Kamis 02 Dec 2021 08:57 WIB

Kasus DBD Yogya Turun, Warga Tetap Diminta Waspada

Masuknya musim hujan yang menjadi salah satu penentu faktor risiko DBD.

Rep: Silvy Dian Setiawan/ Red: Fernan Rahadi
Petugas mengasapi kawasan untuk memberantas nyamuk Aedes Aegypti di pemukiman dan mencegah Demam Berdarah Dengue (DBD) (ilustrasi).
Foto: Antara/Iggoy el Fitra
Petugas mengasapi kawasan untuk memberantas nyamuk Aedes Aegypti di pemukiman dan mencegah Demam Berdarah Dengue (DBD) (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Yogyakarta menyebut kasus demam berdarah dengue (DBD) turun. Berdasarkan data Dinkes Kota Yogyakarta hingga November 2021 ini sudah tercatat 74 kasus DBD dengan satu kasus meninggal dunia.

Kepala Dinkes Kota Yogyakarta, Emma Rahmi Aryani mengatakan, jumlah kasus yang dilaporkan tersebut turun dibanding tahun sebelumnya. Pada 2020, tercatat 296 kasus DBD di Kota Yogyakarta.

Namun, ia tetap mengingatkan agar masyarakat tetap waspada terhadap DBD. "Kasus DBD di Yogya sangat turun, tapi harus tetap waspada. Terutama di musim hujan ini ada genangan-genangan air yang bisa jadi sarang nyamuk," kata Emma di Yogyakarta, Rabu (1/12).

Emma menuturkan, penurunan kasus DBD secara signifikan ini, dikarenakan adanya program nyamuk ber-Wolbachia. Program ini dinilai berhasil dalam menekan DBD di Kota Yogyakarta.

 

"Bakteri Wolbachia yang dimasukan dalam nyamuk Aedes Aegypti pembawa DBD bisa menekan penyakit itu. Ada program Wolbachia yang bisa memandulkan nyamuk itu cukup berhasil," ujar Emma.

Selain itu, pandemi Covid-19 juga dinilai berdampak positif dalam menekan penyakit yang menyangkut perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), termasuk DBD. Pasalnya, selama pandemi masyarakat diminta untuk menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19, salah satunya mencuci tangan menggunakan sabun.

Dengan protokol kesehatan ini, juga dapat menghambat kasus DBD. "Selama pandemi Covid-19, PHBS masyarakat meningkat, sehingga penyakit-penyakit terkait perilaku hidup bersih seperti diare dan DBD juga menurun," jelasnya.

Sementara itu, Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinkes Kota Yogyakarta, Endang Sri Rahayu mengatakan, satu kasus DBD yang dilaporkan meninggal dunia terjadi pada Januari 2021 lalu. Meskipun secara tahunan kasus DBD menurun, Endang menyebut, kasus DBD yang tercatat selama November mengalami sedikit kenaikan dibanding bulan-bulan sebelumnya di 2021.

Hal ini dikarenakan masuknya musim hujan yang menjadi salah satu penentu faktor risiko DBD. Untuk itu, masyarakat diimbau untuk melakukan antisipasi agar kasus DBD tidak meningkat.

"Tetap lakukan pemberantasan sarang nyamuk dan empat M seperti menguras bak mandi, menutup tempat air, membersihkan barang-barang bekas yang bisa menampung air serta saluran air," kata Endang.

Endang juga meminta agar masyarakat segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan (faskes) jika mengalami gejala DBD. Terutama saat tubuh sudah mengalami demam tinggi dan dengan kondisi demam yang naik turun.

"Masa demam harus diperhatikan dan dihitung berdasarkan jam sejak awal pertama mengalami demam," ujarnya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement