Ahad 08 Aug 2021 15:50 WIB

Kunjungan Wisatawan ke Museum di DIY Masih Rendah

Kunjungan wisatawan ke museum hanya sekitar 10-15 persen per tahun.

Rep: Silvy Dian Setiawan/ Red: Fernan Rahadi
Pengunjung mengamati karya yang dipajang saat pameran seni rupa ARTJOG 2021 bertajuk Time (to) Wonder di Jogja National Museum (JNM), Yogyakarta, Kamis (5/8/2021). Pameran yang menampilkan karya dari 41 seniman di Indonesia itu berlangsung hingga 31 Agustus 2021 dan selama masa PPKM digelar secara daring.
Foto: ANTARA/Andreas Fitri Atmoko
Pengunjung mengamati karya yang dipajang saat pameran seni rupa ARTJOG 2021 bertajuk Time (to) Wonder di Jogja National Museum (JNM), Yogyakarta, Kamis (5/8/2021). Pameran yang menampilkan karya dari 41 seniman di Indonesia itu berlangsung hingga 31 Agustus 2021 dan selama masa PPKM digelar secara daring.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Kunjungan wisatawan ke museum di DIY masih rendah, terlebih di masa pandemi Covid-19. Badan Musyawarah Musea (Barahmus) DIY pun menggelar Festival Museum Yogyakarta sebagai salah satu upaya untuk tetap menghidupkan pariwisata di masa pandemi. 

Ketua Panitia Festival Museum Yogyakarta, GKR Bendara mengatakan, berbagai rangkaian acara festival ini digelar mulai 7 Agustus hingga 12 Oktober 2021 yang bertepatan dengan Hari Museum Indonesia. Acara digelar secara virtual mengingat penyebaran Covid-19 yang masih cukup tinggi di DIY. 

Bendara mengatakan, museum sendiri berkontribusi dalam membangkitkan pariwisata. Namun, sebagai salah satu destinasi wisata saat ini museum sudah mulai terlupakan, terutama bagi generasi muda.

Ia menyebut, kunjungan wisatawan ke museum yang ada di DIY per tahunnya maksimal hanya sekitar 500 ribu wisatawan di masa sebelum pandemi. Sementara, di masa pandemi ini kunjungan semakin turun, terlebih di masa PPKM darurat dan PPKM level 4 yang mana museum tidak beroperasi.

"Museum 10 teratas seperti Museum Keraton misalnya, kita mendapatkan 500 ribu wisatawan satu tahunnya. Sedangkan (museum) lainnya hanya sekitar 100 ribu atau 50 ribu orang per tahun," kata Bendara yang juga Ketua Badan Promosi Pariwisata DIY tersebut dalam konferensi pers yang digelar secara virtual, Sabtu (7/8).

Jika dipersenkan, katanya, kunjungan wisatawan ke museum hanya sekitar 10-15 persen per tahun. Tentu, dengan rendahnya tingkat kunjungan ini menyebabkan pendapatan pun tidak mencukupi untuk operasional museum itu sendiri.

"Kita banyak yang masih di angka 10-15 persen kunjungannya, belum  bisa lebih dari itu. Dengan tiket yang murah dan sebagian besar tiket hanya dua ribu rupiah sampai lima ribu rupiah, tentu ini tidak mudah," ujarnya.

Bendara menyebut, saat ini ada 38 museum yang tergabung dalam Barahmus DIY. Hanya 29 diantaranya yang beroperasi selama pandemi, namun selama PPKM darurat dan PPKM level 4 seluruh museum tidak beroperasi.

"Saat kondisi biasa saja museum sudah cukup kesulitan, karen pandemi banyak yang akhirnya tidak beroperasi," jelas Bendara.

Untuk meningkatkan kunjungan museum dan meningkatkan gairah pariwisata di DIY, pihaknya pun bekerja sama dengan berbagai asosiasi pariwisata. Mulai dari Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) hingga Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI). 

"Kita bekerja sama dengan PHRI, ASITA dan lainnya, sehingga bisa menarik wisatawan untuk datang ke museum. Misalnya dari seluruh perjalanan (salah satunya) wajib kunjungan ke museum," katanya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement