Rabu 22 Apr 2026 13:17 WIB

Kartini Hari ini, Kartini di Sekitar Kita

Kartini berjuang agar perempuan dipandang sebagai manusia yang utuh.

Prof Ema Utami dari Amikom Yogyakarta
Foto: Amikom
Prof Ema Utami dari Amikom Yogyakarta

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Kemarin, 21 April 2026, bangsa ini kembali memperingati Hari Kartini. Sebuah tanggal yang setiap tahun hadir bersama pertanyaan yang sama, “sudahkah kita benar-benar melanjutkan perjuangan yang diwariskan?”

Raden Ajeng Kartini telah berpulang lebih dari seabad lalu tetapi surat-suratnya yang dibukukan dalam “Habis Gelap Terbitlah Terang” menjadi cahaya yang tidak pernah padam.

Kartini tidak hanya berjuang agar perempuan bisa bersekolah, juga berjuang agar perempuan dipandang sebagai manusia yang utuh, yang memiliki pikiran, suara, dan hak untuk menentukan arah hidupnya sendiri.

Namun, hari Kartini di tahun ini diperingati dalam bayangan awan gelap. Dalam sepekan terakhir, publik dikejutkan rentetan kasus kekerasan seksual yang terungkap hampir bersamaan di sejumlah perguruan tinggi terkemuka Indonesia, Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Institut Pertanian Bogor, Universitas Padjadjaran, dan beberapa kampus lainnya.

Di Fakultas Hukum UI, 16 mahasiswa diduga membentuk grup percakapan berisi konten pelecehan verbal terhadap 20 mahasiswi dan 7 dosen.

Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia mencatat, sepanjang Januari 2026 hingga Maret 2026 terdapat 233 kasus kekerasan di lingkungan akademik, dengan kekerasan seksual mendominasi sebanyak 46 persen.

Komisi X DPR bahkan memanggil empat perguruan tinggi untuk rapat khusus membahas darurat kekerasan seksual di kampus pada 20 April 2026, tepat sehari sebelum Hari Kartini diperingati.

Di hari yang seharusnya menjadi perayaan kemajuan perempuan, kampus-kampus yang seharusnya menjadi benteng pengetahuan dan peradaban justru tengah menghadapi cermin yang memperlihatkan bahwa perjuangan Kartini belum selesai.

Kampus bukanlah sekadar tempat transfer ilmu tetapi wadah yang membentuk cara pandang, menumbuhkan empati, dan menanamkan nilai tentang bagaimana seharusnya memperlakukan sesama manusia.

Ketika ruang digital dalam sebuah grup percakapan mahasiswa berisi konten yang merendahkan martabat perempuan, tampak jelas hal itu bukan sekadar pelanggaran aturan tetapi merupakan pengkhianatan terhadap seluruh nilai yang seharusnya ditumbuhkan pendidikan tinggi.

Di tengah kabar yang menyedihkan itu, izinkan saya berbagi tentang dua sosok perempuan muda yang bagi saya wujud nyata semangat Kartini hari ini.

Najwa Rashika Az-Zahra Raharema, putri sulung kami, tengah menanti yudisium dari Institut Teknologi Bandung dengan fokus studi di bidang Aerospace Engineering.

Saat ini bersamaan dengan pelaksanaan study exchange di University of Groningen, Belanda, Najwa juga mengajukan lamaran beasiswa ASEAN-UK Women in STEM Scholarships dari Cranfield University, Inggris.

Sebuah beasiswa untuk perempuan dari negara-negara ASEAN yang ingin melanjutkan studi Master di bidang STEM. Najwa memilih bidang yang selama ini identik sebagai wilayah laki-laki dan telah menjadi impiannya sejak sekolah.

Adiknya, Neisya Reehanna Ayesha Raharema yang saat ini duduk di kelas XI terpilih menjadi salah satu peserta yang mewakili sekolah dalam dua kegiatan, yaitu Olimpiade Sains Nasional bidang Kimia dan Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia bidang Biologi tahun 2026.

Dua perempuan muda, dua bidang yang berbeda dengan satu semangat yang sama untuk belajar dengan sungguh-sungguh dan tidak memberi ruang bagi keraguan tentang kemampuan diri.

Hari ini, tepat di hari yang sama artikel ini ditulis, sekolah Neisya menyelenggarakan kegiatan Parents Meeting dengan tema yang sangat relevan, yaitu “Navigasi Perguruan Tinggi: Membangun Sinergi Orang Tua dan Remaja”.

Sebuah pertemuan yang mengundang orang tua kelas XI untuk bersama-sama mempersiapkan langkah anak-anak mereka menuju perguruan tinggi.

Di balik tema navigasi itu, sesungguhnya tersimpan harapan besar bahwa setiap anak yang melangkah ke perguruan tinggi, perempuan maupun laki-laki, tiba di lingkungan yang aman, bermartabat, dan benar-benar mendukung tumbuhnya potensi mereka.

Najwa dan Neisya tumbuh dalam lingkungan yang percaya perempuan berhak dan mampu menempuh jalan tertinggi dalam ilmu pengetahuan. Namun, tentu saja bermodal keyakinan itu saja tidaklah menjadi cukup.

Mereka juga membutuhkan institusi yang hadir sebagai tempat belajar dan sekaligus sebagai pelindung. Perguruan tinggi dan sekolah menjadi institusi yang memikul tanggung jawab ganda.

Menjadi pendorong perempuan untuk meraih ilmu setinggi-tingginya, sekaligus memastikan perjalanan itu tidak diwarnai ancaman, pelecehan, atau rasa tidak aman.

Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual yang diamanatkan Permendikbudristek Nomor 55 Tahun 2024 bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan pernyataan tegas institusi bahwa setiap perempuan yang belajar di dalamnya layak dilindungi.

Di Universitas Amikom Yogyakarta, komitmen terhadap lingkungan kampus yang aman dan bermartabat adalah bagian dari tanggung jawab yang tidak bisa ditawar seluruh civitas akademik. Ruang belajar harus menjadi ruang yang memberdayakan semua orang, tanpa terkecuali.

Kartini menulis dalam suratnya, ia bermimpi tentang perempuan yang bebas, yang bisa berpikir, dan bertindak tanpa dirantai prasangka.

Hari ini, mimpi itu sedang diwujudkan ribuan perempuan muda di laboratorium, ruang kelas, dan arena olimpiade sains di seluruh Indonesia. Namun, mimpi itu pun sedang diuji kenyataan bahwa masih ada yang memandang perempuan sebagai objek, bukan subjek.

Perjuangan Kartini belum selesai, dan tidak akan selesai hanya dengan upacara dan kebaya. Semangat Kartini harus menjadi dorongan setiap perempuan untuk terus bisa belajar dan berkarya dalam keamanan dan kesetaraan yang sesungguhnya.

Allah SWT berfirman: "Orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh yang makruf dan mencegah yang mungkar." (QS. At-Taubah: 71).

Mencegah yang mungkar berarti tidak diam ketika perempuan dilecehkan, tidak berpaling ketika martabat seseorang diinjak. Selamat Hari Kartini. Wallahu a'lam.

 

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement