Jumat 24 Nov 2023 16:01 WIB

Cegah Stunting, Konsumsi Ikan di Bantul Terus Didorong 

Gemarikan merupakan gerakan agar masyarakat terbiasa mengkonsumsi ikan.

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Fernan Rahadi
Ikan mentah (ilustrasi)
Foto: www.freepik.com
Ikan mentah (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, BANTUL -- Tingkat konsumsi ikan terus didorong oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bantul melalui gerakan gemar makan ikan (Gemarikan). Salah satu upaya yang dilakukan, yakni dengan menghimbau agar masyarakat menyelenggarakan berbagai acara dan hajatan dengan menggunakan menu ikan sebagai pengganti ayam.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Bantul Istriyani menuturkan, demi meningkatkan konsumsi ikan, pada awal 2022 Bupati Bantul telah merilis surat edaran mengenai imbauan untuk seluruh OPD dan pihak swasta agar mengonsumsi ikan dalam kegiatan setiap hari Senin.

"Ternyata tidak hanya Senin, hari apa pun tetap banyak konsumsi ikan. Mudah-mudahan tingkat konsumsi meningkat," ujar Istriyani dalam acara Gebyar Hari Perikanan Nasional ke-10 Tahun 2023 di Pendopo Manding, Kabupaten Bantul, Jumat (24/11/2023).

Tidak hanya itu, DKP Bantul juga menghimbau agar masyarakat menggunakan ikan sebagai menu dalam berbagai acara hajatan yang diadakan di Kabupaten Bantul. Hal tersebut telah disosialisasikan dari tingkat RT dan padukuhan kepada seluruh ibu-ibu.

 

Kendati begitu, ia tidak bermaksud agar mereka menghilangkan menu ayam dan telur yang juga bernilai gizi baik. "Selain itu, juga menu oleh-oleh harus ada ikannya," kata Istriyani.

Tingkat konsumsi ikan di Kabupaten Bantul saat ini rata-rata masih sebanyak 31,7 kilogram per kapita per tahun. Dengan produksi ikan sebanyak 14 ribu ton per tahun, ikan lele mendominasi sebesar 7.000 ton.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Forum Peningkatan Konsumsi Ikan (FORIKAN) Emi Masruroh Halim menambahkan bahwa Gemarikan merupakan gerakan agar masyarakat terbiasa mengonsumsi ikan. Karena meski Bantul memiliki wilayah pesisir, tingkat konsumsi ikan masih kalah dibandingkan ayam dan telur.

Padahal, konsumsi ikan perlu ditingkatkan agar dapat menurunkan angka kurang gizi kronis (stunting). Ini karena protein yang dikandung oleh ikan lebih banyak dibandingkan ayam.

"Ikan ini merupakan salah satu komoditas yang sangat bagus, dan bagus untuk perkembangan otak anak-anak dan bisa mengurangi angka stunting di Bantul. Dengan pertumbuhan fisik dan otak yang bagus, ke depan anak-anak Bantul akan menjadi lebih cerdas," ujar Ibu Bupati Bantul tersebut.

Salah satu upaya yang dapat memudahkan masyarakat beralih mengkonsumsi ikan adalah dengan makan produk olahan ikan. Hal ini dapat dilihat di stan UMKM yang ikut memeriahkan acara tersebut. Banyak produk olahan ikan, seperti stik ikan tuna, abon ikan lele, keripik ikan kakap, dan sebagainya.

"Karena dengan makanan olahan itu kita tidak sadar kita makan ikan, diterima di lidah saja," ujarnya.

Salah satu penjual makanan olahan ikan, yaitu SM Yunus. Ibu berusia 73 tahun ini menjual abon dan stik ikan lele dari budi daya di kolamnya sendiri. Harganya pun bervariasi, mulai dari Rp 15 ribu hingga Rp 50 ribu tergantung ukuran.

"Produksi saya tidak banyak, karena ambil dari kolam sendiri dan dikerjakan sendiri. Kalau banyak pesanan ada empat karyawan lepas yang membantu," katanya.

Produk ya dipasarkan melalui pesanan atau melalui fasilitas pemasaran produk DI Yogyakarta, SiBakul. Selain itu, produknya juga dipasarkan melalui kegiatan pameran UMKM yang diadakan oleh Pemkab Bantul, maupun Pemprov DIY.

Menurutnya, ikan lele memang relatif lebih banyak penggemarnya dibandingkan jenis ikan air tawar lainnya. Untuk itu, ia menggunakan 50 kolam ikan miliknya sebagai tempat pendidikan pembenihan ikan lele bernama Mina Abadhi Farm. “Jadi, dari almarhum suami saya ingin kolamnya dijadikan bukan untuk produksi, tapi pendidikan budi daya," ujarnya.

Yuk gabung diskusi sepak bola di sini ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement