Rabu 07 Jun 2023 20:59 WIB

Peneliti: 134 Kota di Indonesia Alami Penurunan Tanah

Pekalongan termasuk wilayah yang paling parah penurunan tanahnya.

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Yusuf Assidiq
 Seorang pria memancing di air yang menggenangi area di sekitar bangunan yang terbengkalai karena naiknya permukaan laut dan penurunan tanah (ilustrasi)
Foto: AP/Dita Alangkara
Seorang pria memancing di air yang menggenangi area di sekitar bangunan yang terbengkalai karena naiknya permukaan laut dan penurunan tanah (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Sebanyak 134 kota di Indonesia dilaporkan mengalami penurunan tanah. Hal ini diungkapkan Peneliti dari Amarta Institute, Nila Ardhianie saat menghadiri kegiatan workshop tentang ancaman krisis air dan dampak perubahan iklim di Jakarta.

Menurut Nilai, sebagian besar wilayah yang mengalami penurunan tanah berasal dari pinggir pantai. Kota-kota tersebut diketahui merupakan warisan kolonial Belanda. Saat itu, kota-kota tersebut dikembangkan guna mempermudah proses ekonomi.

Dari sejumlah daerah itu, Nila menyebut Pekalongan termasuk wilayah yang paling parah penurunan tanahnya. “Percepatannya tinggi. Kalau yang diamati itu sangat terkait dengan penggunaan air tanah berlebihan,” kata Nila.

Penurunan tanah sendiri bisa terjadi karena terdapat proses ekstraksi tanah yang berlebihan. Kemudian juga bisa karena adanya beban bangunan di atas tanah. Lalu juga dilatarbelakangi adanya aktivitas bawah tanah dan aktivitas tektonik.

Namun pada kasus penurunan tanah di Indonesia, Nilai menilai, ini salah satunya karena penggunaan air tanah yang berlebihan. Oleh sebab itu, dia pun turut menyinggung keberadaan program Pamsimas yang dimiliki pemerintah.

Sebagaimana diketahui, program tersebut diketahui menggunakan air tanah secara mendalam. Dibandingkan air tanah, Nila justru merekomendasikan masyarakat dan pemerintah untuk lebih menggunakan air permukaan.

Air tanah dapat digunakan apabila air permukaan benar-benar sulit dimanfaatkan. “Kalau setiap kelurahan ada sumur tanah yang digunakan warga, ditambah lagi semakin banyak Pamsimas, maka penurunan tanahnya kian tinggi.

Di samping itu, ia juga turut mmengungkapkan bahwa penggunaan air tanah di Indonesia sebenarnya harus melalui izin terlebih dahulu. Namun, dia menemukan, penggunaan air tanah di Semarang dan Jakarta hampir semua tidak berizin.

“Seperti di Jakarta itu datanya di dinas cuma ada ratusan. Kayak tidak mungkin jika dibandingkan dengan jumlah bangunan yang ada di Jakarta,” jelasnya.

Hal serupa juga diungkapkan ahli Bidang Geodesi ITB, Heri Andreas. Menurut dia, terdapat 112 kabupaten/kota di Indonesia yang mengalami penurunan tanah. Hal ini berarti terdapat pemanfaatan air tanah secara berlebihan di wilayah-wilayah itu.

Di sisi lain, Heri berpendapat, penurunan muka tanah juga dapat mengakibatkan 112 kabupaten/kota di pesisir pantai tenggelam di masa depan.

Wilayah DKI Jakarta misalnya diprediksi tenggelam pada 2050. Lalu 85 persen wilayah di Pekalongan juga diprediksi mengalami hal serupa pada 2035.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement