
Oleh : Prof Ema Utami (Direktur Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Amikom Yogyakarta)
REPUBLIKA.CO.ID, Idul Fitri 1447 Hijriah kembali hadir dengan dinamika yang sudah akrab di telinga masyarakat Indonesia, yakni perbedaan penetapan hari. Muhammadiyah dengan menggunakan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang resmi diberlakukan sejak 2025, merayakan Lebaran pada Jumat, 20 Maret 2026. Sementara pemerintah melalui sidang isbat menetapkan 1 Syawal jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026, setelah hilal dinilai belum memenuhi kriteria visibilitas pada malam sebelumnya.
Perbedaan satu hari ini bukan soal siapa yang benar dan siapa yang salah. Seperti yang pernah saya tulis dalam kolom Lentera ini beberapa waktu lalu, dua pihak sama-sama berangkat dari tujuan yang sama, yakni memastikan kapan bulan baru Hijriah dimulai, dengan perbedaan kerangka berpikir dan asumsi dasar yang digunakan.
Idul Fitri 1447 Hijriah kali ini juga tiba di tengah suasana dunia yang tidak sedang baik-baik saja. Selama sebulan penuh, umat Islam menjalani Ramadhan di bawah bayang-bayang berita perang, roket yang beterbangan di langit Teheran, radar yang dihancurkan, sekolah yang dirobohkan rudal, dan video-video yang tidak lagi bisa dipercaya keasliannya. Gema takbir yang menggema di mana-mana terasa kontras dengan deru konflik yang belum juga mereda di Asia Barat.
Namun demikian, justru di sinilah Idul Fitri selalu menemukan relevansinya yang paling dalam. Idul Fitri merupakan pengingat untuk setiap manusia, betapapun ruwetnya dunia di luar, selalu punya kesempatan untuk kembali, memperbarui niat, dan melanjutkan langkah.
Ramadhan dan Idul Fitri tahun ini juga menjadi saksi dua hal yang tampaknya berlawanan namun sesungguhnya saling berkaitan. Di satu sisi, perang Iran melawan Amerika Serikat dan Israel terus memperlihatkan wajah paling gelap dari peradaban manusia. Di sisi lain, di ruang-ruang digital yang sama tempat video perang beredar, sebuah fenomena teknologi tengah mengubah cara jutaan orang bekerja, belajar, dan menjalani keseharian.
Di awal tahun 2026, seorang pengembang perangkat lunak asal Austria bernama Peter Steinberger meluncurkan sebuah proyek sederhana. Sebuah asisten AI yang bisa diajak bicara melalui WhatsApp, Telegram, atau Discord, dan mampu menjalankan tugas-tugas nyata di komputer, mulai dari mengelola berkas, menjadwalkan pekerjaan, hingga menjelajahi web secara otomatis, bahkan saat penggunanya sedang tidur.
Proyek tersebut diberi nama OpenClaw yang dalam 72 jam pertama sejak diluncurkan secara publik meraih 60 ribu bintang di platform GitHub. Pada Maret 2026, angkanya melampaui 250 ribu bintang, melewati React, salah satu proyek perangkat lunak paling berpengaruh dalam sejarah Internet. OpenClaw menjadi proyek open-source dengan pertumbuhan tercepat sepanjang sejarah. Yang membuat OpenClaw berbeda dari asisten AI sebelumnya adalah sifatnya yang agentic, selain bertugas menjawab pertanyaan, juga dapat mengambil tindakan.
Lebih dari 100 skill atau kemampuan modular tersedia dan terus bertambah dari kontribusi komunitas global. Di China, antusiasme terhadap OpenClaw begitu besar sehingga ribuan orang antre di depan kantor Tencent di Shenzhen untuk meminta bantuan instalasi. Fenomena ini disebut komunitas setempat dengan istilah yang jenaka yakni memelihara lobster, merujuk pada logo kepiting merah dari proyek tersebut.
Namun demikian, kemunculan OpenClaw tidak tanpa catatan kritis. Peneliti keamanan menemukan ribuan instansi OpenClaw yang terbuka di Internet publik dengan celah keamanan serius. Ini mengingatkan pada pesan yang telah berulang kali saya sampaikan dalam kolom Lentera ini bahwa kemampuan yang luar biasa selalu datang beriringan dengan risiko yang setara.
Di tengah perang disinformasi yang menggunakan AI untuk memproduksi video palsu, dan di tengah asisten AI yang kini mampu mengambil tindakan nyata secara otonom, literasi terhadap teknologi ini bukan lagi pilihan namun menjadi kebutuhan mendasar setiap warga negara.
Dalam konteks itulah, makna Idul Fitri menemukan dimensinya yang baru. Fitrah berarti kembali ke asal, memperbarui diri, dan menetapkan niat yang lebih jernih untuk melangkah ke depan. Kembali bukan berarti menolak perubahan, tetapi memastikan bahwa di tengah laju perubahan yang nyaris melampaui kemampuan kita untuk mencerna, nilai-nilai kemanusiaan tetap menjadi kompas. Asisten AI bisa bekerja tanpa tidur, tetapi ia tidak pernah bisa menggantikan kedalaman niat, kejujuran, dan tanggung jawab yang menjadi inti dari setiap amal manusia.
Sebagai akademisi di Universitas Amikom Yogyakarta, momen Lebaran selalu menjadi waktu refleksi tentang perjalanan belajar yang tidak pernah selesai. Universitas Amikom Yogyakarta, dengan program studi dari jenjang D3 hingga S3 yang berbasis Informatika, hadir sebagai ruang untuk membangun kompetensi secara terstruktur dan bertanggung jawab, di era dimana asisten AI otonom seperti OpenClaw dan perang disinformasi berbasis Generative AI hadir bersamaan dalam satu layar yang sama.
Perbedaan penentuan hari raya, perang yang masih berlangsung di tanah Persia, dan lompatan teknologi yang mengagumkan sekaligus merisaukan, semuanya hadir di Lebaran tahun ini. Idul Fitri tetap datang tepat waktu, selalu mengingatkan bahwa di antara semua kebisingan itu, ada yang jauh lebih penting untuk dijaga, yaitu hati yang bersih, niat yang lurus, serta tekad untuk terus belajar dan berkontribusi. Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri." (QS. Ar-Ra'd: 11). Selamat Idul Fitri 1447 Hijriah. Taqabbalallahu minna wa minkum. Wallāhu a'lam.