Ahad 11 Apr 2021 18:39 WIB

Pakar: Lempeng Selatan Malang Mudah Patah

Jatim tercatat pernah mengalami gempa besar pada 1967.

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Fernan Rahadi
Warga mengumpulkan barang berharga miliknya di antara reruntuhan rumah yang rubuh akibat gempa di Desa Kali Uling, Lumajang, Jawa Timur, Ahad (11/4/2021). . Sekitar ratusan rumah warga di wilayah itu rusak akibat gempa bermagnitudo 6,1 SR yang terjadi di Kabupaten Malang pada Sabtu (10/4).
Foto: ANTARA/Zabur Karuru
Warga mengumpulkan barang berharga miliknya di antara reruntuhan rumah yang rubuh akibat gempa di Desa Kali Uling, Lumajang, Jawa Timur, Ahad (11/4/2021). . Sekitar ratusan rumah warga di wilayah itu rusak akibat gempa bermagnitudo 6,1 SR yang terjadi di Kabupaten Malang pada Sabtu (10/4).

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG -- Guru Besar Bidang Geofisika Kebencanaan dan Eksplorasi Sumberdaya Alam dari Universitas Brawijaya (UB), Profesor Adi Susilo mengatakan, lempeng di wilayah selatan Malang termasuk yang sudah berusia tua. Hal ini mengartikan lempengannya mudah patah sehingga berpotensi besar mengalami gempa.

Berdasarkan analisis Adi, potensi gempa berkekuatan magnitudo 6 sampai 7 di selatan Malang sebenarnya kecil. Begitu pula dengan kekuatan 8 maupun 9 SR, ini berpotensi sangat kecil terjadi di Malang. "Enam itu pun akan jarang-jarang. Yang banyak itu (magnitudo) empat dan lima cukup banyak," ucap Adi saat dihubungi Republika, Ahad (11/4).

Adi sendiri sempat merilis hasil analisisnya mengenai gempa pada 2006 lalu. Hal ini dilakukan setelah Indonesia diterpa banyak gempa, baik di Yogyakarta, Pangandaran dan sebagainya. Kejadian tersebut membuat masyarakat panik dan menerka-nerka waktu kejadian gempa di Indonesia. 

Pada salah satu analisisnya, Adi memfokuskan pada periodisasi gempa besar yang terjadi di Jawa Timur (Jatim). Jatim tercatat pernah mengalami gempa besar pada 1967. Tidak ada yang tahu besaran gempa tersebut, mengingat alat pendeteksi belum secanggih saat ini.

 

Berdasarkan laporan yang ada, gempa 1967 telah memberikan dampak kerusakan cukup besar.  "Rusak sekian di daerah Dampit, Gondanglegi, ke arah barat banyak yang rusak. Pusatnya juga masih belum modern saat itu. Sehingga tidak diketahui berapa kekuatan, hanya kisaran kerusakan di daerah ini. Ada rumah hancur dan meninggal. Itu saja," kata Adi.

Selanjutnya, peristiwa gempa besar di Jatim kembali terjadi pada 1994. Gempa yang terjadi di Banyuwangi tercatat memiliki kekuatan sebesar 7,6 SR. Peristiwa ini menyebabkan rumah rusak, ratusan warga terluka dan meninggal. 

Dari catatan sejarah gempa ini, Adi pun memetakan periodisasi gempa besar kemungkinan terjadi setiap 20 sampai 30 tahun. Hasil analisis Adi pada 2006 lalu menyimpulkan peristiwa tersebut kemungkinan akan terjadi pada 2010 atau 2020. "Itu memang 27 tahun (jarak dengan 1994). Jadi kayak kok pas juga 27 tahun," kata dia.

Meski Jawa Timur memiliki potensi gempa besar, hal ini bukan berarti masyarakat harus panik. Yang perlu diterapkan pada diri masing-masing warga itu kewaspadaannya. "Biasa tapi dalam posisi waspada. Yang utama itu," ungkapnya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement