Jumat 06 Oct 2023 22:26 WIB

Cuaca Membaik, Pemadaman Karhutla Gunung Lawu Gunakan Water Bombing

Masih ada potensi perluasan area kebakaran ketika malam hari.

Rep: Muhammad Noor Alfian Choir/ Red: Fernan Rahadi
Api membakar hutan dan lahan (karhutla) Gunung Lawu di Cetho, Jenawi, Karanganyar, Jawa Tengah, Kamis (5/10/2023). Menurut data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karanganyar kebakaran Gunung Lawu dari Ngawi Jawa Timur telah merembet ke wilayah Karanganyar yang hingga hari ini telah membakar sekitar 100 hektar lahan di 10 titik api kebakaran.
Foto: ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha
Api membakar hutan dan lahan (karhutla) Gunung Lawu di Cetho, Jenawi, Karanganyar, Jawa Tengah, Kamis (5/10/2023). Menurut data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karanganyar kebakaran Gunung Lawu dari Ngawi Jawa Timur telah merembet ke wilayah Karanganyar yang hingga hari ini telah membakar sekitar 100 hektar lahan di 10 titik api kebakaran.

REPUBLIKA.CO.ID, KARANGANYAR — Proses pemadaman Gunung Lawu wilayah Karanganyar akhirnya menggunakan metode water bombing setelah sebelumnya urung terjadi lantaran cuaca yang tak memungkinkan.

Kalakhar BPBD Karanganyar Juli Padmi Handayani mengatakan water bombing baru terlaksana pada Jumat (6/10/2023) sore. Pasalnya setelah dilakukan peninjauan cuaca dan lokasi titik pengambilan air terdapat teknis pelaksanaan yang berubah. 

Baca Juga

"Sempat untuk helikopter water bombing-nya kita jadwalkan jam 7 dan tadi sebenarnya sudah melintas. Tetapi cuaca kurang mendukung, akhirnya tidak jadi. Setelah survei ke lapangan, tempat pengambilan air, akhirnya untuk hari ini langsung diluncurkan WB-nya (water bombing, Red),” jelasnya, Jumat (6/10/2023).

Juli menjelaskan soal mekanisme pengambilan air setelah dievaluasi ada perubahan lantaran jarak dari titik api yang lebih dekat, yakni yang sebelumnya direncanakan diambil dari Waduk Gondang, Kecamatan Kerjo, dan Telaga Madirda, Kecamatan Ngargoyoso diubah ke Embung Banyu Kuwong, di Desa Anggrasmanis, Jenawi, Karanganyar. 

 

"Kita akhirnya memilih Embung Banyu Kuong, di Anggrasmanis. Pertimbangannya Kalo (Waduk) Gondang itu terlalu jauh, maka kita ambil paling dekat, itu efektif untuk lalulintasnya, sama biar cepat pengambilannya," katanya. 

Sementara itu, Administratur Perum Perhutani KPH Solo Herry Merkussiyanto Putro mengungkapkan masih ada potensi perluasan area kebakaran ketika malam hari. Hal tersebut mengingat pemadaman api hanya dilakukan ketika pagi hingga sore. Namun, titik api masih memang masih di lokasi petak 63-A1 dan 63-A2. 

"Artinya ketika api malam tidak ada tindakan sehingga itu mempeluas kebakaran. Jadi ini sudah sampai hari ke enam, bicara luasan itu tentunya masih (berpotensi), tapi ini relatif sesuai dengan kondisi sekarang. Dari hasil pemantauan vegetasi yang terbakar masih sama di kisaran jenis tanaman Semak, Savana, dan Cemara," katanya mengakhiri.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement