REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Moh. Toifur (Dosen Fisika Universitas Ahmad Dahlan)
Swasembada pangan tidak cukup dibicarakan dari seberapa banyak pangan yang diproduksi. Ada pertanyaan yang lebih mendasar: apakah orang-orang yang berada di belakang produksi pangan itu dapat hidup layak dari pekerjaannya?
Pertanyaan ini penting bagi peternak rakyat. Memiliki ternak belum tentu berarti memperoleh keuntungan memadai. Kelompok BETERNAK dan Kelompok LANTERA di Kalurahan Argodadi, Bantul misalnya. Melalui program pemberdayaan masyarakat Universitas Ahmad Dahlan mencatat, harga domba hidup di tingkat peternak berada pada kisaran Rp 38 ribu–Rp 43 ribu per kilogram. Pada saat yang sama, pakan pembesaran sekitar Rp 5.500 per kilogram dengan kebutuhan yang dapat mendekati satu kilogram per ekor per hari. Ketika musim kemarau datang dan rumput semakin sulit diperoleh, biaya pemeliharaan semakin menekan keuntungan.
Dalam situasi seperti itu, peternak akan melakukan hal-hal bisa merugikan dan mengabaikan keuntungan yang lain selain menjual kambing. Padahal kandang setiap hari menghasilkan sesuatu yang selama ini dianggap limbah, sebut saja kotoran ternak. Padahal, kotoran dapat diolah menjadi pupuk organik dan media tanam. Pupuk membantu tanaman tumbuh, sementara sebagian tanaman dapat dikembangkan sebagai pakan ternak.
Inilah ekonomi sirkular dalam bentuk yang paling dekat dengan kehidupan desa. Tidak membutuhkan teknologi mahal untuk memulainya. Yang dibutuhkan adalah keberanian mengubah cara pandang, limbah menjadi kemungkinan awal dari produksi berikutnya. Tetapi potensi peternakan tidak berhenti pada pupuk dan pakan, ini lah pentingnya pengetahuan peternak.
Kita bisa belajar pada peternak lansia, mereka tentu memiliki pengalaman bertahun-tahun dalam merawat ternak, mengenali tanaman pakan, menjaga kandang, dan memahami perubahan kondisi hewan. Bagi mereka, semua itu mungkin pekerjaan biasa. Namun bagi anak-anak yang tumbuh jauh dari kehidupan peternakan, pengetahuan tersebut bisa menjadi pengalaman belajar yang berharga untuk mengembangkan ternah lebih besar.
Pendekatannya bukan sekadar menambah pendapatan, tetapi memperpanjang nilai ekonomi dari aktivitas peternakan sekaligus membuka ruang bagi lansia untuk tetap aktif, produktif, berinteraksi, dan berbagi pengalaman. Dan memberikan ruang bagi anak muda untuk berani mengembangkan pola. Di luar itu semua, anak-anak muda juga bisa menjadikan proses pembentukan dan membangun ternak desa dijadikan konten creator yang tidak akan ada habisnyanya sekaligus menjadi promosi ternak desa.
Maka kandang tidak harus berhenti sebagai tempat memelihara ternak. Ternak menghasilkan kotoran. Kotoran menjadi pupuk. Pupuk membantu tanaman. Tanaman menyediakan pakan. Kandang menjadi tempat belajar. Pengalaman peternak menjadi pengetahuan bagi generasi berikutnya. Teknologi digital kemudian dapat digunakan untuk memperkenalkan produk dan pengalaman tersebut kepada pasar yang lebih luas.
Rantainya sederhana, tetapi gagasannya besar. Tentu saja swasembada pangan pada akhirnya bukan hanya soal berapa banyak ternak yang diproduksi, melainkan juga seberapa sejahtera orang yang memproduksinya. Karena itu, mungkin sudah saatnya kita mengubah pertanyaan tentang ekonomi desa. Bukan lagi, Berapa kambing yang bisa dijual melainkan berapa banyak nilai yang bisa diciptakan dari satu ekosistem peternakan.
Jawabannya bisa saja lebih banyak daripada yang kita bayangkan. Dan mungkin, perubahan ekonomi desa memang tidak selalu dimulai dari modal besar. Bisa dimulai dari sesuatu yang selama ini kita abaikan.