Kamis 21 Oct 2021 11:00 WIB

Aliansi Dosen Dinilai tak Representasikan Civitas UNJ

ADU dinilai terburu-buru menolak wacana pemberian gelar HC terhadap kedua tokoh.

Kampus Universitas Negeri Jakarta
Foto: kampusunj.com
Kampus Universitas Negeri Jakarta

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Puluhan civitas academica UNJ yang tergabung dalam Komunitas Peduli Pendidikan merespons penolakan yang dilakukan Aliansi Dosen UNJ terhadap pemberian gelar Doktor Honoris Causa kepada KH Ma’ruf Amin dan Erick Thohir oleh Universitas Negeri Jakarta (UNJ).   Komunitas Peduli Pendidikan menilai, Aliansi Dosen UNJ (ADU) yang merupakan gerakan segelintir dosen, tepatnya hanya terdiri atas empat orang dosen, tidak merepresentasikan opini umum dosen UNJ apalagi civitas academica UNJ. 

"Kami warga UNJ yang tergabung dalam Komunitas Peduli Pendidikan merasa perlu mengeluarkan beberapa pernyataan. Manuver-manuver yang dilakukan oleh ADU sangat politis dan justru menciptakan suasana kampus yang tidak kondusif untuk mencapai visi misi UNJ," ujar Koordinator Komunitas Peduli Pendidikan, Andi Hadiyanto, dalam keterangannya, Rabu (20/10)

Sebagai warga UNJ, kata Andi, orang-orang yang tergabung dalam ADU melemparkan tudingan yang tendesius menginjak-injak marwah kampus mereka sendiri. “ADU  menyatakan diri sebagai gerakan penyelamat dan reformasi di kampus UNJ, namun realitasnya justru melukai perasaan dan logika civitas academica UNJ dan melakukan pembusukan di kampus di mana mereka hidup dan dibesarkan," katanya.

Ia mengatakan, ADU terlalu terburu-buru menolak wacana pemberian gelar Doktor HC terhadap kedua tokoh di atas, dengan menggunakan argumen yang  tidak didasari oleh informasi yang utuh dan valid. “Mengimbau civitas academica UNJ untuk bersama-sama membangun dan merawat kebebasan dan moral akademik dengan menjunjung tinggi kultur akademik," tutur dosen Jurusan Pendidikan Agama Islam UNJ itu.

Menurut Andi, pernyataan ADU terkait tidak adanya otonomi, kebebasan, dan moral akademik di lingkungan civitas academica UNJ saat ini adalah sikap hipokrit dan anti realitas. Dia pun mengajak dosen-dosen anggota ADU untuk melakukan dialog dan klarifikasi informasi  terlebih dahulu dengan pihak-pihak terkait di kampus, sebelum mengeksposnya ke ranah publik.

"Mengimbau seluruh civitas academica UNJ untuk mengedepankan spirit kekeluargaan sebagai warga UNJ  dalam menyampaikan kritik dan saran," kata Andi. 

Demi  menjaga marwah kampus, pihaknya mengimbau seluruh sivitas akademika UNJ agar tetap solid dan fokus untuk merealisasikan visi mulia UNJ “menjadi kampus bereputasi di tingkat Asia”. Selain itu, Andi menuturkan agar berbagai pihak di luar UNJ untuk menghormati setiap kebijakan internal UNJ, mengingat proses penetapannya telah dilakukan melalui mekanisme sesuai dengan aturan yang berlaku," katanya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement