Senin 15 Mar 2021 09:06 WIB

Menengok Loji Freemason di Hotel Kota Malang

Awalnya, gedung ini justru dijadikan sebagai tempat dansa, rapat, dan pertemuan.

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Fernan Rahadi
The Shalimar Boutique Hotel Malang
Foto: Republika/Wilda Fizriyani
The Shalimar Boutique Hotel Malang

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Wilda Fizriyani

Gaya klasik begitu terlihat nyata saat memasuki The Shalimar Boutique Hotel Malang. Tidak hanya bentuk bangunannya, barang-barang yang ditampilkan juga seolah-olah membawa pengunjung ke masa kolonial Belanda.

Memasuki ruang depan, pengunjung langsung disuguhi deretan lukisan karya-karya seniman lokal maupun Belanda. Karya-karya seni tersebut menunjukkan sejumlah potret Kota Malang di masa lalu. Beberapa di antaranya seperti lukisan Balai Kota di masa lampau, suasana Kayutangan, dan sebagainya. 

Tak jauh dari area resepsionis, terdapat restoran yang di dalamnya tertata meja dan bangku bergaya klasik. Suasana lawas nampak lebih jelas dengan perpaduan lantai berwarna hitam dan putih. Paduan warna ini disebut sebagai salah satu lambang dari tempat yang pernah dipakai kelompok Freemason.

"Ya, salah satu cirinya ini. Hitam dan putih lantainya," kata General Affairs Manager The Shalimar Butique Hotel, Agoes Basoeki saat ditemui Republika beberapa waktu lalu.

photo
General Affairs Manager The Shalimar Butique Hotel, Agoes Basoeki menunjukkan foto hotel tersebut di masa lalu. - (Republika/Wilda Fizriyani)

 

Bangunan The Shalimar Boutique Hotel Malang sebelumnya telah dibangun sejak 1930-an. Gedung yang dirancang oleh arsitek Mulder ini menggunakan gaya Nieuwe Bouwen. Yakni, menonjolkan bentuk kubus dan beratap lurus pada bangunannya.

Pada masa awal, bangunan The Shalimar Boutique Hotel tidak difungsikan sebagai tempat menginap. Gedung ini justru dijadikan sebagai tempat dansa, rapat dan pertemuan para kolonial Belanda. Salah satunya termasuk menjadi markas para anggota Freemason di masanya.

Agoes tidak tahu pasti berapa lama gedung yang mulanya Maconiece Lodge itu difungsikan sebagai loji Freemason. "Persisnya enggak tahu karena setelah itu ada pelarangan kelompok ekslusif. Itu akhirnya dipakai sebagai gedung RRI Malang," ucap pria yang juga menjabat sebagai Ketua PHRI Malang tersebut. 

Sekitar 1960-an, gedung akhirnya dialihfungsikan menjadi tempat RRI Malang. Di masa ini, logo Freemason yang tertanam di tembok gedung depan dihilangkan. Lambang huruf G yang diapit jangka dan mistar ini diganti dengan pemancar radio khas RRI.

Pada 1993, gedung diambil-alih oleh PT Cakra Nur Lestari yang kini menjadi pemilik hotel The Shalimar Boutique. "Jadi tukar bangunan, bukan beli dengan gedung RRI sekarang. Tapi dulu enggak luas, cuma 2000-an meter persegi. Ini sekarang diperluas sendiri," jelasnya.

Agoes tak menampik, ada beberapa bagian gedung yang diperbaiki selama ini. Namun dia memastikan perubahan itu tidak mengubah bentuk aslinya. Pasalnya, bangunan ini sudah masuk dalam kategori Cagar Budaya di Kota Malang. 

Bangunan resmi menjadi hotel melati pada Desember 1994 dengan nama Malang Inn. Kemudian nama kembali berubah menjadi Graha Cakra pada Juli 1995.  Hal ini lantaran terdapat kebijakan indonesianisasi sehingga nama-nama asing harus diganti.

Tema hotel dari Cakra Graha diubah dari sentuhan Jawa menjadi klasik pada 2014. Nama hotelnya pun diganti menjadi The Shalimar Boutique Hotel pada 10 Desember 2015. Kini hotel yang terletak di Jalan Cerme Nomor 16, Oro-oro Dowo, Klojen, Kota Malang ini sudah di level bintang lima. 

Pengunjung Priyanto (40) mengaku senang bisa menemukan tempat bersejarah di Kota Malang. Apalagi bangunan yang ditemukan pernah menjadi Loji Freemason di masa kolonial Belanda. "Meskipun peninggalan dari kelompok eksklusif Freemason sudah enggak ada, tapi paling tidak bangunan masih ada. Jadi kita seperti saya masih bisa menikmati bangunan bersejarah seperti apa," jelas pria berkacamata ini.

Priyanto juga mengapresiasi kelestarian bangunan yang disajikan Shalimar Boutique Hotel. Sebab, selama ini banyak bangunan sejarah yang dipugar total menjadi toko, rumah, kantor dan sebagainya. Namun pengelola gedung Shalimar masih mempertahankan bentuk aslinya tanpa merusaknya.

 

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement