Senin 30 Aug 2021 16:09 WIB

Ganjar Pantau Protokol Kesehatan Saat PTM Terbatas

Setiap kelas maksimal 50 persen dari total rombongan belajar.

Rep: S Bowo Pribadi/ Red: Muhammad Fakhruddin
Gubernur Jawa tengah, Ganjar Pranowo di sela aktivitas bersepeda memantau pelaksanaan prokes pada pelaksanaan PTM terbatas di SMPN 13 Semarang, Senin (30/8).
Foto: Dok Humas Prov. Jateng
Gubernur Jawa tengah, Ganjar Pranowo di sela aktivitas bersepeda memantau pelaksanaan prokes pada pelaksanaan PTM terbatas di SMPN 13 Semarang, Senin (30/8).

REPUBLIKA.CO.ID,SEMARANG — Sejumlah sekolah penyelenggaran boleh mengklaim hari pertama pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas di sekolah, bisa berjalan dengan baik, tak terkecuali dengan penerapan protokol kesehatan (prokes) di lingkungan sekolah.

Namun Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo –rupanya—memiliki penilaian sendiri, setelah menyempatkan untuk memantau pelaksanaannya di sejumlah sekolah yang ada di wilayah Kota Semarang, Senin (30/8).

Menurutnya, masih ada beberapa catatan yang perlu dievaluasi oleh sekolah penyelenggara agar pelaksanaan PTM terbatas di sekolah benar- benar menerapkan prokes maupun SOP pencegahan yang lebih baik di lingkungan sekolah.

Misalnya, saat memantu pelaksanaan PTM terbatas di SMPN 13 Semarang. Sebelumnya gubernur memang menyempatkan untuk melakukan pengecekan sejumlah sarana dan prasarana (sarpras) pendukung prokes di sekolah tersebut.

Tak hanya itu, orang nomor satu di Provinsi Jawa Tengah ini juga mengamati dengan teliti bagaimana penerapan prokes saat pelaksanaan PTM terbatas, dilaksanakan oleh siswa dan para guru.

Mulai dari siswa datang, dicek suhu, cuci tangan dan masuk ke dalam kelas. Dari pengamatannya tersebut, gubernur pun menyampaikan masih ada hal yang harus dievaluasi, yakni siswa masih berkerumun saat mereka menunggu giliran untuk mencuci tangan.

Melihat itu, gubernur pun langsung menyampaikan kepada guru di SMPN 13. “Pak yang seperti ini harus dievaluasi. Kalau bisa tempat cuci tangannya ditambah, jaraknya juga diatur lebih renggang lagi,” ungkapnya kepada salah satu guru.

Berikutnya, gubernur juga masuk ke beberapa ruang kelas yang digunakan untuk Kegiatan PTM terbatas. Di dalam ruang kelas terlihat penataan ruangan sudah dilakukan, dengan meja siswa berjarak dan diberi sekat- sekat dari plastik.

Secara umum, gubernur melihat sekolah benar- benar siap dalam menyiapkan sarana dan prasarana pendukung SOP pencegahan di dalam ruangan kelas, baik jaraknya dan penggunaan  sekatn transparan.

Kepada pimpinan SMPN 13 Semarang, ia pun mewanti-wanti agar pihak sekolah memastikan betul pelaksanaan protokes selama PTM terbatas. Tidak hanya di lingkungan sekolah, tetapi juga memastikan prokes dilakukan siswa sejak berangkat hingga pulang ke rumah.

“Anak-anak mesti dicek sejak awal, siapa yang mengantar dan bagaimana mereka pulang. Saran saya yang mengantar adalah orang tuanya, sehingga bisa menjamin mereka sehat dan tidak mampir ke mana- mana setelah Kegiatan di sekolah selesai,” tegasnya.

Dari sisi protokol kesehatan, umumnya persiapan sekolah sudah bagus, tetapi implementasi di lapangan memang perlu perbaikan, seperti misalnya saat para peserta didik antre juga harus ditekankan betul.

“Mereka belum biasa mengantre, jadi kalau mau cuci tangan mereka masih berebut di wastafel sehingga terjadi potensi kontak. Maka saya minta dievaluasi,” lanjutnya.

Bahkan untuk meminimalkan kerumunan antrean siswa, sekolah juga diminta untuk membuat garis atau jalur- jalur khusus memungkinkan tidak terjadi kontak siswa, misalnya di tempat cuci tangan, jalur masuk kelas dan lainnya.

Dari sisi kelas, konsepnya sudah bagus. Ada jarak yang dibuat dan disekat menggunakan plastik. Jam pelajaran juga dibatasi dengan jumlah siswa yang hanya separuh dari kapasitas ruangan kelas.

Maka ia pun meminta semua sekolah yang menggelar PTM terbatas di Jawa Tengah benar- benar melaksanakan protokol kesehatan. Tidak boleh ada yang abai terkait hal itu, karena ini menyangkut keselamatan siswa,” tandas gubernur.

Terpisah, Plt Kepala Sekolah SMPN 13 Semarang, Joko Winarno mengatakan, PTM terbatas di sekolahnya digelar dengan prokes ketat. Siswa yang masuk dibatasi 50 persen dan jam belajar dibatasi hanya dua jam per hari.

Setiap kelas maksimal 50 persen dari total rombongan belajar (rombel). “Kalau satu rombel itu ada 32 siswa, maka yang masuk sekolah hanya 16 siswa, sisanya tetap belajar PJJ dari rumah,” ungkapnya.

Joko mengatakan, dalam sehari siswa hanya akan belajar empat mata pelajaran (mapel) dengan estimasi waktu maksimal 30 menit per mata pelajaran. “Dalam sepekan, kami menggelar PTM terbatas, efektif selama empat hari,” jelasnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement