Senin 05 Jul 2021 19:51 WIB

Ratusan Santri As-Sukarti Salatiga Siap Jadi Pendonor Plasma

Bersedia menjadikan Ponpes As-Sukarti sebagai lumbung donor plasma konvalesen.

Rep: Bowo Pribadi/ Red: Muhammad Fakhruddin
Ratusan Santri As-Sukarti Salatiga Siap Jadi Pendonor Plasma (ilustrasi).
Foto: Republika/Putra M. Akbar
Ratusan Santri As-Sukarti Salatiga Siap Jadi Pendonor Plasma (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID,SALATIGA -- Ratusan santri Pondok Pesantren (Ponpes) As-Surkati, Kota Salatiga, Jawa Tengah menyediakan diri untuk menjadi pendonor plasma konvalesen, bagi prnyintas Covid-19 yang membutuhkan.

Sebelumnya, ponpes yang beralamat di Jalan Diponegoro No 115, Kecamatan Sidorejo Lor, Kota Salatiga tersebut pernah menjadi klaster penularan Covid-19 di Kota Salatiga, pada November tahun lalu.

Tak kurang 209 orang --baik santri dan pengajar-- di ponpes tersebut terkonfirmasi positif Covid-19 dan harus menjalani karantina di lingkungan pondok, hingga awal Desember 2020 setelah dinyatakan sembuh.

Kini mereka mereka menyediakan diri untuk menjadi donor plasma konvalesen, guna membantu para penyintas Covid-19 di wilayah Kota Salatiga dan sekitarnya.

"Bahkan, jika difasilitasi pemerintah, kami juga bersedia menjadikan Ponpes As-Sukarti sebagai lumbung donor plasma konvalesen," ungkap Koordinator Donor Plasma, Ahmad Ayatul Yaqin, Senin (5/7).

Ia mengungkapkan, dalam sepekan, Ponpes As-Sukarti saat ini bisa  melayani permintaan plasma darah konvalesen bisa mencapai 200-an orang yang disampaikan melalui Whatsapp.

"Itu permintaan melalui pesan, sedangkan permintaan melalui telepon seluler sampai 160-an. Mereka rata-rata dari keluarga pasien, teman, rumah sakit dan bahkan juga dari dokter," tambahnya.

Permintaan dari masyarakat tersebut tidak hanya berasal dari wilayah Koa Salatiga saja, namun juga dari daerah lain, seperti Solo, Semarang, Tangerang, Cirebon dan juga dari Jombang.

Menurut Ayatul, tingginya permintaan pendonor plasma konvalesen tersebut, dalam setiap dua minggu sekali beberapa santri dikirim ke PMI Kota Solo untuk mendonorkan plasma konvalesen mereka.

Karena PMI Kota Salatiga belum dapat memfasilitasi para pendonor plasma darah konvalesen, karena keterbatasan peralatan dan infrastruktur yang dimiliki saàt ini.

Rata- rata dalam dua pekan sekali sebanyak 18 orang santri melakukan donor plasma konvalesen dan sampai sekarang umumnya sudah mendonorkan lebih dari tiga kali.

Setiap santri juga telah diatur bergiliran sesuai periode donor pertama sampai batas maksimum ketentuan PMI, yakni maksimal lima kali donor plasma konvalesen. 

Ia juga menyebut, untuk daerah lain di Jawa Tengah, seperti Karanganyar, Klaten dan Wonosobo juga pernah meminta donor plasma langsung ke pengurus ponpes.

"Itulah alasan bagi kami dan npara santri untuk menyediakan diri mendonorkan plsama konvalesennya. Prinsipnya kami ingin membantu pasien Covid-19 dimanapun," katanya.

Dengan tingginya permintaan tersebut ia, berharap kedepan ada fasilitas dari pemerintah --misalnya PMI Kota Salatiga-- bisa menyediakan peralatan pendukung donor konvalesen.

Karena ada pula orang luar pondok  yang juga  ingin donor plasma bersama para santri. "Sehingga untuk mendonorkannplasma konvalesen santri kami tidak perlu ke Solo," tambahnya.

Hal ini diamini oleh Kepala Madrasah As-Surkati, Abda Laill Isro. Ia mengatakan setelah ratusan santri terpapar Covid-19 kini tidak ada lagi kasus Covid-19 di Ponpes As-Surkati.

Dia bercerita awal mula gerakan donor plasma konvalesen dari pesantren ini karena ada permintaan PMI Kota Solo pada akhir Februari 2021. Selanjutnya, gerakan donor plasma konvalesen bisa dilaksanakan rutin dan terjadwal. 

"Meski demikian, diharapkan ada inisiatif dari Pemerintah untuk bisa menambah fasilitas donor plasma di banyak daerah," tegasnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement