Kamis 27 Mar 2025 12:38 WIB

Generasi Z Diimbau Cerdas dalam Bermedia Sosial

Generasi saat ini cenderung kurang peduli terhadap konsep benar dan salah.

Ilustrasi generasi muda
Foto: www.freepik.com
Ilustrasi generasi muda

REPUBLIKA.CO.ID, PEKANBARU --  Anggota Komisi XIII DPR RI Siti Aisyah berpesan kepada generasi Z harus cerdas dalam bermedia sosial. Jangan sampai Generasi Z ikut-ikutan merundung atau merasa paling benar. Menurut dia, cyberbullying bisa menjadi awal munculnya radikalisme dan terorisme.

"Kunci utama mencegah terorisme adalah dengan menanamkan sikap toleransi, termasuk dalam interaksi di media sosial. Ibu memiliki peran kuat dalam mendidik anak agar tidak mudah terpengaruh paham radikal," kata Siti Asiyah dalam acara Dialog Kebangsaan yang digelar Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Republik Indonesia (BNPT RI) bersama Komisi XIII Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) di Gedung Daerah Balai Serindit Gubernuran Riau, Pekanbaru, Rabu (26/3/2025).

Anggota Komisi XIII DPR RI, Mafirion juga sepakat dengan mengatakan bahwa generasi saat ini cenderung kurang peduli terhadap konsep benar dan salah. Hal ini menjadi tantangan dalam upaya pencegahan radikalisme dan terorisme.

“Kearifan lokal berbasis kekerabatan berpotensi menjadi benteng dalam menangkal radikalisme. Namun, diperlukan penguatan agar kearifan lokal tetap relevan dalam menghadapi ancaman modern. Perlu adanya lembaga yang fokus memberikan pemahaman tentang pentingnya persatuan dan persaudaraan. Lembaga ini (BNPT) dapat berperan sebagai penangkal ideologi radikal dan memperkuat nilai kebangsaan,” ujarnya.

Dirinya berpesan kepada masyarakat Riau agar tidak mudah terpapar radikal terorisme yang mana tentunya struktur masyarakatnya harus kuat, tidak boleh longgar. Hubungan antara masyarakat yang satu dengan yang lain harus dijaga.

“Selain itu semua yang apa pun yang dapat menimbulkan intoleransi tidak boleh terjadi. Untuk itu kita akan terus bersama-sama masyarakat untuk melakukan sosialisasi agar dimasa depan terorisme dan radikalisme ini tidak aka nada lagi di bumi Melayu ini," katanya.

Sementara itu, Gubernur Riau H. Abdul Wahid, menyoroti perkembangan terorisme yang masih menjadi ancaman bagi bangsa. Ia menegaskan bahwa pemikiran tertutup bisa memicu gesekan di tengah masyarakat yang pada akhirnya bisa memicu konflik.

"Dahulu, Riau sering terjadi aksi terorisme. Kepolisian memiliki catatan tersendiri terkait hal ini. Namun, alhamdulillah, indeks kerukunan beragama Riau kini berada di posisi kedua nasional,” ungkapnya.

Wahid menekankan bahwa satu diantara faktor utama yang berperan dalam menjaga persatuan di Riau adalah adanya dialog yang terus dilakukan di berbagai lapisan masyarakat. Oleh karena itu, ia sangat mendukung penyelenggaraan acara ini secara rutin.

“Kalau perlu, acara ini diadakan sebulan sekali agar internalisasi kebangsaan semakin menjiwai. Bukan hanya di ibu kota provinsi, tetapi juga di kabupaten-kabupaten, terutama di wilayah perbatasan. Karena dialog seperti ini sebagai kunci dalam memperkuat persatuan, dan mendukung upaya internalisasi nilai kebangsaan,” ujarnya.

Sementara itu Ketua Komisi XIII DPR RI Willy Aditya dalam keynote speech-nya mengatakan bahwa penting bagi seluruh masyarakat untuk berdiskusi tentang persatuan di bulan Ramadan ini. Hal ini agar masyarakat tidak lupa bagaimana Indonesia ini hadir sebagai sebuah bangsa,

“Karena hal itu sangat relevan untuk mengingat bagaimana Indonesia terbentuk sebagai sebuah bangsa, dengan kontribusi besar dari bangsa Melayu. Karena masyarakat Indonesia ini memiliki dua konsep penting yakni persaudaraan dan kebangsaan,” ucapnya.

Menurut Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Nasdem Riau ini, dalam memerangi terorisme dan memperkuat persaudaraan tentunya tidak cukup jika hanya dengan seminar atau pembelajaran kognitif, tetapi harus melalui dialog dan kerja bersama.

“Saya minta kepada pak Gubernur Riau, apa yang membuat bangsa kita terfragmentasi? Ayo kita fasilitasi anak daerah kita, asrama daerah dan berkuliah dikota-kota. Primordialisme mengikis perasaan kebangsaan kita. Kalau masih mempersoalkan etnis dan primordial kapan kita jadi Indonesia? Semoga dialog ini memberikan manfaat dalam memperkuat persatuan dan kebangsaan,” ujarnya mengakhiri.

Sementara itu Kepala BNPT Komjen Pol Eddy Hartono pada sesi Talk Show yang dimoderatori Direktur Pencegahan BNPT, Prof Irfan Idris, mengatakan bahwa dialog seperti ini menjadi sarana krusial untuk memperkuat persatuan dan kebangsaan.

“Kami melakukan dialog kebangsaan dimana kami bersama Komisi XIII DPR RI berkolaborasi dalam rangka untuk mengedukasi dan meliterasi terhadap bahayanya paham radikal terorisme di provinsi Riau sehingga ini perlu dilakukan,” ujar Komjen Pol Eddy Hartono.

Dikatakan alimni Akpol tahun 1990 ini, dialog seperti ini sangat penting sekali, sebagaimana tema yang diangkat yakni memperkuat persaudaraan untuk menjaga keutuhan bangsa. Karena sejatinya bangsa Indoensia memiliki sejarah panjang terhadap ancaman terorisme di tiga era, dimulai dari masa Orde Lama, Orde Baru dan Reformasi.

“Salah satu ujian negara kita adalah ancaman terorisme, diuji dengan pemberontakan DI/TII pada masa Orde Lama, sedangakan masa Orde Baru muncul kelompok residu dari DI/TII yang melakukan metamorfosis atau membentuk generasi baru dan pencegahannya lebih kepada melalui intelijen approach dimana saat itu namanya Bakorstanasda (Badan Koordinasi Bantuan Pemantapan Stabilitas Nasional tingkat Daerah),” ujarnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement