Senin 05 Jul 2021 09:59 WIB

Sleman Aktifkan RS Darurat Pekan Depan

Disiapkannya RS Darurat sebagai langkah antisipasi terhadap tingginya kasus Covid-19.

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Fernan Rahadi
Pasien Covid-19 menjalani perawatan di tenda darurat khusus Covid-19 Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr Sardjito, Yogyakarta, Ahad (4/7). Posko Dukungan Operasi Satgas COVID-19 BPBD DIY mengonfirmasi sebanyak 63 pasien di RSUP Dr Sardjito Yogyakarta meninggal dunia dalam sehari semalam pada Sabtu (3/7) hingga Ahad (4/7) pagi akibat menipisnya stok oksigen.
Foto: Wihdan Hidayat / Republika
Pasien Covid-19 menjalani perawatan di tenda darurat khusus Covid-19 Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr Sardjito, Yogyakarta, Ahad (4/7). Posko Dukungan Operasi Satgas COVID-19 BPBD DIY mengonfirmasi sebanyak 63 pasien di RSUP Dr Sardjito Yogyakarta meninggal dunia dalam sehari semalam pada Sabtu (3/7) hingga Ahad (4/7) pagi akibat menipisnya stok oksigen.

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Tingginya penyebaran Covid-19 di Kabupaten Sleman telah menyebabkan jumlah pasien yang harus dirawat di rumah sakit juga meningkat. Bahkan, RS-RS yang ada tidak jarang harus meminjamkan oksigen satu sama lain karena kebutuhan yang tinggi.

Bupati dan Wakil Bupati Sleman juga mulai melakukan peninjauan ke RS Respati yang akan difungsikan sebagai RS Darurat untuk penanganan pasien Covid-19 di Sleman. Jika tidak ada kendala, rencananya RS Darurat akan diaktifkan 12 Juli 2021 mendatang.

Bupati Sleman, Kustini Purnomo mengatakan, peninjauan tersebut dilakukan untuk mendapatkan informasi langsung mengenai kesiapan RS Respati. Serta, melihat sarana dan prasarana yang ada mengingat fungsinya akan sebagai RS Darurat pasien Covid-19.

"Disiapkannya RS Darurat untuk penanganan covid ini merupakan salah satu usaha dalam penanganan kasus Covid-19 di Sleman saat ini. RS Darurat ini perlu kita siapkan mengingat kasus Covid-19 di Sleman akhir-akhir ini mengalami kenaikan," kata Kustini, Sabtu (3/7).

Senada, Wakil Bupati Sleman, Danang Maharasa menuturkan, disiapkannya RS Darurat itu memang sebagai langkah antisipasi terhadap tingginya kasus Covid-19 di Sleman. Terutama, tempat isolasi bagi masyarakat karena RS-RS yang ada kerap penuh.

Ia mengungkapkan, RS Darurat rencananya dapat menampung 200 pasien, walau sampai saat ini baru bisa menampung sekitar 50 pasien. Danang menyebut, keterbatasan ruang di RS Darurat karena masih dilakukan penyempurnaan fasilitas dan penyediaan SDM.

"Kapasitas seluruhnya bisa sampai 200, namun sementara akan menampung 50 pasien. Masih dilakukan penyempurnaan terlebih dulu dan rencana akan diluncurkan 12 Juli 2021," ujar Danang.

Usai peninjauan RS Darurat untuk penanganan Covid-19, Bupati dan Wakil Bupati Sleman bersama rombongan melanjutkan peninjauan ke beberapa tempat yang dijadikan shelter Covid-19. Itu merupakan lokasi karantina bagi pasien dengan kategori tanpa gejala.

Beberapa lokasi antara lain homestay di Kalurahan Purwomartani Kapanewon Kalasan, Wisma Sembada di Kapanewon Pakem, Shelter Kalurahan Tamanmartani dan Shelter Kalurahan Candibinangun yang berlokasi di pusat pelatihan milik perusahaan swasta. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement