Selasa 28 May 2024 14:09 WIB

Tukar Pengetahuan tentang Budaya Rempah, Para Delegasi ASEAN Berkumpul di Yogyakarta

Program ini dirancang untuk sejalan dengan dua dokumen penting ASEAN.

Event ASEAN Spice: The Connecting Culture of Southeast Asians yang digelar Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek bekerja sama dengan ASEAN Study Center UGM di Auditorium Pasca Sarjana UGM, Selasa (28/5/2024).
Foto: Republika/Fernan Rahadi
Event ASEAN Spice: The Connecting Culture of Southeast Asians yang digelar Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek bekerja sama dengan ASEAN Study Center UGM di Auditorium Pasca Sarjana UGM, Selasa (28/5/2024).

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA — Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) RI bekerja sama dengan Sekretariat ASEAN menyelenggarakan kegiatan 'ASEAN Spice: The Connecting Culture of Southeast Asians' di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Selama satu pekan sejak 26 Mei hingga 31 Mei 2024, para akademisi dan praktisi di bidang rempah dari 10 negara ASEAN bertukar pengetahuan dan pengalaman tentang budaya rempah di masing-masing negara. 

Sebanyak 20 delegasi yang terdiri dari negara-negara seperti Filipina, Singapura, Vietnam, Thailand, Brunei Darussalam, Indonesia, Laos, Kamboja, Malaysia, dan Myanmar berkumpul di Auditorium Gedung Pasca Sarjana UGM, Selasa (28/5/2024) pagi. Hanya delegasi dari Timor Leste satu-satunya yang tidak hadir pada acara tersebut.

Sejalan dengan rencana nominasi Jalur Rempah sebagai Warisan Dunia yang diinisiasi oleh Indonesia, kegiatan ini menjadi momentum untuk semakin menguatkan warisan Bersama Rempah di Asia Tenggara. "Sejak lebih dari 2,000 tahun lalu, Asia Tenggara telah menjadi pusat perdagangan rempah dunia, menghubungkan Timur dan Barat. Rempah tidak hanya sebagai Komoditas, namun juga membawa nilai, tradisi, dan pertukaran budaya,” kata Direktur Jenderal Kebudayaan, Hilmar Farid, Selasa (28/5/2024).

Hilmar melanjutkan, mendiskusikan budaya rempah dengan negara-negara anggota ASEAN, adalah utama dalam langkah nominasi bersama Jalur Rempah sebagai Warisan Budaya Dunia. "Kegiatan ini adalah langkah penting dalam mempererat hubungan budaya di antara negara-negara ASEAN melalui warisan budaya rempah-rempah," katanya.

Selama satu pekan, para Akademisi dan Praktisi dari negara-negara ASEAN ini mengunjungi rumah rempah di Desa Karang Rejo, Kawasan Borobudur, melakukan diskusi dengan akademisi di Kampus Universitas Gadjah Mada tentang rute jalur rempah dan pengaruhnya terhadap peradaban Asia Tenggara, serta memperdalam diskusi dan rencana kolaborasi untuk menciptakan inovasi, kreatifitas, bahkan produk bersama terkait budaya rempah dan Gastronomi antar negara ASEAN. 

Program ini juga dirancang untuk sejalan dengan dua dokumen penting ASEAN yaitu Deklarasi Siem Reap tentang Mempromosikan Komunitas ASEAN yang Kreatif dan Adaptif untuk Mendukung Ekonomi Budaya dan Kreatif, yang diadopsi oleh KTT ASEAN ke-40 dan ke-41 pada November 2022 di Kamboja, serta Narasi Identitas ASEAN, yang diadopsi oleh KTT ASEAN ke-37 pada November 2020 di Vietnam.

"Rempah telah banyak mengubah cara kita hidup, dan harus terus dikembangkan untuk dimanfaatkan lebih luas. Inovasi Bersama dengan para praktisi dan akademisi ASEAN ini menjadi langkah untuk memperkuat narasi jalur rempah di komunitas ASEAN. Menghubungkan kembali warisan budaya bersama kita," kata Hilmar.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement