Rabu 27 Sep 2023 07:37 WIB

Konferensi Internasional UMM Bahas Transformasi Digital Hingga Virus

Terdapat beragam tantangan mulai bermunculan di era pasca-pandemi.

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Fernan Rahadi
Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan konferensi internasional bertemakan Global Health Challenges and Innovations In the Post-Pandemic Era belum lama ini.
Foto: Humas UMM
Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan konferensi internasional bertemakan Global Health Challenges and Innovations In the Post-Pandemic Era belum lama ini.

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG -- Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) belum lama ini mengadakan konferensi internasional bertemakan 'Global Health Challenges and Innovations In the Post-Pandemic Era.' Salah satu pemateri yang hadir, yakni CEO Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS) Prof Ali Ghufron Mukti.

Ali dalam kegiatan tersebut mengatakan, terdapat beragam tantangan mulai bermunculan di era pasca-pandemi. Maka itu, salah satu cara mengatasinya dengan memaksimalkan transformasi digital. 

Menurut dia, tantangan pertama yang dihadapi saat ini ialah transisi demografi. Kemungkinan besar sekitar 50 persen anggota BPJS termasuk orang dengan usia di atas 60 tahun. "Kemudian, tantangan kedua adalah transisi epidemiologi," jelasnya.

Sebagian besar kasus yang ada saat ini adalah penyakit kronis. Kemudian juga harus bersiap jika penyakit seperti TBC, malaria, Covid-19 dan lainnya muncul kembali. 

Perubahan iklim pun dapat memberikan dampak seperti polusi di sekitar Jakarta. Dia menilai transformasi digital adalah salah satu cara yang baik untuk mengatasi semua tantangan ini.

Tantangan-tantangan seperti inilah yang dianggap mampu meningkatkan pengoptimalan ekosistem digital. Ia menyadari pada dekade mendatang, kesehatan akan berkembang begitu cepat, maju dan akan terasa terpenuhi  sepenuhnya dengan banyaknya teknologi baru. Promosi kesehatan pun akan dilakukan tanpa harus bertatap muka.

Sementara itu, Febi Dwi Rahmadi dari Griffith University, Australia membahas terkait krisis Covid-19 yang menyadarkan bahwa sistem kesehatan masih lemah. Maka dari itu, pengalaman dan sejarah ini harus bisa memberikan kesadaran agar masa depan bisa diperbaiki.

Febi juga mengimbau para tenaga kesehatan profesional dapat lebih memikirkan lingkungan. Karena berdasarkan data, sekitar 87 ribu ton sampah plastik dalam kurun waktu Maret 2020 hingga November 2021 merupakan limbah medis yang sangat membahayakan tubuh.

Hal menarik lain di konferensi tersebut adalah pembahasan dari Prof Goh Lee Gan dari Singapura. Menurutnya, meskipun bakteri berperan dalam penguraian, ada kemungkinan bakteri juga bisa membunuh manusia.

 

Begitupun dengan virus yang dapat menjadi masalah besar ketika infeksi dapat menyebar dari satu orang ke orang lain dengan sangat cepat. "Ditambah lagi dengan sedikitnya orang yang memiliki kekebalan terhadapnya," kata Goh dalam keterangan pers yang diterima Republika. 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement