Sabtu 13 Mar 2021 01:11 WIB

Eri Targetkan Surabaya Bebas Stunting

Bebas stunting masuk dalam jajaran program utama di Kota Pahlawan.

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Esthi Maharani
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi dan wakilnya Armudji
Foto: Humas Pemprov Jatim
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi dan wakilnya Armudji

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menjelaskan berbagai program yang akan dijalankan dalam upaya mewujudkan komitmen agar Kota Surabaya bebas dari stunting, serta kematian ibu dan anak. Eri menegaskan, program tersebut masuk dalam jajaran program utama di Kota Pahlawan.

“Insya Allah penurunan bayi stunting dan angka kematian ibu dan anak itu menjadi program yang terpenting di Surabaya. Jadi, kami tidak hanya ingin menurunkan, tapi kami harus zero,” kata Eri di Balai Kota Surabaya, Jumat (12/3).

Eri memastikan, apapun arahan dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), mulai dari perhitungannya dan langkah-langkah ke depannya akan terus dikoordinasikan dan disinergikan. Sehingga target Surabaya terbebas dari stunting, serya kematian ibu dan anak bisa tercapai.

Ia juga berharap, ke depannya ketika ada warga yang sudah hamil 4 bulan dan akan masuk ke Surabaya, tidak dimasukkan ke data Pemkot Surabaya. Karena Pemkot Surabaya sudah tidak bisa campur tangan terkait kesehatan bayi dan ibu.

“Tapi kalau dia memang warga Surabaya dan tinggal di Surabaya, maka itu tanggungjawab kami bagaimana bisa mengatasi stunting dan kematian ibu dan anaknya,” ujar Eri.

Eri juga memastikan, selama ini sudah banyak program dan pendampingan yang dilakukan Pemkot Surabaya untuk mengatasi stunting serta angka kematian ibu dan anak ini. Ia juga memastikan, ke depannya kader PKK yang akan mendampingi ibu hamil di setiap RW.

“Jadi, kader-kader dan ibu-ibu PKK yang akan kita gerakkan ke depannya untuk mendampingi ibu-ibu hamil,” kata dia.

Kepala BKKBN Hasto Wardoyo menyatakan kesiapannya membantu Kota Surabaya terbebas dari stunting, serta kematian ibu dan anak. Ia memekankan, visi sang suami harus sama dengan visi pemerintah, yakni agar anaknya bebas dari stunting, ibunya selamat, serta anak yang dilahirkan selamat.

“Saya tidak janjian dengan Pak Wali, tapi ternyata apa yang disampaikan oleh Pak Wali sama dengan yang sudah saya susun di pusat. Bahwa kader dan PKK yang akan menjadi pendamping utama ibu hamil, saya kira gayung bersambut,” ujarnya.

Ia mengatakan, Surabaya bisa menjadi pilot project untuk zero stunting ssrta zero kematian ibu dan anak. Sebab, Surabaya dukungannya sangat kuat dan relatif terjangkau jika dibanding dengan kabupaten lain yang sangat luas.

“Makanya, saya optimis Surabaya bisa menjadi contoh dan pilot project untuk zero kematian ibu,” ujarnya.

Hasto menambahkan, derajat kesehatan bangsa ini ditentukan oleh angka kematian ibu dan angka kematian anak. Artinya, apabila angka kematian ibu dan anak bisa ditekan, maka derajat kesehatan bangsa ini meningkat.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement