REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Aidul Fitriciada Azhari (Guru Besar Ilmu Hukum dan Ketua Prodi Hubungan Internasional FHIP UMS)
Ketika umat Islam di berbagai penjuru dunia bersiap merayakan Idul Fitri, dunia internasional justru kembali diwarnai ketegangan. Konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel menunjukkan bahwa kawasan tersebut masih menjadi salah satu titik paling rawan dalam geopolitik global. Serangan rudal, operasi militer, dan retorika politik yang saling mengeras mengingatkan kita bahwa perdamaian dunia masih rapuh.
Dalam situasi seperti ini, Lebaran tidak hanya menjadi perayaan spiritual. Ia juga menjadi momen refleksi tentang bagaimana umat Islam menghadapi dunia yang penuh ketidakpastian.
Idul Fitri pada hakikatnya adalah simbol kemenangan. Setelah sebulan penuh menjalani puasa Ramadhan, umat Islam merayakan keberhasilan menahan hawa nafsu, mengendalikan diri, dan memperkuat ketakwaan. Namun kemenangan itu bukan sekadar kemenangan pribadi. Ia juga mengandung pesan moral yang lebih luas: kemampuan untuk tetap teguh menghadapi ujian kehidupan. Di sinilah makna kesabaran menjadi sangat penting.
Fondasi Kekuatan
Dalam ajaran Islam, sabar bukanlah sikap pasif. Ia adalah keteguhan jiwa untuk tetap tegak ketika menghadapi kesulitan.
Alquran menegaskan: "Wahai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar."
(QS Al-Baqarah: 153)
Ayat ini menunjukkan bahwa kesabaran bukan sekadar menunggu keadaan berubah. Sabar adalah kekuatan spiritual yang membuat seorang mukmin mampu menghadapi tekanan tanpa kehilangan arah.
Ramadhan sendiri merupakan sekolah kesabaran. Selama sebulan penuh, umat Islam dilatih untuk mengendalikan keinginan paling mendasar: makan, minum, dan dorongan emosional. Puasa bukan hanya ibadah ritual, tetapi latihan disiplin moral yang membentuk karakter manusia. Karena itu, kemenangan Idul Fitri bukan hanya kemenangan spiritual individual. Ia juga merupakan simbol ketahanan moral umat.
Sejarah Umat dan Ujian
Jika kita melihat perjalanan sejarah Islam, ujian bukanlah sesuatu yang asing. Nabi Muhammad SAW dan para sahabat pernah mengalami boikot ekonomi di Makkah selama bertahun-tahun. Mereka menghadapi pengusiran, tekanan politik, dan peperangan. Namun semua itu tidak menghentikan lahirnya peradaban Islam. Kesabaran justru menjadi sumber kekuatan umat.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulum al-Din menempatkan sabar sebagai salah satu pilar utama akhlak seorang mukmin. Sabar adalah kemampuan jiwa untuk tetap teguh dalam ketaatan dan tidak goyah oleh kesulitan hidup.
Sementara itu, sejarawan besar Muslim Ibn Khaldun dalam Muqaddimah menjelaskan bahwa kekuatan suatu peradaban tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer atau ekonomi, tetapi juga oleh solidaritas sosial yang ia sebut sebagai ashabiyyah. Ketika solidaritas dan ketahanan moral suatu masyarakat kuat, peradaban tersebut mampu bertahan menghadapi berbagai krisis. Pandangan ini terasa sangat relevan bagi dunia Islam hari ini.
Ketahanan Umat
Konflik yang terus terjadi di berbagai kawasan menunjukkan bahwa tantangan global semakin kompleks. Perang modern tidak hanya berlangsung di medan militer. Ia juga terjadi dalam bentuk tekanan ekonomi, persaingan geopolitik, dan perang informasi. Dalam situasi seperti ini, umat Islam menghadapi dua tantangan besar.
Pertama, menjaga solidaritas kemanusiaan terhadap penderitaan yang terjadi di berbagai wilayah konflik. Kedua, membangun kekuatan internal umat agar tidak selalu menjadi objek dari dinamika politik global.
Di sinilah makna Ramadan dan Idul Fitri menjadi sangat penting. Puasa melatih disiplin, pengendalian diri, dan kesabaran menghadapi kesulitan. Nilai-nilai inilah yang membentuk ketahanan umat.
Seringkali kesabaran disalahpahami sebagai kelemahan. Padahal dalam Islam, sabar justru merupakan bentuk kekuatan.
Alquran mengingatkan: "Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama para pengikutnya yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, tidak patah semangat, dan tidak pula menyerah." (QS Ali Imran: 146)
Ayat ini menunjukkan bahwa kesabaran berjalan seiring dengan keteguhan. Sabar bukan berarti menyerah, tetapi kemampuan untuk tidak kehilangan arah di tengah tekanan. Dalam konteks global saat ini, umat Islam membutuhkan kesabaran yang produktif—kesabaran yang melahirkan kekuatan ilmu pengetahuan, ekonomi, dan solidaritas sosial.
Harapan Masa Depan
Idul Fitri bukan sekadar penutup Ramadan. Ia adalah titik awal perjalanan baru. Jika Ramadan benar-benar membentuk karakter umat, maka Lebaran seharusnya menjadi momentum untuk membangun peradaban yang lebih kuat: kebangkitan ilmu, kebangkitan ekonomi, dan kebangkitan solidaritas umat.
Dunia mungkin tetap dipenuhi konflik dan ketidakpastian. Namun sejarah menunjukkan bahwa masyarakat yang memiliki ketahanan moral dan spiritual tidak mudah runtuh oleh tekanan zaman. Karena itu, pesan Idul Fitri sesungguhnya sangat sederhana namun mendalam: kemenangan sejati bukan hanya milik mereka yang memiliki kekuatan militer atau ekonomi.
Kemenangan sejati adalah milik mereka yang mampu menjaga iman, kesabaran, dan keteguhan di tengah badai sejarah. Dan justru di saat dunia diliputi kegelisahan seperti hari ini, nilai-nilai itulah yang paling dibutuhkan umat manusia.