Rabu 06 Dec 2023 15:28 WIB

Peneliti Tegaskan Keamanan Bakteri Wolbachia

Tidak ditemukan antibodi Wolbachia pada sampel darah yang diuji.

Rep: Febrianto Adi Saputro/ Red: Fernan Rahadi
Nyamuk Aedes aegypti ber-wolbachia dewasa terlihat dari mikroskop untuk penelitian di Insektarium Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta, Sabtu (2/12/2023). Sejak 2011 Insektarium UGM mengembangbiakkan atau berternak nyamuk Aedes aegypti ber-wolbachia. Tujuan nyamuk Aedes aegypti ber-wolbachia dikembangbiakkan untuk menekan penularan virus demam berdarah di masyarakat. Mulai 2015 pelepasan telur Aedes aegypti mulai dilakukan di lingkungan masyarakat. Saat ini, Insektarium UGM bisa memanen telur nyamuk Aedes aegypti sebanyak 550.000 telur dalam atau periode atau sekitar tiga minggu.
Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Nyamuk Aedes aegypti ber-wolbachia dewasa terlihat dari mikroskop untuk penelitian di Insektarium Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta, Sabtu (2/12/2023). Sejak 2011 Insektarium UGM mengembangbiakkan atau berternak nyamuk Aedes aegypti ber-wolbachia. Tujuan nyamuk Aedes aegypti ber-wolbachia dikembangbiakkan untuk menekan penularan virus demam berdarah di masyarakat. Mulai 2015 pelepasan telur Aedes aegypti mulai dilakukan di lingkungan masyarakat. Saat ini, Insektarium UGM bisa memanen telur nyamuk Aedes aegypti sebanyak 550.000 telur dalam atau periode atau sekitar tiga minggu.

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Tropmed Talk on Stage yang digelar Pusat Kedokteran Tropis (PKT) UGM belum lama ini mengangkat  tema Wolbachia. Peneliti Utama World Mosquito Program (WMP) Yogyakarta, Prof dr Adi Utarini, kembali menegaskan terkait keamanan bakteri Wolbachia

"Wolbachia ini adalah bakteri alami yang ada di sekitar 60 persen serangga di sekitar kita," kata Adi Utarini.
 
Dirinya juga menceritakan fase-fase yang dilalui penelitian hingga berhasil membuktikan bahwa metode nyamuk ber-Wolbachia berhasil menurunkan 77 persen kasus dengue dan 86 persen insidensi perawatan di rumah sakit karena infeksi dengue di Kota Yogyakarta. Hingga mendapat hasil akhir tersebut, ia bersama tim peneliti lainnya telah melaksanakan berbagai uji pendukung baik di laboratorium maupun di lapangan secara terstruktur dan sistematis.
 
Peneliti WMP lainnya, Eggi Arguni, menjelaskan secara terperinci tugas-tugas yang ia dan peneliti lainnya lakukan di laboratorium. Salah satunya yakni menguji kandungan Wolbachia pada nyamuk yang ditangkap. 
 
Eggi menjelaskan nyamuk-nyamuk yang ditangkap itu diperiksa kandungan Wolbachia-nya untuk mengetahui persentase Wolbachia pada populasi Aedes aegypti di wilayah pelepasan. Uji lain yang ia lakukan adalah memeriksa kandungan antibodi Wolbachia pada sampel darah pemberi makan nyamuk. 
 
Pada uji tersebut ia tidak menemukan antibodi Wolbachia pada sampel darah yang diuji. Hal tersebut membuktikan bahwa Wolbachia pada Aedes aegypti tidak dapat berpindah ke tubuh manusia saat nyamuk itu menggigit. Tak hanya darah pemberi makan nyamuk, sampel darah juga diambil dari warga masyarakat yang tinggal di wilayah pelepasan. 
 
Tak hanya para peneliti, pemangku kepentingan dan kader yang pernah terlibat dalam penelitian hadir sebagai narasumber untuk menceritakan pengalaman keterlibatan mereka dalam penelitian yang kini tengah diimplementasikan hasilnya oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI. 
 
Tokoh masyarakat yang telah 10 tahun tinggal berdampingan dengan Wolbachia turut menyampaikan kesaksiannya. "Sudah 10 tahun saya hidup dengan Wolbachia, alhamdulillah, penularan DB (demam berdarah dengue, Red) sudah tidak ada lagi," ucap Dukuh Kronggahan, Anto Sudadi. 
 
Ia menceritakan gencarnya para peneliti memberikan edukasi tentang DBD dan teknologi Aedes aegypti ber-Wolbachia sebelum mulai dilepaskan  di rumah-rumah warganya. Sedangkan Pengelola Program DBD Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Yogyakarta, Rubangi menyampaikan penurunan kasus DBD di Kota Yogyakarta pasca intervensi nyamuk ber-Wolbachia yang telah dilakukan sejak 2016 yang lalu di Kota Yogyakarta. 
 
"Hingga Oktober ini tercatat hanya 67 kasus," ungkapnya. 
 
Angka tersebut merupakan yang terendah selama kurun waktu 10 tahun terakhir, sekaligus yang terendah dibanding kabupaten lain di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Selain penurunan kasus, Dinkes Kota Yogyakarta juga mencatat penurunan kebutuhan fogging yang baru dilaksanakan 9 kali pada tahun ini. Alhasil, dana yang sedianya dialokasikan untuk fogging dapat dialihkan untuk penanganan penyakit lainnya. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement