Kamis 13 Jul 2023 14:58 WIB

Rekonstruksi Lima Jembatan Putus Akibat Banjir Lahar Dingin Semeru Dimulai

Dari lima jembatan, hanya dua jembatan yang menjadi kewenangan Pemprov Jatim.

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Yusuf Assidiq
Warga melintas di Jembatan Gantung Kaliregoyo di Dusun Sumberwuluh, Candipuro, Lumajang, Jawa Timur, Sabtu (8/7/2023). Jembatan yang memiliki panjang 198 meter dan menjadi penghubung Desa Jugosari dengan Desa Sumberwuluh. tersebut putus akibat diterang banjir lahar hujan pada Jumat (7/7) .
Foto: ANTARA FOTO/Irfan Sumanjaya
Warga melintas di Jembatan Gantung Kaliregoyo di Dusun Sumberwuluh, Candipuro, Lumajang, Jawa Timur, Sabtu (8/7/2023). Jembatan yang memiliki panjang 198 meter dan menjadi penghubung Desa Jugosari dengan Desa Sumberwuluh. tersebut putus akibat diterang banjir lahar hujan pada Jumat (7/7) .

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Pemerintah Provinsi Jawa Timur mulai melaksanakan proses rekonstruksi dua jembatan penghubung Kabupaten Lumajang-Kabupaten Malang yang putus akibat terjangan banjir lahar dingin Gunung Semeru pada 7 Juli 2023. Sekdaprov Jatim, Adhy Karyono menjelaskan, ada lima jembatan yang putus akibat bencana tersebut.

Kelima jembatan yaitu Jembatan Gantung Kaliregoyo, Jembatan Kalibiru, Jembatan Limpas, Jembatan Kloposawit, dan Jembatan Glidik II. Namun, dari lima jembatan yang terputus, hanya dua jembatan yang menjadi kewenangan Pemprov Jatim, yakni Jembatan Kloposawit dan Jembatan Gantung Kaliregoyo.

"Tiga jembatan lain itu ada satu yakni Jembatan Glidik II jadi tanggung jawab Kementerian PUPR dengan anggaran Rp 16,2 miliar. Dua lainnya Jembatan Kalibiru dan Jembatan Limpas dikerjakan oleh BNPB termasuk membangun tanggul baru," kata Adhy di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Kamis (13/7/2023).

Adhy melanjutkan, khusus untuk dua jembatan yang jadi kewenangan Pemprov Jatim, pihaknya telah menyiapkan anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) dengan nilai Rp 10,5 miliar dengan rincian Rp 4,5 milir untuk perbaikan Jembatan Regoyo dan Rp 6 miliar untuk perbaikan Jembatan Kloposawit.

"Kami menargetkan bisa lebih cepat dari target kami dua bulan sudah bisa selesai," ujarnya. Terkait total kerugian akibat bencana banjir lahar dingin tersebut, Adhy menyatakan belum mengetahui secara rinci.

Namun, kerugian ditaksir mencapai Rp 25 miliar. Sementara mengenai kondisi masyarakat yang mengungsi, dikabarkan secara bertahap mulai kembali ke rumah masing-masing seiring kondisi cuaca yang mulai membaik.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement