Sabtu 03 Oct 2026 19:21 WIB

AI Fatigue: Lelah dengan Kecerdasan Buatan

Kelelahan terhadap AI bukan selalu berarti penolakan terhadap teknologinya.

Iwan Awaluddin Yusuf
Foto: dokpri
Iwan Awaluddin Yusuf

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Iwan Awaluddin Yusuf (Ketua Program Studi Magister Ilmu Komunikasi, Universitas Islam Indonesia)

Ada satu perasaan yang mungkin mulai dialami banyak orang saat ini di tengah semakin masifnya penggunaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI): lelah. Bukan karena AI tidak berguna, melainkan karena kehadirannya terasa semakin sulit dihindari. Dalam pekerjaan, pendidikan, industri kreatif, media sosial, hingga kehidupan sehari-hari, AI seolah ditawarkan sebagai solusi untuk hampir semua persoalan.

Kita diperkenalkan pada model baru, aplikasi baru, teknik prompting baru, serta berbagai cara untuk membuat pekerjaan menjadi lebih cepat dan efisien. Dalam situasi seperti ini, muncul pertanyaan yang tampak sederhana, tetapi semakin relevan: apakah semua hal memang perlu dibantu oleh AI?

Pertanyaan tersebut bukan lahir dari sikap anti-teknologi. Saya pribadi menggunakan AI, mempelajarinya, dan dalam konteks akademik juga mengajarkan berbagai persoalan yang berkaitan dengan AI dan komunikasi digital. Namun, semakin intens teknologi ini digunakan, semakin kuat pula keinginan untuk mempertahankan ruang-ruang tertentu dari intervensi teknologi.

Di tengah gempuran hasil kerja AI, saya hanya ingin membaca tulisan yang dikerjakan sepenuhnya oleh manusia, mengoreksi tugas yang benar-benar ditulis oleh mahasiswa sendiri, menikmati foto atau desain tanpa harus bertanya apakah gambar tersebut AI-generated, atau sekadar melihat media sosial tanpa dibanjiri konten tentang tools, tips, dan tricks AI terbaru. Bahkan, ada keinginan sederhana untuk menikmati sebuah gagasan tanpa harus mengetahui atau menebak prompt yang berada di baliknya.

Kegelisahan semacam ini dapat dibaca sebagai bagian dari fenomena yang belakangan disebut AI fatigue. Istilah ini tidak semata-mata menunjuk pada kejenuhan terhadap sebuah teknologi baru, tetapi dapat dipahami sebagai respons terhadap intensitas, kecepatan, dan tuntutan adopsi AI yang semakin tinggi. Ketika hampir setiap aktivitas ditawarkan untuk diotomatisasi, dioptimalkan, atau dibantu oleh mesin, penggunaan AI perlahan dapat bergeser dari pilihan menjadi semacam ekspektasi. Orang tidak lagi hanya bertanya apakah AI dapat membantu sebuah pekerjaan, tetapi juga merasa perlu menjelaskan mengapa mereka tidak menggunakannya.

Dalam konteks ini, kelelahan terhadap AI bukan selalu berarti penolakan terhadap teknologinya, melainkan kegelisahan terhadap semakin sempitnya ruang untuk memilih kapan teknologi perlu digunakan dan kapan manusia perlu bekerja tanpa bantuan teknologi.

Persoalan tersebut menjadi penting karena AI generatif dan AI agentic tidak hanya membantu pekerjaan yang bersifat teknis. Teknologi ini telah masuk ke wilayah yang sebelumnya dianggap sebagai aktivitas kognitif dan kreatif manusia: menulis, mencari gagasan, menyusun argumen, membuat gambar, menghasilkan musik, meringkas bacaan, menerjemahkan, bahkan memberikan respons yang menyerupai empati.

Dengan demikian, diskusi tentang AI tidak cukup berhenti pada pertanyaan mengenai efisiensi, produktivitas, atau akurasi hasil karena paasti hasilnya akan cenderung befokus pada sisi manfaat AI. Kita juga perlu mempertimbangkan konsekuensi yang lebih mendasar: apa yang terjadi ketika sebagian proses berpikir, mencipta, berkomunikasi, dan merasakan proses belajar semakin sering dialihkan kepada mesin?

Pertanyaan ini memiliki hubungan dengan gagasan Sherry Turkle mengenai hubungan manusia dan teknologi. Dalam Alone Together: Why We Expect More from Technology and Less from Each Other (2011), Turkle membahas paradoks teknologi digital: teknologi dapat membuat manusia semakin terhubung secara teknis, tetapi pada saat yang sama dapat menciptakan bentuk keterasingan dan jarak dalam relasi sosial. Teknologi dapat memenuhi sebagian kebutuhan kita akan komunikasi dan kehadiran, tetapi pemenuhan tersebut tidak selalu identik dengan kedekatan manusiawi dan makna 'hadir' yang sesungguhnya.

Lebih dari satu dekade kemudian, persoalan tersebut memperoleh bentuk baru melalui perkembangan AI percakapan. Dalam Artificial Intimacy: How We Become Attached to Machines That Pretend to Care (2026), Turkle memperluas perhatiannya pada hubungan manusia dengan mesin yang mampu berkomunikasi menggunakan bahasa yang semakin menyerupai percakapan manusia. Kehadiran chatbot dan sistem AI generatif memperkenalkan bentuk interaksi baru di mana mesin bukan lagi sekadar alat yang menampilkan informasi, tetapi dapat memberikan respons yang terasa personal, suportif, bahkan emosional. Perkembangan ini memperumit batas antara teknologi sebagai instrumen dan teknologi sebagai entitas yang kita perlakukan seolah-olah memiliki kapasitas sosial.

Di sinilah persoalan AI fatigue menjadi lebih dari sekadar persoalan kejenuhan terhadap teknologi. Ketika AI semakin mampu melakukan pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan kemampuan manusia, kita perlu mempertimbangkan bukan hanya apa yang dapat kita peroleh dari teknologi, tetapi juga kemampuan apa yang mungkin semakin jarang kita latih. Menulis, misalnya, bukan sekadar aktivitas menghasilkan teks. Proses menulis memaksa seseorang memilih kata, menyusun argumen, mengorganisasi pikiran, menghadapi kebuntuan, dan merevisi gagasan. Demikian pula membaca bukan sekadar memperoleh ringkasan informasi. Membaca memungkinkan seseorang berhadapan dengan kompleksitas, ambiguitas, dan gagasan yang tidak selalu segera dapat dipahami.

Karena itu, ketika AI mengambil alih sebagian proses tersebut, evaluasi terhadap teknologi seharusnya tidak hanya didasarkan pada kualitas produk akhirnya. Sebuah tulisan yang dihasilkan AI mungkin secara tata bahasa lebih rapi dan lebih cepat selesai. Sebuah gambar yang dihasilkan AI mungkin terlihat lebih sempurna secara visual. Sebuah ringkasan AI mungkin jauh lebih cepat dibandingkan membaca keseluruhan buku. Namun, kualitas hasil akhir tidak selalu menggambarkan nilai dari proses yang telah dilalui manusia untuk menghasilkan sesuatu. Dalam pendidikan, misalnya, tujuan pembelajaran tidak semata-mata menghasilkan jawaban yang benar, tetapi juga membentuk kemampuan untuk berpikir, menganalisis, mempertanyakan, dan menyusun pengetahuan secara mandiri.

Kekhawatiran mengenai percepatan AI juga menjadi perhatian Tristan Harris dan Aza Raskin dalam dokumenter The A.I. Dilemma (2023). Melalui Center for Humane Technology, keduanya mengingatkan bahwa perkembangan teknologi AI berlangsung dalam situasi kompetisi yang sangat cepat, sementara masyarakat dan institusi belum tentu memiliki kapasitas regulasi maupun mekanisme keselamatan yang berkembang pada kecepatan yang sama. Kekhawatiran tersebut tidak berarti bahwa seluruh perkembangan AI harus dihentikan. Sebaliknya, ia menunjukkan pentingnya membicarakan konsekuensi sosial dan institusional AI bersamaan dengan pembicaraan mengenai inovasi dan manfaatnya.

Dalam konteks ini, pertanyaan yang semakin penting bukan lagi apakah AI akan hadir dalam kehidupan manusia. Kemungkinan besar, AI justru akan semakin terintegrasi dalam berbagai bidang kehidupan. Pertanyaannya adalah bagaimana manusia mempertahankan kapasitas untuk menentukan batas penggunaan teknologi tersebut. Tidak semua pekerjaan perlu diotomatisasi hanya karena secara teknis dapat dilakukan oleh mesin. Tidak setiap kebuntuan berpikir harus segera diselesaikan dengan meminta mesin memberikan jawaban.

Justru dalam masyarakat yang semakin dikelilingi oleh teknologi, kemampuan untuk memilih tidak menggunakan teknologi pada situasi tertentu dapat menjadi bagian penting dari literasi digital. Literasi AI seharusnya tidak hanya mencakup kemampuan menggunakan prompt, mengevaluasi keluaran AI, memahami bias algoritmik, atau memilih model yang paling sesuai. Ia juga perlu mencakup kemampuan untuk mengenali kapan intervensi AI tidak diperlukan dan kapan proses yang lebih lambat, lebih sulit, dan lebih manusiawi justru memiliki nilai tersendiri.

Mungkin karena itu, AI fatigue tidak selalu harus dipahami sebagai masalah yang perlu segera diatasi. Dalam batas tertentu, rasa lelah tersebut dapat menjadi sinyal reflektif terhadap cara kita mengadopsi teknologi. Ketika hampir setiap aktivitas ditawarkan untuk dibantu AI, rasa lelah dapat mengingatkan kita bahwa efisiensi bukan satu-satunya ukuran yang menentukan nilai sebuah aktivitas. Ada proses yang berharga justru karena membutuhkan waktu. Ada kesalahan yang penting karena melalui kesalahan seseorang belajar. Ada kebuntuan yang diperlukan karena dari sana sebuah gagasan dapat berkembang. Dan ada percakapan yang bermakna justru karena berlangsung antarmanusia tanpa perantara mesin.

Pada akhirnya, mungkin yang kita perlukan bukan dunia tanpa AI, melainkan ruang yang tidak selalu membutuhkan AI. Sebab tidak semua yang dapat dilakukan dengan lebih cepat atau lebih baik oleh AI harus kita serahkan kepada AI. Beberapa aktivitas tetap penting dilakukan manusia bukan karena manusia selalu lebih efisien, tetapi karena proses melakukan aktivitas tersebut merupakan bagian dari apa yang membuat pengalaman manusia bermakna.

Mungkin, sesekali, membiarkan pikiran bekerja dengan caranya sendiri bukan tanda bahwa kita tertinggal dari teknologi. Justru di tengah dunia yang semakin dipenuhi oleh kecerdasan buatan, kemampuan untuk berhenti sejenak, berpikir sendiri, merasakan sesuatu tanpa bantuan mesin, dan memilih untuk tidak menggunakannya dapat menjadi salah satu bentuk penting dari mempertahankan kemanusiaan.

Berita Lainnya

Rekomendasi