YOGYAKARTA -- Suhu udara di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terasa semakin panas dalam beberapa waktu terakhir. Berdasarkan catatan Stasiun Klimatologi DIY, suhu maksimum mencapai 35,2 derajat Celcius pada 3 Oktober 2026. Kondisi ini diperkirakan masih berpotensi berlanjut sepanjang bulan ini.
"Dari catatan di Stasiun Klimatologi DIY, suhu maksimum tertinggi tahun 2026 ada di tanggal 3 Oktober sebesar 35,2 derajat Celsius. Oktober ini potensinya masih tinggi suhu panasnya," kata Kepala Stasiun Klimatologi Kelas II BMKG Yogyakarta, Mamenun saat dihubungi Republika, Jumat (16/10/2026).
Ia menjelaskan, kondisi tersebut dipengaruhi sejumlah faktor, salah satunya posisi gerak semu matahari yang berada di selatan ekuator dan melintasi Pulau Jawa. Posisi tersebut membuat wilayah DIY menerima radiasi matahari secara maksimal.
Selain itu, minimnya tutupan awan turut menyebabkan penyinaran matahari lebih intensif mencapai permukaan bumi. Kondisi ini juga diperkuat oleh musim kemarau yang masih berlangsung.
"Kemudian pengaruh musim kemarau, dan El Nino masih di level sangat kuat," ujarnya.
Mamenun menyebut, kondisi tersebut dapat mengurangi peluang terjadinya hujan dan memperpanjang periode kering sehingga pemanasan permukaan berlangsung lebih intensif. Dalam infografis yang dirilis Stasiun Klimatologi DIY, kelembapan udara juga disebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi sensasi panas. Kelembapan yang rendah dapat membuat udara terasa lebih kering.
Meski suhu maksimum tahun ini mencapai 35,2 derajat Celsius, angka tersebut belum melampaui rekor tertinggi dalam catatan historis Stasiun Klimatologi DIY selama periode 2015–2025. BMKG mencatat suhu maksimum mencapai 36,8 derajat Celcius pada 12 Oktober 2024.
"(Suhu) 36.8 derajat Celcius merupakan suhu maksimum tertinggi yang tercatat pada tahun 2024 atau tepatnya 12 Oktober 2024 berdasarkan data riwayat suhu maksimum tahunan," ungkapnya.
BMKG kemudian mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama ketika beraktivitas di luar ruangan pada siang hari. Masyarakat disarankan membatasi aktivitas di bawah terik matahari secara langsung, mencukupi kebutuhan air putih, serta menggunakan pelindung seperti topi, payung, dan tabir surya ketika harus beraktivitas di luar ruangan.
Selain itu, masyarakat juga diminta mengenali gejala dehidrasi dan kelelahan akibat panas. Apabila tubuh mulai terasa lemas, pusing, atau mengalami keluhan setelah terpapar panas, masyarakat sebaiknya segera beristirahat di tempat yang lebih sejuk. "Pantau informasi cuaca terkini dari BMKG. Mengenali suhu dan memahami iklim melalui data riwayat/historis suhu maksimum menjadi informasi penting untuk memahami karakteristik suhu wilayah D.I Yogyakarta dan mendukung kewaspadaan terhadap kondisi suhu panas," ujarnya.