Jumat 16 Jun 2023 17:03 WIB

Kasus Diabetes Anak Melonjak 70 Kali Lipat, Persatuan Ahli Gizi Berikan Penjelasan

Banyak anak yang pola makannya tidak sehat.

Rep: Bowo Pribadi/ Red: Fernan Rahadi
Diabetes pada anak (ilustrasi). Pemerintah menekankan pentingnya skrining kesehatan agar penyakit tertentu dapat ditangani segera, salah satunya diabetes.
Foto: www.freepik.com
Diabetes pada anak (ilustrasi). Pemerintah menekankan pentingnya skrining kesehatan agar penyakit tertentu dapat ditangani segera, salah satunya diabetes.

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Ahli gizi mengungkap kasus diabetes pada anak cenderung mengalami peningkatan. Kendati tidak memerinci berapa angka kasusnya, peningkatan kasus diabetes pada anak sekarang ini mencapai 70 kali lipat dari angka pada 2018.

Ketua Umum DPP Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) Rudatin mengungkapkan, kasus diabetes pada anak ini jamak ditemukan pada anak dengan rentang usia 5 hingga 12 tahun.

Kasus diabetes pada anak biasanya disertai dengan ciri-ciri, antara lain, berat badan mengalami kenaikan melebihi dari batas normal, misalnya, seperti tinggi badan dikurangi berat badan hasilnya melebihi angka berat badan ideal.

"Yang paling akurat adalah ketika diperiksa kadar gula darahnya melebihi angka normal," ujarnya di sela acara Temu Ilmiah Nasional (TIN) Tahun 2023 Persagi, yang digelar di Patra Hotel and Convention Semarang, Kota Semarang, Jawa Tengah, Jumat (16/6/2023).

Rudatin juga menjelaskan, pemicu diabetes pada anak umumnya dari makanan yang diasup, karena sekarang anak-anak juga banyak mengonsumsi, terutama berbagai makanan yang gizinya tidak seimbang.

Persagi tidak menganjurkan anak mendapatkan asupan susu-susu formula. Pada usia satu hari sampai dengan enam bulan, ibu penting memberikan air susu ibu (ASI) eksklusif untuk anaknya. Setelah itu baru diberikan makanan pendamping air susu ibu (MPASI).

Karena MPASI inilah yang harus diberikan sesuai dengan gizi yang seimbang maupun kondisi anak. "Betul susu formula sekarang tinggi protein, tetapi harus diberikan buah dan sayur agar gizinya seimbang," katanya.

Sekarang ini, kata Rudatin, banyak anak yang pola makannya tidak sehat. Banyak pula orang tua memberikan makanan-makanan yang kurang sesuai, misalnya, berbagai jenis junk food dan sejenisnya kepada anak. Jadi, makanan itu diberikan oleh orang tua kepada anak-anaknya, tanpa melihat berapa sebenarnya kebutuhan gizi anak.

Oleh karena itu. Persagi mengimbau kepada masyarakat, kalau memang berat badan anaknya sudah melebihi berat badan normal, disarankan untuk berkonsultasi dengan ahli gizi.

Sehingga akan dapat diukur berapa berat badannya yang ideal, berapa banyak kebutuhan gizinya, apakah anak tersebut dalam kondisi normal, sudah mengalami obesitas atau overweight dan sebagainya. "Ini semua akan bisa dilihat dan diukur dan anak akan mendapatkan asupan gizi yang seimbang sesuai dengan kebutuhan pertumbuhannya," katanya.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement