkat 6 Diabetes Terbanyak 2030

Zaqi mengajak masyarakat untuk memahami kandungan yang ada di dalam berbagai makanan.

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Fernan Rahadi
Diabetes (ilustrasi)
Foto: Essential Health Info
Diabetes (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG -- Mudahnya layanan pesan antar-aneka makanan dan juga paket diskon dari restoran memudahkan masyarakat untuk menikmati makanan yang diinginkan. Misalnya, aneka makanan dan minuman kekinian seperti boba, kopi susu, makanan cepat saji, roti manis, hingga kue kekinian. 

Fenomena itu pula yang menarik perhatian Dosen Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Zaqqi Ubaidillah. Menurutnya, makanan dan minuman manis yang turin dikonsumsi dalam jangka panjang bisa memicu obesitas. Kemudian berujung pada penyakit diabetes. 

Adapun diabetes adalah penyakit kronis serius yang terjadi karena pankreas tidak dapat menghasilkan atau menggunakan hormon insulin secara efisien. Padahal hormon sangat penting karena berfungsi mengatur kadar gula darah dalam tubuh.

Menurut dia, peluang menderita diabetes meningkat karena minuman berglukosa tinggi meningkatkan radikal bebas dalam tubuh. Selain itu, juga menyebabkan toxic glukosa yang dapat merusak sel beta pankreas. "Sementara sel ini memiliki tugas penting untuk mengeluarkan insulin," katanya dalam pesan resmi yang diterima Republika, Rabu (5/4/2023).

Selain diabetes, makanan atau minuman yang tinggi gula juga dapat merusak endotel pembuluh darah. Hal ini berarti dapat mengakibatkan aterosklerosis atau penyumbatan pembuluh darah.

Pria disapa Zaqi ini menjelaskan, potensi penyakit diabetes kini semakin meningkat. Bahkan, penelitian dari International Diabetes Federation memprediksikan Indonesia pada 2030 akan menjadi peringkat enam negara dengan penderita diabetes terbanyak. 

Menurutnya, kebiasaan jajan minuman kekinian tersebut kian tak sehat apabila ditunjang pola makan tinggi kalori. Beberapa di antaranya nasi goreng, mi goreng, nasi uduk, nasi padang, makanan cepat saji, dan makanan berpengawet lainnya. "Pun dengan kebiasaan menambah rasa dan toping pada makanan dan minuman," jelas perawat spesialis medikal bedah UMM itu.

Tak cuma kopi dan boba, aneka minuman kemasan termasuk jus dan minuman berkarbonasi lainnya juga mengandung kadar gula yang cukup tinggi. Bahkan, melebihi dari kebutuhan harian maksimal orang dewasa.

Meskipun demikian, ini tak berarti masyarakat tidak diperbolehkan mengonsumsi makanan atau minuman favorit. Selama tidak rutin dan bisa membatasi, Zaqi mengatakan, mencoba dan mencicipi makanan kekinian diperbolehkan asal sesuai takaran.

Ia juga mengajak masyarakat untuk memahami kandungan yang ada di dalam berbagai makanan. Salah satu caranya dengan membaca kandungan nilai gizi yang tertera di kemasan. Dengan begitu, mereka bisa mengatur makanan apa saja yang bisa dimakan secara rutin dan makanan mana saja yang harus dibatasi. 

Dia pun menyarankan masyarakat untuk memperbanyak konsumsi sayur dan buah. Begitu pula dengan minuman yang mengandung nol kalori seperti air putih, kopi, serta teh tanpa gula.

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement