Rabu 31 Mar 2021 19:55 WIB

Peneliti UNS Ciptakan Alat Pirolisis Limbah

Penemuan ini dilatarbelakangi produksi sampah yang mencapai puluhan juta ton pertahun

Rep: Binti Sholikah/ Red: Fernan Rahadi
Alat Pirolisis Limbah hasil penelitian dari sejumlah dosen Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo. Alat pirolisis tersebut dapat menangani limbah domestik hingga limbah medis Covid-19.
Foto: dok Humas UNS
Alat Pirolisis Limbah hasil penelitian dari sejumlah dosen Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo. Alat pirolisis tersebut dapat menangani limbah domestik hingga limbah medis Covid-19.

REPUBLIKA.CO.ID, SOLO -- Sejumlah dosen dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo menciptakan produk inovatif berupa Alat Pirolisis Limbah yang dapat menangani limbah domestik hingga limbah medis Covid-19.

Tim peneliti yang tergabung dalam Analytical Chemistry Research Group tersebut terdiri dari Pranoto, Khoirina Dwi N, Dian Maruto Widjonarko, dan Dwi Aries Himawanto.

Pranoto menuturkan, pembuatan pirolisis limbah dilatarbelakangi fakta banyaknya produksi sampah di Indonesia yang mencapai puluhan juta ton per tahun. Terlebih, adanya limbah medis Covid-19 saat ini semakin menambah jumlah tersebut.

Guru Besar Bidang Kimia Lingkungan Air tersebut menjelaskan, alat yang selesai setahun lalu itu dapat digunakan untuk melakukan pembakaran limbah atau sampah secara sempurna yang disebut dengan pirolisis. Yakni, pembakaran tanpa efek samping dan tanpa luaran gas padat maupun cair.

Benda yang dapat dibakar melalui alat tersebut meliputi berbagai zat organik maupun anorganik dari limbah domestik, medis, dan lain-lain. Misalnya, daun-daunan, batang, kayu, dan bonggol jagung untuk zat organik. Sementara zat anorganik, contohnya plastik, styrofoam, alat pelindung diri (APD), masker, botol infus, dan limbah infeksius lainnya.

"Zat organik dan anorganik bisa dihancurkan di situ. Segala hal yang berbau medis bisa dibakar di situ. Jadi tidak mencemari lingkungan. Hanya karena sekarang penanganan Covid-19, saya konsentrasi pada limbah-limbah medis," jelas Pranoto, seperti tertulis dalam siaran pers, Rabu (31/3).

Awalnya, alat pirolisis limbah diperuntukkan untuk lingkup rumah tangga terlebih dahulu. Tetapi kemudian, Pranoto dan tim dapat merancang dalam bentuk lebih besar bagi rumah sakit, puskesmas, dan klinik yang memerlukan.

Harapannya dengan alat ini, sampah yang dihasilkan mulai skala rumah tangga dapat ditangani langsung dari sumbernya. Sehingga tidak terbuang begitu saja ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

"Solo punya 300 ton per hari limbah domestik. Jika dari sumbernya sudah ditekan dengan pirolisis ini, berarti yang dibuang ke TPA sedikit. Bahan bakar pirolisis dengan LPG atau oli juga lebih murah," imbuhnya.

Selain dapat menangani sampah, pembakaran dengan alat pirolisis tersebut juga mampu menghasilkan hal bermanfaat lainnya. Limbah atau sampah yang dibakar dapat berubah menjadi arang (briket), tir (aspal) cair, bahkan menjadi minyak.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement