Rabu 05 Apr 2023 12:29 WIB

Panen Raya, Petani Jatim Lebih Pilih Jual Gabah ke Tengkulak Ketimbang Bulog

Bulog Jatim membeli GKP dari petani dengan standar harga pembelian pemerintah.

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Fernan Rahadi
Buruh tani mengangkat gabah yang baru dipanen (ilustrasi).
Foto: ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas
Buruh tani mengangkat gabah yang baru dipanen (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jawa Timur Dydik Rudy Prasetya mengungkapkan, Bulog Divre Jawa Timur mengalami kesulitan menyerap gabah kering panen (GKP) dari petani meskipun saat ini telah memasuki musim panen raya di wilayah setempat. Kesulitan tersebut disebabkan petani lebih memilih menjualnya ke tengkulak ketimbang ke Bulog, lantaran harganya yang lebih rendah.

Dydik menjelaskan, Bulog Jatim membeli GKP dari petani dengan standar harga pembelian pemerintah (HPP) yang sudah ditetapkan oleh Badan Pangan Nasional (Bapanas) yakni Rp 5.000 per kilogram. Sementara itu, lanjut Dydik, ada tengkulak yang berani membali dengan harga lebih tinggi ketimbang yang ditawarkan Bulog.

"Masalahnya ada yang membeli gabah petani ini lebih tinggi dari yang ditawarkan oleh Bulog. Kalau Bulog membeli GKP petani dengan dengan harga Rp 5.000 per kilogram. Bahkan ada yang mau membeli lebih dari Rp 6.000 per kilogramnya," ujar Dydik, Rabu (5/4/2023).

Menurut Dydik, situasi inilah yang membuat Bulog kesulitan menyerap GKP dari petani. Petani baru mau menjual GKP-nya ke Bulog cara dengan cara pemyerapan komersial menggunakan modern rice milling plant (MRMP). Untuk MRMP, lanjut Dydik, Bulog baru bersedia menyerap dengan harga Rp 6.000 per kilogram GKP.

 

"Jadi Bulog ini memiliki dua penyerapan gabah petani. Yakni selain yang ditetapkan oleh pemerintah juga dengan yang digunakan untuk komersial, MRMP. Nah untuk MRMP, Bulog mau menyerap dengan harga Rp 6.000 untuk GKP. Tapi ya begitu ada juga yang berani mengambil di atas harga yang ditawarkan Bulog yakni Rp 6.200 bahkan Rp 6.300," ujarmya.

Dydik mengungkapkan, bahkan ada truk yang memuat dan akan mengirimkan GKP ke MRMP di Magetan, memilih untuk putar balik karena mendapatkan tawaran harga yang lebih tinggi dari Bulog. "Kondisinya di lapangan terjadi kejar-kejaran antara Bulog dan tengkulak," ujarnya.

Kepala Divre Bulog Jatim, Ermin Tora mengatakan, pihaknya terus fokus melakukan penyerapan beras petani. Menurutnya saat ini Bulog Jatim sudah menyerap beras petani sebanyak 24 ribu ton. "Target serapan beras dari petani Jatim minimal 200 ribu ton," ujarnya.

Ermin pun mengakui pihaknya kesulitan melakukan penyerapan gabah petani. Seban, kata dia, kenyataan di lapangan ada yang berani membeli GKP petani di harga Rp5.800 hingga Rp 5.900. Sedangkan HPP yang ditetapkan dari pemerintah Rp 5.000 per kilogram.

"Harga ini sebenarnya sudah naik karena sebelumnya Rp 4.200 per kilogram. Untuk GKG per kilogramnya seharga Rp 6.300. Kemudian, harga beras Rp 9.950," ujarnya. 

Ermin mengatakan, Bulog memiliki penggilingan modern rice milling plant di Magetan dan Bojonegoro. Kemudian rencananya juga membangun di Banyuwangi dan Jember. "Dengan ini kita berharap dapat membantu petani dan ke depan mereka tidak lagi jual gabah kering giling, cukup kering panen nanti Bulog olah menjadi beras dengan mesin modern," kata Ermin.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement