Kamis 18 Feb 2021 23:40 WIB

Butuh Solidaritas Antarnegara untuk Selesaikan Pandemi

Pandemi Covid-19 yang terjadi di seluruh dunia harus diselesaikan dengan kerja sama.

Rep: Rr Laeny Sulistyawati/ Red: Mas Alamil Huda
Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito memaparkan perkembangan penanganan Covid-19 dalam keterangan pers di Graha BNPB, Selasa (16/2) yang juga disiarkan kanal YouTube Sekretariat Presiden. Penerapan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) tingkat kabupaten/kota ditambah PPKM Mikro tingkat RT/RW, menghasilkan dampak yang signifikan terhadap perkembangan kasus Covid-19.
Foto: Satgas Covid-19
Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito memaparkan perkembangan penanganan Covid-19 dalam keterangan pers di Graha BNPB, Selasa (16/2) yang juga disiarkan kanal YouTube Sekretariat Presiden. Penerapan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) tingkat kabupaten/kota ditambah PPKM Mikro tingkat RT/RW, menghasilkan dampak yang signifikan terhadap perkembangan kasus Covid-19.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan, pandemi Covid-19 yang terjadi di seluruh dunia harus diselesaikan dengan kerja sama. Solidaritas antarnegara menjadi sangat penting dalam upaya penyelesaian pandemi yang tidak bisa dilakukan secara parsial.

"Kalau Indonesia (disebut) akan menghilangkan Covid-19, itu tidak akan mampu karena pandemi ini terjadi di seluruh dunia," ujarnya saat mengisi Diskusi Change.org bertema 'Telisik Sebelum Disuntik: Mengawal Program Vaksinasi Covid-19', Kamis (18/2).

Artinya, dia melanjutkan, solidaritas antarnegara untuk menyelesaikan pandemi ini tentu penting. Kalau ego dikedepankan, masalah pandemi ini takkan selesai. Sebagai bangsa terbesar keempat di dunia, kontribusi Indonesia terhadap penyelesaian pandemi tentunya besar.  "Maka dari itu harapan pada Indonesia besar dan kita tidak boleh emosional," ujarnya.

Wiku percaya kalau Indonesia fokus pada strategi ke depan bisa fokus untuk memenangkan peperangan melawan virus ini. Sehingga, Indonesia diharapkan bisa menjernihkan pikiran dalam menghadapi virus ini. Ia mengakui, vaksin yang tengah dilakukan Indonesia adalah salah satu tameng untuk melawan virus ini karena tengah berhadapan dengan sebuah lawan yang bisa berubah dan nantinya hanya yang sehat dan bugar bertahan (survival of the fittest).

Karena itu, kata Wiku, Indonesia memprioritaskan vaksinasi orang yang memiliki risiko tinggi terutama tenaga kesehatan, kemudian kelompok kedua adalah petugas pelayanan publik. Vaksinasi bertujuan untuk membuat proteksi kolektif. Artinya, harus terbentuk herd immunity yang ada dari skala kecil hingga besar.

Sayangnya, Wiku menambahkan, ketersediaan vaksin masih terbatas, apalagi negara-negara lain juga tengah berebut vaksin. Padahal, saat ini yang penting adalah solidaritas negara-negara. "Kalau kita tidak bersatu di dunia, kita akan kalah," katanya. 

Solidaritas antarnegara ini penting. Kalau ego yang dikedepankan, kata dia, masalah ini tidak selesai. Persoalan semakin bertambah dengan vaksin yang kini tengah dikembangkan hanya untuk strain virus ini.  Wiku melanjutkan, apabila strain virus saat ini berusaha bertahan dan bermutasi jadi strain yang lain, vaksin ini tidak akan efektif. 

"Maka dari itu kita memang harus cepat melakukan vaksinasi tetapi jangan lupa proteksi-proteksi lainnya harus kita lakukan. Vaksin dan protokol kesehatan saling melengkapi," ujar Wiku.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement