Ahad 21 Mar 2021 16:09 WIB

Petani Banyumas Kesulitan Jual Hasil Panen

Pedagang beras di pasar-pasar wilayah Banyumas juga kesulitan menjual beras.

Rep: Eko Widiyatno/ Red: Yusuf Assidiq
Petani memanen padi.
Foto: ANTARA/Muhammad Bagus Khoiruans
Petani memanen padi.

REPUBLIKA.CO.ID, BANYUMAS -- Musim panen raya padi di wilayah eks Karesidenan Banyumas, Jawa Tengah, kali ini bukan menjadi musim petani bergembira. Meski hasil panen relatif baik, namun harga gabah anjlok cukup drastis.

''Bukan hanya harga anjlok. Menjualnya pun susah karena tidak ada pedagang yang mau membeli,'' jelas Sudiro (62), petani di Desa Menganti Kecamatan Rawalo Kabupaten Banyumas, Ahad (21/3).

Disebutkan, dalam musim panen awal Maret 2021 lalu, dia mendapatkan gabah kering panen (GKP) sekitar 2,5 ton. Gabah sebanyak itu, sudah dikeringkan menjadi gabah yang siap digiling atau gabah kering giling sebanyak sekitar dua ton.

''Rencananya, sebanyak satu ton akan saya jual untuk kebutuhan lainnya. Beberapa pedagang sudah saya datangi agar membeli gabah saya, tapi tidak ada yang mau membeli karena mereka juga mengaku susah menjualnya,'' katanya.

 

Hal serupa juga dialami para petani di wilayah Cilacap. Dalam percakapan di WA Grup, beberapa petani mengeluh karena kesulitan menjual hasil panennya. ''Saya sedang butuh uang untuk kebutuhan nikah anak saya. Tapi ini mau menjual gabah hasil panen, kok sulitnya minta ampun,'' kata Bambang, seorang warga di Kecamatan Maos.

Ia mengaku, beberapa pedagang sebenarnya menyebutkan harga gabah sekarang sudah anjlok dari harga sebelumnya. Harga kering panen hanya dihargai Rp 3.400-Rp3.600 tergantung jenis padinya, sedangkan harga gabah kering giling hanya lakju Rp 4.600-Rp 4.700 per kg.

''Karena butuh uang, sebenarnya saya tetap akan menjualnya. Tapi ya itu, pedagang  tetap tidak mau beli karena mereka juga kesulitan menjual lagi gabahnya,'' jelasnya.

Eli Martono (55), seorang pedagang beras di Desa Margasana Kecamatan Jatilawang Kabupaten Banyumas, mengakui menghentikan dulu pembelian gabah hasil panen petani. Hal ini karena dia sendiri kesulitan untuk 'membuang' beras yang dibeli dari petani.

''Biasanya kami rutin mengirim beras ke pasar-pasar di Jakarta. Tapi sejak akhir Februari lalu, pedagang beras di Jakarta minta agar tidak didrop beras dulu karena stok mereka masih banyak,'' katanya.

Slamet (48), pemilik penggilingan dan juga pedagang beras di Desa Pegalongan Kecamatan Patikraja Kabupaten Banyumas, bahkan mengaku sudah lama tidak berani membeli gabah dalam jumlah banyak pada petani. Hal ini karena pedagang beras di pasar-pasar wilayah Banyumas  juga kesulitan menjual beras.

''Saya membeli beras petani hanya untuk menyuplai pedagang-pedagang sembako di pasar tradisional. Tapi sejak awal pandemi, pedagang pasar juga kesulitan menjual berasnya pada masyarakat, karena banyak warga mendapat bantuan non tunai dari pemerintah,'' katanya.

Menurutnya, program bantuan non tunai yang dilakukan pemerintah,  tidak hanya menghancurkan kelangsungan usaha dagang beras seperti dirinya. Tapi secara tidak tidak langsung juga telah menyulitkan kehidupan petani.

''Saya tidak tahu beras yang dibagikan dalam program Bantuan Non Tunai itu sebenarnya beras dari mana. Kalau dari petani di dalam negeri, mestinya petani tidak sampai kesulitan menjual hasil panennya,'' jelasnya.

Slamet juga menyebutkan, saat ini harga sudah jatuh di bawah HPP. Harga GKP di tingkat petani hanya Rp 3.400 hingga Rp 3.600 per kg, sedangkan harga GKG hanya Rp 4.500-Rp 4.600 per kg. Sedangkan menurut Harga Pembelian Pemerintah, GKP di tingkat petani sebesar Rp 4.200 per kg dan GKG Rp 5.250 per kg.

''Walaupun harga gabah sudah anjlok, kami tidak bisa membeli gabah petani karena kami juga kesulitan menjualnya lagi,'' kata dia.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement