
REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Pengalaman berjalan menyusuri Kota Paris di bawah terik matahari dengan suhu 38 derajat Celsius membuat kami meninjau kembali rencana perjalanan berikutnya. Malam harinya, setelah kembali ke tempat menginap di kota Liege, Belgia, kami membuka kembali itinerary yang telah disusun jauh-jauh hari.
Dua kota yang semula ingin kami kunjungi, yaitu Dinant dan Namur, menjadi bahan pertimbangan ulang. Sebagian besar kawasan wisatanya berada di ruang terbuka dengan paparan sinar matahari yang tinggi. Di tengah gelombang panas yang sedang melanda Eropa Barat, memaksakan perjalanan ke sana terasa kurang bijaksana.
Keputusan pun diambil dan rencana berubah. Dinant dan Namur kami tunda, lalu muncul dua nama yang sebelumnya tidak ada dalam rencana perjalanan kali ini, yakni Kota Ghent di Belgia dan Kota Luxembourg di Luxembourg.
Gelombang panas yang melanda sebagian besar Eropa Barat tidak hanya memengaruhi kenyamanan perjalanan, juga sistem transportasi di Belanda, Belgia, hingga Luxembourg.
Operator kereta api Belanda NS dan operator kereta api Belgia SNCB menerapkan berbagai langkah pencegahan, mulai dari pembatasan kecepatan, pengurangan jadwal perjalanan, hingga penghentian sementara rangkaian kereta api lama yang tak dilengkapi pendingin udara.
Sejumlah perjalanan dibatalkan, sementara sebagian lainnya mengalami penyesuaian jadwal. Perjalanan yang semula telah dirancang dengan cukup rinci akhirnya harus menyesuaikan diri dengan situasi yang terus berubah.
Ghent bukanlah kota yang asing bagi kami. Dua tahun lalu kami pernah mengunjunginya dan menyimpan kesan sangat baik tentang kota tua yang tenang dengan kanal-kanalnya yang indah. Kami kembali menyusuri jalan-jalan yang pernah kami lewati, tetapi dengan suasana berbeda.
Bangunan-bangunan tua yang dahulu kami nikmati karena keindahannya, kini juga menjadi tempat berteduh dari teriknya matahari musim panas. Ternyata kota yang sama dapat menghadirkan pengalaman berbeda ketika dikunjungi pada waktu berbeda.
Sebaliknya, Kota Luxembourg benar-benar menjadi pengalaman baru. Kota kecil yang sebelumnya tidak pernah kami masukkan ke dalam daftar tujuan itu, justru menghadirkan kejutan menyenangkan.
Perpaduan kawasan modern, benteng-benteng tua, lembah hijau, dan lorong-lorong teduh di antara gedung-gedung tinggi menjadikan kota ini terasa nyaman dijelajahi meskipun suhu udara sedang sangat tinggi.
Kota yang semula hanya menjadi alternatif justru berubah menjadi salah satu kenangan terbaik selama perjalanan kami di Eropa.
Ada sesuatu yang menarik dari dua pengalaman tersebut. Ghent membawa kami kembali mengenang perjalanan yang pernah kami lakukan, sedangkan Luxembourg menghadirkan pengalaman yang sama sekali baru.
Keduanya hadir bukan karena direncanakan sejak awal, melainkan karena kami bersedia mengubah rencana ketika keadaan mengharuskannya.
Pelajaran ini mengingatkan saya pada dunia penelitian. Banyak mahasiswa S2 dan S3 beranggapan kebaruan penelitian harus sudah tampak sejak proposal pertama disusun, seolah-olah seluruh proses penelitian akan berjalan lurus hingga selesai. Padahal kenyataan sering kali berkata lain.
Tidak sedikit temuan yang justru lahir ketika rencana awal mengalami hambatan. Data yang tidak sesuai harapan memaksa peneliti melihat persoalan dari sudut pandang yang berbeda.
Metode yang kurang memberikan hasil mendorong lahirnya pendekatan alternatif. Literatur yang ternyata telah berkembang mengajak peneliti memperluas cakrawala berpikir. Dari proses itulah sering kali lahir gagasan yang sebelumnya tak pernah direncanakan.
Di sisi lain, penelitian juga sering mengajarkan pentingnya kembali membaca hal-hal yang telah kita kenal. Tidak semua kebaruan lahir dari objek yang baru. Ada kalanya ia lahir dari cara pandang yang baru terhadap sesuatu yang telah lama kita kenal.
Seorang peneliti kerap menemukan pemahaman baru ketika kembali membaca teori lama dengan pertanyaan berbeda. Penelitian tidak selalu tentang menemukan sesuatu yang sepenuhnya baru. Ada kalanya kebaruan lahir dari cara baru dalam memandang sesuatu yang sebenarnya telah lama ada.
Bagi mahasiswa pascasarjana, pelajaran ini tentu sangat berharga. Hambatan penelitian bukan semata-mata gangguan yang harus dihindari, melainkan dapat menjadi pintu menuju penemuan yang lebih orisinal daripada rencana awal.
Peneliti yang terlalu kaku berpegang pada proposal berisiko kehilangan peluang menemukan sesuatu yang lebih bermakna. Sebaliknya, mereka yang cukup lentur membaca situasi dan berani mengeksplorasi jalur alternatif sering kali pulang dengan hasil yang jauh lebih kaya daripada yang dibayangkan ketika penelitian dimulai. Semangat inilah yang terus kami dorong dalam proses pembimbingan mahasiswa Pascasarjana di Universitas Amikom Yogyakarta.
Heatwave yang menyertai perjalanan kami kali ini mengajarkan banyak hal. Ia mengajarkan, tidak semua rencana berjalan seperti yang kita bayangkan, ada kota-kota yang harus ditunda untuk dikunjungi dan ada langkah-langkah yang perlu disesuaikan dengan keadaan.
Namun, di situlah letak makna sebuah perjalanan. Tidak selalu perjalanan membawa kita ke tempat yang benar-benar baru. Ada kalanya justru ia membawa kita kembali ke tempat yang pernah kita kenal.
Bedanya, kali ini kita datang dengan pengalaman lebih kaya, sudut pandang lebih luas, dan hati lebih peka sehingga tempat yang sama pun terasa berbeda dan memperlihatkan makna yang sebelumnya luput dari perhatian.
Di waktu yang lain, perjalanan justru mempertemukan kita dengan hal-hal yang sama sekali tidak pernah ada dalam rencana. Kejutan-kejutan itu sering kali menjadi bagian paling berkesan, membuka pengalaman baru yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.
Demikian pula dalam penelitian, kebaruan tidak selalu lahir dari proposal paling sempurna atau rancangan yang tampak paling meyakinkan.
Sering kali ia tumbuh dari keberanian penelitinya untuk tetap terbuka, terus belajar, dan bersedia menyesuaikan langkah ketika kenyataan di lapangan menunjukkan arah yang berbeda.
Sebab sebagaimana perjalanan, penelitian tidak hanya berkaitan dengan pencapaian tujuan yang telah ditetapkan, melainkan juga proses memahami berbagai kemungkinan yang muncul di sepanjang jalan.
Allah SWT berfirman "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 216).
Rencana yang berubah bukanlah kegagalan. Tidak semua penemuan terbaik berasal dari jalan yang sejak awal kita pilih. Ada kalanya Allah SWT memperlihatkan jalan lebih baik melalui rencana yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Wallahu a'lam.