Senin 08 Nov 2021 14:15 WIB

Cerita di Balik Lukisan Perang Sultan Agung Melawan JP Coen

Replika lukisan berukuran 3x10 meter juga ditampilkan dalam pameran itu.

Rep: Binti Sholikah/ Red: Yusuf Assidiq
Pameran sketsa lukisan pertempuran Sultan Agung melawan JP Coen karya S Sudjojono yang dipamerkan di Tumurun Private Museum, Solo, Jawa Tengah, sejak 28 Agustus 2021-28 Februari 2022 mendatang.
Foto: Republika/Binti Sholikah
Pameran sketsa lukisan pertempuran Sultan Agung melawan JP Coen karya S Sudjojono yang dipamerkan di Tumurun Private Museum, Solo, Jawa Tengah, sejak 28 Agustus 2021-28 Februari 2022 mendatang.

REPUBLIKA.CO.ID, SOLO -- Sultan Agung merupakan raja ketiga Kesultanan Mataram yang memerintah dari 1613-1645. Perjuangan raja sekaligus panglima perang yang melawan Belanda diabadikan oleh pelukis, S Sudjojono, dalam lukisan berukuran 3x10 meter yang saat ini disimpan di Museum Sejarah Jakarta.

Lukisan tersebut menggambarkan pertempuran antara pasukan Sultan Agung melawan pasukan Belanda yang dipimpin Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Jan Pieterszoon Coen (JP Coen). Di balik lukisan yang telah berusia 48 tahun tersebut, terdapat cerita di balik pembuatan lukisan yang dituangkan S Sudjojono dalam 38 sketsa.

Pelukis kelahiran 1913 ini melakukan riset hingga ke Belanda untuk menghasilkan maha karya pesanan Gubernur DKI Ali Sadikin waktu itu. Sebanyak 38 sketsa tersebut dipamerkan dalam pameran bertajuk Mukti Negeriku di Tumurun Private Museum, Solo, Jawa Tengah, sejak 28 Agustus 2021 sampai 28 Februari 2022 mendatang.

Replika lukisan berukuran 3x10 meter juga ditampilkan dalam pameran itu. Mukti Negeriku mengangkat dua sosok yakni Sultan Agung dan S Sudjojono. Pameran menyajikan sejarah Sultan Agung dan sejarah S Sudjojono.

Panel pertama menampilkan Sindudarsono Sudjojono yang dikenal sebagai Bapak Seni Lukis Modern Indonesia. Dilanjutkan panel kedua yang menceritakan perjalanan Sudjojono dengan organisasi Persagi (Persatuan Ahli-Ahli Gambar Indonesia).

Selain melukis, Sudjojono juga suka menulis. Tulisan-tulisannya yang selama ini disimpan di SS Center juga ditampilkan. Termasuk, pakaian dan alat-alat melukis milik Sudjojono.

Pemandu Tumurun Private Museum, Sofyan Prasetyo menjelaskan, lukisan Sultan Agung merupakan pesanan khusus Gubernur Ali Sadikin untuk peresmian pembukaan gedung Museum Sejarah Jakarta pada 1974. Saat itu, Sudjojono mengajukan nilai kontrak pembuatan lukisan sebesar Rp 7,5 juta, namun hanya disetujui Rp 5 juta.

Selanjutnya, Sudjojono melakukan riset di selama tiga bulan di Jakarta, Solo, dan Belanda untuk mencari fakta-fakta tentang pertempuran Sultan Agung melawan JP Coen. "Melalui riset di Indonesia dan Belanda di Legermuseum, Pak Sudjojono menemukan fakta-fakta pertempuran Sultan Agung melawan JP Coen," kata Sofyan.

Lukisan yang selesai dibuat 1974 ini baru direstorasi 34 tahun kemudian yakni pada 2008. Restorasi melibatkan Balai Konservasi Singapura dan Indonesia. Sofyan menjelaskan, lukisan Sultan Agung tersebut dibagi menjadi tiga bagian.

Bagian pertama menceritakan Sultan Agung bersama orang-orang di sekitarnya. Bagian kedua, menceritakan pertempuran melawan JP Coen. Sedangkan bagian ketiga berisi pertemuan antara JP Coen dengan utusan Sultan Agung yakni Kiai Rangga.

Pertemuan tersebut bertujuan untuk mendapatkan kesepakatan agar Belanda tidak menyerang Batavia. Dalam pertemuan itu digambarkan terjadi di Pelabuhan Sunda Kelapa dimana Kiai Rangga membawa 14 kapal berisi gabah. Namun, ternyata JP Coen menolak tawaran Kiai Rangga dan akhirnya terjadilah pertempuran memperebutkan Batavia.

Jiwa nasionalisme tinggi

Dalam sketsa yang menggambarkan posisi duduk Sultan Agung dan orang-orang sekitarnya, Sudjojono menggambarkan Sultan Agung mengenakan beskap. Namun, dalam lukisan, Sultan Agung digambarkan mengenakan rompi. "Hal itu menggambarkan Sultan Agung sebagai raja sekaligus panglima perang," jelas Sofyan.

Wajah Sultan Agung yang dilukis tersebut terinspirasi dari wajah Hamengku Buwono III. Dalam sketsa, Sultan Agung digambarkan memiliki kumis, tetapi di lukisan tidak berkumis. Pada sketsa lainnya juga digambarkan posisi pasukan JP Coen saat berperang melawan pasukan Sultan Agung.

Selama ini, masyarakat mengetahui pasukan JP Coen hanya orang-orang Belanda. Padahal, ternyata ada orang-orang Jepang yang merupakan tahanan VOC dijadikan pasukan untuk melawan Sultan Agung. "Background lukisan pertempuran tersebut adalah gedung terbakar yaitu Museum Sejarah Jakarta, tempat menyimpan lukisan yang asli," imbuhnya.

Sudjojono juga menggambar sketsa sebuah bivak untuk tempat istirahat pasukan Sultan Agung. Sudjojono bahkan melakukan riset terkait pakaian yang dikenakan Sultan Agung dan JP Coen saat berperang, termasuk sandal, blangkon, hingga ikat kepala.

"Pak Sudjojono tidak menggambarkan satu tetes darah pun dalam pertempuran itu karena beliau punya jiwa nasionalisme tinggi," ungkapnya.

Sedangkan sketsa untuk lukisan bagian ketiga hanya satu buah. Sketsa tersebut digambarkan pertemuan antara Kiai Rangga dan JP Coen terjadi di dalam ruangan. Namun, dalam lukisan justru pertemuan terjadi di Pelabuhan Sunda Kelapa. Pertemuan itu masih menjadi sejarah yang simpang siur kebenarannya.

Namun, Sudjojono meyakini adanya pertemuan Kiai Rangga dan JP Coen. Sofyan menambahkan, pameran bertujuan salah satunya untuk mengajukan lukisan tersebut menjadi Benda Cagar Budaya (BCB). Namun, syarat BCB usia benda minimal 50 tahun. Sedangkan lukisa tersebut baru berusia 48 tahun.

"Ke-38 sketsa Pak Sudjojono ini pertama kali ditampilkan di Indonesia secara lengkap. Sebelumnya pernah ditampilkan tapi hanya 14 sketsa saat peringatan 100 tahun Pak Sudjojono," ujar dia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement